Kordinator FMPD, Hamimatul Umayah SPd serahkan parsel berisi pakain dalam wanita kepada ketua BPD Pruwatan, Subhan Amin BA. (Foto: Zaenal Muttaqin)
PanturaNews (Brebes) – Warga protes atas kinerja pemerintahan desa yang dianggap semrawut dan berjalan timpang. Kepala Desa (Kades) melakukan penyimpangan, sementara Badan Permusyawaratan Desa (BPD) seperti banci (Waria), tidak bisa menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakatnya.
Warga benar-benar marah dan tidak puas dengan kinerja pemerintahan desanya. Karena itu, Forum Masyarakat Peduli Desa (FMPD) Pruwatan, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menunjukkan protes kerasnya dengan menghadiahi parsel berisi pakaian dalam wanita (BH) atau kutang, Jumat 04 Maret 2011 dalam forum audiensi yang digelar di Aula Kecamatan Bumiayu.
Parsel diberikan langsung oleh Kordinator FMPD, Hamimatul Umayah SPd kepada Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Pruwatan, Subhan Amin BA. FMPD juga melontarkan kritik penyimpangan yang dilakukan Kepala Desa yang kadang mangkir tugas. Termasuk pengelolaan banda desa, seperti tanah bengkok yang tidak jelas.
"Parsel pakaian dalam wanita sengaja kami berikan untuk BPD, yang selama ini kami anggap banci, tidak bisa menampung dan menyalurkan aspirasi kami atas kesemrawutan pemerintah desa," kata Hamimah.
FMPD tidak puas dengan ketimpangan Pemerintah Desa, sementara BPD tidak bisa menyalurkan aspirasi warga secara baik. Beberapa penyimpangan diduga dilakukan oleh Kepala Desa Pruwatan, sehingga menimbulkan banyak masalah dan pembangunan desa tidak berjalan secara baik.
"Kami punya data ketidakberesan pemerintah desa," tandas Hamimatul dalam forum audiensi yang dipimpn langsung Camat Bumiayu, Eko Purwanto BA SIP.
Dikatakan, beberapa penyimpangan yang dilakukan pemerintah desa diantaranya, Kepala Desa kadang mangkir tugas, kekokosongan perangkat tidak segera diisi yang menyebabkan pelayanan tidak maksimal, pengelolaan dana bantuan yang tidak transparan.
"Termasuk juga pengelolaan banda desa, seperti tanah bengkok yang tidak jelas sehingga desa tidak pernah memiliki kas," tutur Hamimatul.
Ketua BPD Pruwatan, Subhan Amin BA menanggapi kritik dari FMPD, parsel pakaian dalam tetap diterimanya sebagai simbul keterbukaannya dalam menerima kritik tersebut. Selanjutnya, BPD akan terus melakukan tugas dan fungsinya lebih baik lagi. "Kami tidak marah, kami justru bangga dengan adanya aksi dan hadiah ini," ujarnya.
Menurutnya, selama ini lembaganya sudah berusaha proaktif memberikan masukan ke Kepala Desa. Adanya kekosongan perangkat desa juga sudah diingatkan, agar Kades segera membentuk dan segera melakukan penjaringan calon perangkat desa. "Kami sudah pro aktif, tapi Kades yang seringnya tidak menanggapi," kilah Subhan.
Sementara Kades Pruwatan, Agus Kusworo SH yang dalam forum audiensi menjadi sasaran utama kritikan FMPD, nampak tenang menanggapinya. Dia mengakui banyak kelemahan atas kinerjanya sebagai Kades, tapi membantah telah melakukan penyelewengan.
"Kami memang banyak kekurangan dan keterbatasan, tapi bukan berati kami melakukan penyelengan. Selama ini kami berusaha memberikan yang terbaik untuk warga, kami juga tidak pernah mangkir tugas seperti yang dituduhkan tadi," terang Agus.
Karena keterbatasan waktu, audiensi dihentikan dan rencananya akan dilanjutkan pada kesempatan yang belum ditentukan. Hadir dalam acara itu, lebih dari 50 peserta yang terdiri dari unsur warga, tokoh masyarakat dan perangkat Desa Pruwatan. Hadir pula unsur Muspika Kecamatan Bumiayu.