Jumat, 25/02/2011, 02:07:00
Tak Ada Sumber Air Bersih, 40 Tahun Warga Gunakan Air Sungai
KN-Kuntoro

Kepala Desa Kubangsari, Tarlan Kurniawan AM,Pd.

PanturaNews (Brebes) – Lebih dari 40 tahun, warga Pedukuhan Wangon, Desa Kubangsari, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, merindukan air bersih. Mereka merasa tidak seperti layaknya masyarakat yang telah merdeka. Selama ini kebutuhan air,

mengambil dari sungai atau aliran irigasi yang disuplai oleh musim penghujan. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dari mencuci, mandi bahkan untuk air minum.

Darpi (35), warga Dukuh Wangon, Kamis 24 Februari 2011 sore, mengatakan saat musim penghujan dirinya masih bisa mengambil air di sungai dan ditampung di dalam kolam yang sengaja dibuat untuk pengendapan. Namun disaat musim kemarau, dirinya harus berjalan sejauh 5 kilometer untuk mendapatkan air bersih yang layak dikonsumsi.

“Air yang diambil dari sungai, kami endapkan dulu di kolam penampungan, kemudian kami rebus untuk air minum dan masak,” tutur Darpi.

Dia dan keluarganya, juga tidak merasa risih atau sakit-sakitan selama menggunakan air sungai yang keruh tersebut. Hal itu terpaksa dilakukan karena tidak adanya air bersih yang dibutuhkannya. “Selama ini kebutuhan air bersih sangat memprihatinkan. Belum ada perhatian dari pemerintah daerah. Sudah lama saya mendambakan adanya air bersih untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Kepala Desa Kubangsari, Tarlan Kurniawan AM,Pd mengatakan, warga saat ini tertolong oleh musim penghujan. Itupun bagi mereka yang berekonomi menengah keatas, yaitu dengan membangun kolam penampungan air.

“Bagi warga yang mampu, mereka membuat kolam penampung air. Kolam tersebut difungsikan untuk mengendapkan air yang akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Terutama kebutuhan untuk memasak dan air minum,” terang Tarlan.

Dijelaskan Tarlan, kesulitan air bersih di wilayah yang jumlah penduduknya mencapai 2.255 jiwa, diakibatkan karena kondisi tanah yang mengandung unsur Bentanik. Yaitu, unsur tanah yang mengandung minyak dan mempunyai sifat berlawanan dengan air. Hal itu berdasarkan penelitian seorang ahli dari Unifersitas Trisakti, Jakarta saat observasi pembuatan Jalan Tol Kanci-Pejagan.

“Sudah pernah dicoba lakukan pengeboran pada tahun 2009 dengan menggunakan dana aspirasi dari anggota DPRD Brebes Fraksi PDI Perjuangan dengan nilai proyek Rp 50 juta, namun sampai kedalaman 82 meter tidak juga keluar air,” ucap Tarlan.

Bahkan, lanjut Tarlan, sampai sekarang proyek tersebut mangkrak dan tidak diketahui kejelasannya. Hanya menyisakan sebuah tower, dua cembung merah penguin, dan satu buah pompa air. “Saat ini dengan dana swadaya Rp 90 jutakami mencoba lagi membuar sumur bor, tapi kedalaman sudah lebih dari 120 meter ternyata air masih juga belum keluar,” tambahnya.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita