Minggu, 03/05/2026, 14:47:09
Buntut Orang Tua Kritis di Medsos, Siswa SD di Pemalang Diduga Jadi Korban Bully Guru
.
LAPORAN TIM PANTURANEWS

PanturaNews (Pemalang) — Seorang siswa kelas 1 sekolah dasar berinisial S (9) di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, dilaporkan mengalami trauma hingga enggan bersekolah selama dua bulan terakhir. 

Hal ini diduga merupakan buntut dari sikap kritis orang tuanya yang memprotes kebijakan sekolah di media sosial.

Ayah siswa, Arsyad Tugimin (40), menduga anaknya menjadi sasaran perundungan (bullying) oleh oknum guru setelah dirinya mengunggah konten terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta kritikan soal pungutan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan infak di sekolah negeri.

"Tujuan saya hanya mengedukasi. Saya tidak ingin ada hal yang tidak sesuai aturan terjadi di sekolah," ujar Arsyad saat ditemui di rumahnya di Desa Banjaranyar, Sabtu (2/5).

Intimidasi Lewat Pengeras Suara

Arsyad menceritakan, setelah unggahannya viral, ia sempat dipanggil pihak sekolah dan terlibat adu argumen dengan kepala sekolah. Puncaknya, sang anak merasa tidak nyaman berada di lingkungan sekolah karena diduga mendapat perlakuan diskriminatif dari tenaga pendidik.

Menurut pengakuan Arsyad, anaknya berkali-kali dipanggil oleh guru menggunakan nama orang tuanya bukan nama aslinya, bahkan melalui pengeras suara sekolah.

"Anak saya bilang malu dan tidak mau sekolah lagi karena sering dipanggil dengan nama saya (Arsyad)," ucapnya. Akibat tekanan psikologis tersebut, S kini sudah tidak masuk sekolah sejak 24 Februari 2026.

Pembelaan Pihak Sekolah

Merespons tudingan tersebut, Kepala SDN 1 Banjaranyar, Sri Umbartiningsih, memberikan klarifikasi. Ia membantah adanya tindakan perundungan yang disengaja untuk menyudutkan siswa. Menurutnya, pemanggilan nama orang tua tersebut adalah bagian dari metode "pembinaan".

"Itu awalnya anak yang bersangkutan justru membully temannya. Terus kita beri pembinaan untuk tidak memanggil nama anak dengan nama orang tuanya. Namun, pembinaan yang saya contohkan ternyata dimaknai berbeda," kata Sri.

Sri juga menegaskan tidak pernah mengeluarkan siswa tersebut secara resmi. Ia mengklaim pihak sekolah telah berupaya melakukan mediasi dan kunjungan rumah (home visit), namun orang tua siswa tidak hadir.

Laporan Masuk ke Kepolisian

Tak terima dengan perlakuan yang diterima anaknya, Arsyad telah resmi melaporkan dugaan perundungan ini ke Polres Pemalang sejak awal Maret lalu.

Kapolres Pemalang, AKBP Rendy Setia Permana, mengonfirmasi bahwa penyelidikan tengah berjalan. Pihak kepolisian telah melakukan klarifikasi terhadap sejumlah saksi dan menjadwalkan pemeriksaan terhadap pihak terlapor.

"Sudah dilakukan klarifikasi saksi-saksi dan rencana hari Sabtu ini melakukan klarifikasi terhadap terlapor," tegas Rendy.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita