Rabu, 01/12/2010, 15:50:00
Perajin Batik Salem Mulai Kembangkan Batik Lurik Brebesan
KN-Kuntoro

Warwin Sunardi (51) menunjukan batik lurik khas Salem yang saat ini banyak diminati masyarakat pencinta batik. (FT: Kuntoro)

PanturaNews (Brebes) - Keberadaan Batik Salem yang merupakan kerajinan khas Brebes, saat ini semakin banyak dilirik oleh para konsumen. Pasalnya, para pengrajin sudah semakin banyak mengembangkan motif-motif baru, salah satunya Batik Lurik yang sedang booming di pasaran.

Salah satu pengrajin batik asal Desa Bentar Sari, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Warwin Sunardi (51) mengatakan, keberadaan Batik Lurik saat ini semakin banyak diminati oleh masyarakat. Bahkan batik jenis tersebut sudah mulai dipakai sebagai baju dinas di beberapa pemerintahan daerah.

Melihat peluang pasar yang cukup itu, pihaknya saat ini mulai membuat Batik Lurik khas Salem - Brebes. Warwin mengaku, batik lurik khas Salem memang belum lama dikembangkan. Namun karena motifnya yang cukup bagus, membuat batik jenis ini banyak diburu konsumen.

"Batik Lurik khas Salem memang baru muncul pertengahan November 2010. Namun hasilnya cukup membuat para pecinta batik terpikat. Terbukti, saat ini kami mulai kuwalahan menerima order," terang Warwin.

Tidak hanya dari Kabupaten Brebes sendiri, permintaan bahkan datang dari beberapa daerah seperti Cirebon, Semarang dan Jakarta. Warwin mengaku, batik lurik khas Salem memang mendapat apresiasi bagus dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Terbukti saat dirinya mengikuti pameran yang digelar di Pekalongan beberapa waktu lalu, Batik Lurik Salem langsung diborong oleh Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo.

Untuk motifnya sendiri, lanjut Warwin, batik lurik khas Salem memiliki ciri tersendiri. Garis-garis vertikal dengan tambahan motif bunga serta warnanya yang cerah, menjadikan batik ini cukup ideal untuk dijadikan baju dinas.

Selama ini, para perajin batik masih menghadapi kendala untuk memenuhi pesanan yang masuk. Produksi yang dihasilkan saat ini masih belum sebanding dengan order yang masuk. "Setiap hari saya hanya bisa memproduksi sekitar 30 potong, padahal permintaan jauh lebih tinggi," ujar Warwin.

Untuk itu, para perajin batik di Salem berharap Pemkab Brebes bisa membantu, khususnya untuk pengadaan alat produksi masal seperti halnya kompor elektrik dan gledeg. "Tidak hanya itu saja, Pemkab juga diharapkan bisa memberikan kesempatan pada perajin untuk mengikuti studi banding ke daerah lain terkait pengoperasian alat-alat tersebut," pintanya.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita