Selasa, 02/06/2026, 16:06:45
Padepokan Kalisoga Menjadi Ruang Dialog Kebangsaan dalam Sarasehan 81 Tahun Pancasila
Pancasila tidak cukup diperingati secara seremonial...
LAPORAN IWANG NIRWANA

Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said pada sarasehan bertajuk “81 Tahun Pancasila: Pancasila di antara Otoritas dan Legitimasi Kekuasaan” berlangsung di Padepokan Kalisoga, Larangan, Brebes. (Foto: Dok/Iwang)

SORE hari sinar mentari hangat-hangat kuku, angin berembus pelan dari hamparan sawah Desa Slatri, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, seakan membawa suasana berbeda ke Padepokan Kalisoga, Brebes.

Di antara rimbun pepohonan dan bangunan yang menyatu dengan lanskap pedesaan, bunyi gamelan dari kelompok karawitan Kalisoga mengalun lirih menyambut para tamu yang datang dari berbagai penjuru negeri.

Tempat yang sehari-hari menjadi ruang belajar, berkesenian, dan bertumbuhnya gagasan itu, sore hari menjelma menjadi panggung perjumpaan budaya sekaligus ruang dialog kebangsaan.

Senin, 01 Juni 2026 di Padepokan Kalisoga, halaman rumah joglo bernuansa outdoor dipadati masyarakat, akademisi, seniman, budayawan, mahasiswa, tokoh agama, pejabat pemerintahan, hingga politisi. Kehadiran mereka menghadirkan mozaik keberagaman yang mencerminkan wajah Indonesia itu sendiri.

Dari Flores, Jakarta, Tegal, Brebes, Bumiayu, hingga berbagai daerah lainnya, para peserta datang dengan latar belakang budaya, profesi, dan pandangan yang berbeda, namun dipertemukan oleh satu semangat yang sama: merawat nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa.

Di tengah suasana pedesaan yang teduh dan jauh dari hiruk-pikuk kota, sarasehan bertajuk “81 Tahun Pancasila: Pancasila di antara Otoritas dan Legitimasi Kekuasaan” berlangsung pada pukul 16.00–18.30 WIB.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi forum akademik untuk membahas hubungan antara kekuasaan dan nilai-nilai kebangsaan, tetapi juga menjadi ruang kebudayaan yang mempertemukan berbagai ekspresi intelektual, seni, dan pengalaman sosial dalam satu percakapan yang setara.

Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, selaku penggagas kegiatan menegaskan bahwa sarasehan ini sengaja dibuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Menurutnya, Pancasila tidak cukup diperingati secara seremonial, melainkan harus terus didiskusikan, ditafsirkan, dan dihidupkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Ia juga menyampaikan harapannya, agar nilai-nilai Pancasila diwujudkan terlebih dahulu oleh para pemimpin dan pengelola ruang publik.

“Saya sebagai anak desa terhadap segala nilai Pancasila punya satu pengharapan. Mungkin saja kalau pengurus negara di berbagai level atau pengurus publik mengamalkan saja satu nilai, yakni menjadi teladan; menjadi orang yang paling bertuhan, paling berperikemanusiaan, menjaga persatuan, menjaga demokrasi, serta berjuang setengah mati mewujudkan keadilan. Saya pikir negara ini dapat melompat meninggalkan berbagai masalah yang kita hadapi.”

Nuansa kebudayaan terasa kuat bahkan sebelum diskusi dimulai. Para hadirin terlebih dahulu diajak menyelami refleksi kebangsaan melalui pementasan puisi “Cermin” karya Abu Ma'mur MF yang dibawakan langsung oleh Abu Makmur dan diiringi seruling,  karinding dan octarina khas oleh Jimmy HC yang menambah suasana dibawah pohon asem terasa syahdu.

Pertunjukan tersebut menghadirkan suasana hening sekaligus kontemplatif, mengingatkan bahwa Pancasila bukan hanya dokumen kenegaraan, melainkan cermin etika yang senantiasa menguji arah perjalanan bangsa.

Salah satu bagian puisi yang mendapat perhatian hadirin berbunyi:

“Di dalam penghormatan kepada manusia,

persatuan yang tidak memaksa keseragaman,

musyawarah yang memberi ruang bagi perbedaan,

dan keberanian mengoreksi diri

ketika sedang memegang kuasa.”

Petikan tersebut seolah menjadi benang merah keseluruhan acara. Kehadiran peserta dari berbagai suku, agama, komunitas, profesi, dan latar budaya memperlihatkan bagaimana keberagaman dapat bertemu dalam suasana yang saling menghormati. Nilai Persatuan Indonesia tidak diwujudkan melalui penyeragaman, melainkan melalui kesediaan untuk mendengar, berdialog, dan menghargai perbedaan.

Sarasehan menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi, tokoh publik, dan pemerintahan. Dari dunia akademik hadir Taufiqurrohman Syahuri, Guru Besar Hukum Tata Negara UPN Veteran Jakarta; Otto Gusti N. M. selaku Rektor IFTK Ledalero Flores; serta Leo Kleden. Hadir pula Sutarmin dari Universitas Peradaban Bumiayu dan Roby Setiadi dari Universitas Muhadi Setiabudi Brebes.

Dalam pemaparannya, Prof. Taufiqurrohman Syahuri menegaskan bahwa ancaman terbesar terhadap Pancasila bukanlah mereka yang secara terbuka menolak Pancasila, melainkan mereka yang mengaku Pancasilais tetapi perilakunya bertentangan dengan nilai-nilai yang dikandungnya.

“Musuh sesungguhnya Pancasila adalah mereka yang mengaku Pancasilais tetapi perilakunya tidak mencerminkan karakter Pancasila, seperti koruptor. Itulah musuh sebenarnya dari Pancasila,” tegasnya.

Dari unsur pemerintahan dan legislatif hadir pula Tazkiyyatul Muthmainnah, Wakil Wali Kota Tegal, bersama Djoko Gunawan serta anggota DPR RI Abdul Fikri Faqih yang turut menjadi narasumber.

Lebih dari sekadar forum diskusi, Sarasehan 81 Tahun Pancasila di Padepokan Kalisoga memperlihatkan bagaimana kebudayaan dapat menjadi jembatan yang mempertemukan beragam identitas dalam satu ruang kebangsaan. Melalui dialog, seni, musik, dan sastra, nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial tidak hanya dibicarakan, tetapi juga dihadirkan secara nyata dalam perjumpaan antarmanusia.

Di tengah senja yang perlahan turun di kaki perbukitan Slatri, Padepokan Kalisoga kembali menegaskan perannya bukan hanya sebagai ruang pendidikan, melainkan juga sebagai rumah kebudayaan tempat gagasan, kesenian, dan nilai-nilai kebangsaan bertemu untuk merawat Indonesia yang majemuk.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita