Para wartawan yang dituduh menerima suap oleh salah satu demonstran, marah sehingga terjadi bentrok (Foto: Kuntoro)
PanturaNews (Brebes) – Dituduh menerima suap, puluhan wartawan bentrok dengan para pendemo, Rabu 19 Januari 2011 siang di halaman Pengadilan Negeri (PN) Brebes, Jawa Tengah. Beruntung puluhan petugas Dalmas dari Polres Brebes yang mengamankan jalannya aksi unjuk rasa, melerainya sehingga bentrokan tidak berkepanjangan.
Keributan dipicu oleh pernyataan salah satu kordinator lapangan yang menuding wartawan liputan PN telah menerima suap, sehingga aksi-aksi mereka selama ini tidak pernah muncul di pemberitaan media cetak maupun elektronik.
Tidak terima dengan tuduhan tersebut, puluhan wartawan cetak dan elektronik yang sedang meliput berang dan sempat bersitegang. Setelah beberapa saat terjadi adu mulut, tiba-tiba, Kontributor Indosiar, Kuncoro Widjayanto, menarik oknum yang menuduh wartawan menerima suap dari kerumunan massa.
Kuncoro bermaksud mengklarifikasi tuduhan suap itu, namun massa yang merupakan warga Desa Luwunggede, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mengira rekannya akan dianiaya para wartawan yang sedang marah.
“Tadi saya bermaksud mengklarifikasi pernyataannya yang menuduh wartawan menerima suap, ada bukti atau tidak. Karena hal tersebut sudah menyinggung profesi, sehingga kami pantas meminta pertanggungjawaban atas pernyataan tersebut,” tutur Kuncoro.
Massa yang berdatangan tersebut rencananya akan melakukan aksi pada persidangan Mantan Kepala Desa Luwunggede, Hasmi Ananto. Mereka merasa kecewa atas pembacaan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Brebes pada persidangan 12 Januari 2011 lalu. Hasmi menjadi terdakwa terkait penyelewengan dana ADD tahun 2007, 2008 dan 2009.
Sayang aksi tersebut diwarnai ulah oknum yang tidak simpati, dan menuduh wartawan menerima suap sehingga memicu terjadinya keributan.
Koordinator lapangan aksi demo, Imam Subekhi (35), atas nama warga Luwunggede meminta maaf kepada para wartawan. Menurut Imam, kejadian tersebut seharusnya tak terjadi kalau oknum tersebut tahu persoalan yang sebenarnya.
“Saya atas nama warga Luwunggede mohon maaf, karena dia (oknum–red) tidak tahu persoalannya. Saya sudah bicara dan memperingatkannya untuk tidak melakukan hal itu lagi. Sekali lagi mohon maaf, kalau hal tersebut menyinggung teman-teman wartawan,” tutur Imam.