Ilustrasi
PanturaNews (Tegal) - Puluhan mahasiswa Universitas Pancasakti (UPS) Kota Tegal, Jawa Tengah, yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Tertindas (AMT) menggelar aksi unjuk rasa tolak kenaikan biaya Satuan Kredit Semesta (SKS), Kamis 19 Mei 2011.
Aksi unjuk rasa dengan orasi dilakukan di depan kantor rektorat. Setelah berorasi, tidak lama kemudian sejumlah perwakilan mahasiswa diberi kesempatan untuk audensi dengan perwakilan Yayasan Pancasakti dan wakil dari Rektor UPS.
Juru bicara AMT UPS Kota Tegal, Veri Aprilianto mengatakan mahasiswa menolak kenaikan biaya SKS dari Rp 45 ribu menjadi Rp 60 ribu per SKS. Akibat kenaikan itu, biaya per SKS dinilai terlalu mahal dibandingkan dengan daerah lain.
“Bisda dibandingkan dengan Universitas Semarang yang memiliki fasilitas yang lebih unggul dan memiliki nilai Upah Minimum Regional (UMR) sebesar Rp 950 ribu per bulan mampu memberikan biaya pendidikan yang murah yakni 45 ribu rupiah untuk satu SKS,” kata Veri.
Lebih jauh dikatakan, kenaikan biaya per SKS di UPS Kota Tegal sangat ironis. Pasalnya, fasilitas pendidikan yang disediakan UPS tidak sebanding dengan besarnya biaya SKS. Selain itu, besarnya UMR di Kota Tegal hanya Rp 731 ribu per bulan, Hal tersebut dianggap tidak sesuai dengan kondisi keuangan mahasiswa dan tidak manusiawi.
Mmenanggapi hal ini ketua yayasan UPS Tegal H Imawan Sugiarto SH mengatakan, usulan kenaikan biaya per SKS berasal dari rektorat. Aalasan usulan kenaikan biaya SKS salah satunya guna menopang pemenuhan sarana dan pra sarana kampus. Selain itu, penerapan kenaikan biaya SKS akan diberlakukan pada penerimaan Mahasiswa baru bukan pada mahasiswa lama. Namun demikian, akibat timbulnya gejolak protes mahasiswa maka dalam waktu dekat akan digelar rapat koordinasi antara rektorat dengan pihak Yayasan
“Protes mahasiswa akan dijadikan bahan pertimbangan pembahasan yang akan kami lakukan dengan pihak rektorat. Semoga nanti bias dicapai solusi terbaik,” tegas Imawan