H Harun Abdimanaf SH (Foto: Gaharu)
PanturaNews (Tegal) - Tersendatnya pengembangan pariwisata di Kota Tegal, Jawa Tengah, sangat berbanding terbalik dengan kondisi sumber daya alam (SDA) yang berada pada posisi strategis. Hal tersebut mengakibatkan terpuruknya pendapatan daerah (PAD) dari sektor yang diharapkan mampu menyuplai pendapatan daerah tertinggi.
Menanggapi hal itu, anggota Komisi I DPRD Kota Tegal dari Fraksi PAN Peduli Rakyat, H Harun Abdimanaf SH menegaskan, Pemkot Tegal harus gandeng investor untuk membenahi sektor pariwisata.
“Posisi sumber daya alam Kota Tegal terletak pada posisi yang sangat luar biasa, strategis, namun Pemkot belum maksimal menggarap sektor pariwisata. Untuk mewujudkan sektor pariwisata yang optimal, hendaknya Pemkot menggandeng investor guna lakukan pengembangan,” kata Harun, Senin 21 Maret 2011.
Menurut Harun, pengembangan sektor pariwisata yang dimaksudkan adalah seperti yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan, Jawa Timur. Lamongan mampu menciptakan sektor pariwisata menjadi komoditi andalan dalam meraup pendapatan daerah. Dari Pendapatan Asli Dearah (PAD) Rp 1,4 Triliun, sektor wisata berhasil menyumbang pendapatan sebesar Rp 14 Miliar atau 10 persen PAD.
“Secara geografis, Kota Tegal memiliki kesamaan dengan Kabupaten Lamongan. Sebab merupakan wilayah pantai yang jadi andalan wisata. Sehingga kalau serius, maka Kota Tegal juga bisa meniru Kabupaten Lamongan. Wisata pantai di Kabupaten Lamongan, dengan model ancol mini bisa mendongkrak PAD. Semua fasilitas yang ada di Ancol, ternyata ada disana. Namun tidak dikelola pemerintah sendiri, wisata pantai dikelola investor. Pendapatan bersih dari sektor ini, ternyata bisa mencapai Rp 14 miliar," kata Harun.
Dijelaskan Harun, agar bisa lebih maksimal, seharusnya Kota Tegal tak hanya mengembangkan tanah milik Pelindo, tapi pengembangan wisata dikembangkan di tanah milik Pemkot. Yakni, pantai Muarareja. Namun agar tidak membebankan APBD, pengembangan wisata dengan menggandeng Investor. Apalagi pantai Muarareja sangat strategis, selain dekat dengan akses Jalur Lingkar Utara (Jalingkut), juga berada di perbatasan dengan Kabupaten Brebes.
"Kalau melihat pendapatan dari sektor wisata, kami cukup prihatin karena hanya sekitar Rp 1 miliar. Sehingga kalau dihitung dari PAD Kota Tegal, yakni Rp 480 miliar, maka pendapatan sektor wisata kurang dari 1 persen, padahal masih banyak potensi yang bisa dikembangkan. Kalau Kabupaten Lamongan saja bisa, kenapa Kota Tegal tidak bisa," jelas Harun.
Ditambahkan Harun, selama ini sektor pendapatan wisata hanya minoritas, tapi yang jadi andalan justru pendapatan dari sektor rumah sakit, pasar dan pajak. Sehingga hasilnya selalu stagnan, berbeda dengan sektor wisata kalau dikelola maksimal pendapatannya akan terus bertambah.
"Dengan kondisi semacam ini, kami optimis pendapatan sektor wisata Kota Tegal bisa jadi andalan. Asalkan digarap secara serius, tidak setengah-setengah," tandas Harun.