URBAN farming merupakan konsep pertanian yang dilakukan di wilayah perkotaan dengan memanfaatkan lahan terbatas seperti pekarangan rumah, atap bangunan, balkon, dinding vertikal, maupun ruang kosong di sekitar permukiman. Konsep ini menjadi solusi atas keterbatasan lahan pertanian di perkotaan sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat.
Hidroponik sangat sesuai diterapkan dalam urban farming karena tidak memerlukan tanah, penggunaan air lebih efisien, serta dapat disusun secara vertikal sehingga mampu memaksimalkan pemanfaatan ruang.
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar pada sektor pertanian, salah satunya melalui penerapan Internet of Things (IoT) Teknologi ini memungkinkan berbagai perangkat saling terhubung melalui internet sehingga proses pemantauan dan pengendalian dapat dilakukan secara otomatis dan jarak jauh (Hidayat,2022).
Dalam budidaya hidroponik, penerapan IoT mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air, nutrisi, dan tenaga kerja sekaligus menjaga kualitas pertumbuhan tanaman. Sistem otomasi hidroponik DFT bekerja dengan mengintegrasikan sensor, mikrokontroler, aktuator, dan aplikasi pemantauan. Sensor membaca kondisi lingkungan dan larutan nutrisi, kemudian data diproses oleh mikrokontroler.
Jika ditemukan kondisi yang tidak sesuai dengan nilai yang ditentukan, sistem secara otomatis mengaktifkan pompa, katup, atau perangkat lainnya. Seluruh data dapat dipantau melalui smartphone atau komputer menggunakan jaringan internet.
Salah satu metode hidroponik yang banyak digunakan adalah Deep Flow Technique (DFT). Sistem DFI memanfaatkan aliran larutan nutrisi dengan kedalaman tertentu sehingga akar tanaman tetap memperoleh air, nutrisi, dan oksigen secara optimal. Dengan menambahkan sistem otomasi berbasis IoT, pengelolaan hidroponik menjadi lebih mudah, akurat, dan efisien (Hadinata,2021).
Deep Flow Technique (DFT) merupakan salah satu metode budidaya hidroponik yang memanfaatkan aliran larutan nutrisi dengan kedalaman sekitar 2–5 cm di dalam pipa atau talang.
Berbeda dengan metode NFT (Nutrient Film Technique), pada sistem DFT akar tanaman tetap terendam sebagian di dalam larutan nutrisi sehingga tanaman masih memperoleh suplai air ketika pompa berhenti sementara (Ridha, 2025). Metode ini dikenal lebih stabil terhadap gangguan listrik dan cocok diterapkan pada berbagai jenis sayuran seperti selada, pakcoy, kangkung, dan sawi.
Internet of Things (IoT) merupakan konsep yang menghubungkan berbagai perangkat elektronik melalui jaringan internet sehingga mampu melakukan pengumpulan data, pemantauan, dan pengendalian secara real-time.
Dalam bidang pertanian, IoT banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air, nutrisi, energi, serta mengurangi ketergantungan terhadap pemantauan manual. Penerapan IoT pada hidroponik memungkinkan kondisi pH, suhu, tinggi air, dan konsentrasi nutrisi dipantau melalui telepon pintar maupun computer (Linelson,2025).
ESP32 merupakan mikrokontroler yang banyak digunakan pada sistem IoT karena telah dilengkapi dengan modul Wi-Fi dan Bluetooth. ESP32 mampu mengolah data dari berbagai sensor, mengendalikan aktuator seperti pompa dan relay, serta mengirimkan data ke platform IoT secara real-time. Karakteristik tersebut menjadikannya pilihan yang ekonomis dan andal untuk sistem otomasi hidroponik (Ferdiansyah, 2025)
Keberhasilan budidaya hidroponik dipengaruhi oleh kestabilan beberapa parameter, antara lain: - Sensor pH untuk mengukur tingkat keasaman larutan nutrisi. - Sensor TDS/EC untuk mengetahui konsentrasi nutrisi. - Sensor suhu air untuk menjaga kondisi larutan tetap optimal. - Sensor ultrasonik atau water level untuk memantau ketinggian air. - Sensor suhu dan kelembapan udara untuk mengetahui kondisi lingkungan.
Integrasi sensor-sensor tersebut memungkinkan sistem melakukan pengendalian otomatis terhadap pompa nutrisi, pompa air, maupun penyesuaian pH sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lebih optimal.
Perkembangan pertanian presisi (precision agriculture) menunjukkan bahwa sistem hidroponik berbasis IoT memiliki prospek usaha yang sangat baik. Meningkatnya minat masyarakat terhadap urban farming, keterbatasan lahan pertanian, dan kebutuhan akan produksi pangan yang efisien mendorong permintaan terhadap sistem hidroponik otomatis.
Selain penjualan instalasi, peluang usaha juga dapat dikembangkan melalui jasa instalasi, pemeliharaan, pelatihan, serta layanan monitoring berbasis aplikasi.
(Daftar Pustaka: Ferdiansyah, V., Oktavia, S. A., Mulyanto, Y., & Yunanri. W. (2025). Rancang Bangun Prototype Sistem Monitoring dan Kontrol Tanaman Hidroponik Berbasis Internet of Things Menggunakan ESP32. Bulletin of Information Technology. -Hadinata, A., & Mashoedah. (2021). Internet of Things-based Hydroponic: Literature Review. Journal of Physics: Conference Series. -Hidayat, M. A. J., & Amrullah, A. Z. (2022). Sistem Kontrol dan Monitoring Tanaman Hidroponik Berbasis Internet of Things (IoT) Menggunakan NodeMCU ESP32. Jurnal Saintekom.
Linelson, R., & Saputri, F. R. (2025). Design of a Nutrient and Environment Monitoring IoT Device in Vertical Hydroponic System. Ultima Computing: Jurnal Sistem Komputer. -Ridha, Ula, M., & Yunizar, Z. (2025). Monitoring dan Pengendalian Sistem Hidroponik Deep Flow Technique (DFT) Menggunakan Metode Rule Based Berbasis Internet of Things. Jurnal Ilmiah Global Education.)