Wakil Bupati Brebes, H. Agung Widyantoro (Foto: SL Gaharu)
PanturaNews (Brebes) - Masyarakat diharapkan untuk tidak mudah terpancing dalam menghadapi isu-isu yang berbau Sara, khususnya yang menyangkut masalah agama. Demikian dikemukakan Wakil Bupati Brebes, Jawa Tengah, H. Agung Widyantoro, SH,MSi saat pada dialog interaktif bertemakan ‘Menumbuhkan Serta Menjaga Kerukunan Beragama Dalam Bingkai Negara Kesatuan, di gedung Korpri Brebes, Kamis 17 Maret 2011.
Menurut Agung, di beberapa daerah di tanah air, isu agama saat ini banyak menjadi pemicu terjadinya kerusuhan yang tidak hanya merugikan kelompok masyarakat tertentu namun meluas menjadi persolan bangsa. Karena itu, pihaknya menghimbau agar iklim kondusif yang telah tercipta selama ini, khususnya di wilayah Kabupaten Brebes dapat terus terjaga agar cita-cita dan harapan untuk membangun Kabupaten Brebes menjadi lebih maju, sejahtera dan berkeadilan dapat segera terwujud.
"Kami juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada segenap masyarakat Brebes, khususnya jajaran TNI-Polri yang aktif membantu terjaganya iklim kehidupan bergama yang aman dan kondusif," ujarnya.
Sementara itu, KH. Ahmad Tohari yang hadir sebagai pembicara awal menyampaikan, bahwa ada dua hal utama yang menjadi fokus terciptanya kerukunan umat beragama. Pertama umat beragama perlu merenungkan kembali konsep pengembangan agama yang selama berabad-abad menjadi dasar penyebaran agamanya.
"Artinya perlu pemikiran yang lebih modern dan dinamis dalam mengembangkan sikap toleransi beragama. Kedua dari sudut pandang budaya bahwa agama sebagai ageman artinya agama sebagai pedoman, keyakinan, sehingga kita tidak bisa dipaksakan pihak lain," kata pengarang mega novel Ronggeng Dukuh Paruk yang juga keluarga Besar Ponpes Al-Falah Jatilawang Banyumas ini.
Sedangkan KH. Subkhan Makmun mengatakan, sebagai umat beragama hendaknya menjauhkan diri dari sikap takabur (sombong) dan hasut. Karena, dua sifat inilah yang membuat orang menjadi tidak bisa menerima hidayah atau kebaikan karena sudah merasa diri dan keyakinan-nya lah yang paling benar, sehingga mendorong orang untuk bersikap dan bertindak destruktif karena beranggapan bahwa keyakinan orang lain salah dan keliru.
"Pada intinya, Islam memang mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang haq dan benar namun islam tidak pernah menganjurkan pada umatnya untuk berbuat anarki atau menyakiti kaum yang lain,” ujarnya.
Sedangkan, Pendeta Henry Butarbutara yang ikut menjadi nara sumber dalam dialog interaktif tersebut menyampaikan, bahwa perbedaan (pluralism) itu indah, bila orang mau mengerti dan memahami arti berbeda.
"Tiada orang yang diciptakan sama. Tuhan menciptakan perbedaan agar hidup menjadi lebih berwarna dan bermakna," ungkapnya.