Minggu, 05/04/2026, 08:45:22
Tumplek Ponjen, Mawiti Cinta: dr Setiawan Kautsar dan Rizqa Nur Kusumah
MEMBANGUN KELUARGA SAMARO
LAPORAN IWANG NIRWANA

Tradisi tumplek ponjen pernikahan dr. Wawan Setiawan Kautsar dan Rizqa Nur Kusumah, SH, MKn di kediaman Bapak Wiryo dan Ibu Juriyah di Dukuh Bandar, Desa Pakijangan, Bulakamba, Kabupaten Brebes. (Foto: Dok/Iwang)

SUASANA hangat penuh kekeluargaan menyelimuti resepsi pernikahan dr. Wawan Setiawan Kautsar dan Rizqa Nur Kusumah, SH, MKn, Kamis Wage (2/4/2026), di kediaman Bapak Wiryo dan Ibu Juriyah, RT 003 RW 009 Dukuh Bandar, Desa Pakijangan, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes.

Di tengah rangkaian adat dan doa restu, satu prosesi yang menyita perhatian adalah tradisi tumplek ponjen ritual khas Jawa yang sarat makna simbolik dan ekonomi. Pernikahan ini bukan sekadar menyatukan dua insan, tetapi juga menyatukan dua keluarga besar dalam semangat membangun keluarga SAMARO (sakinah, mawaddah, warahmah).

Kepala Puskesmas Kaligangsa Kota Tegal, dr. Rini Marini, yang hadir bersama rekan kerja, menyampaikan harapannya agar kedua mempelai mampu mengarungi bahtera rumah tangga dengan kesabaran, saling memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing.

“Profesi dokter dan notaris sama-sama menuntut ketelitian, keseriusan, dan keikhlasan. Semoga nilai-nilai profesional itu juga menjadi fondasi dalam rumah tangga,” ujarnya dengan nada hangat, sembari berseloroh agar sang istri tak mudah cemburu karena pasien dokter banyak yang perempuan. Doa pun dipanjatkan agar keduanya segera dikaruniai momongan yang saleh dan salehah.

Namun yang paling menguatkan akar budaya dalam pernikahan ini adalah prosesi tepok ponjen dan poyanan. Dalam tradisi masyarakat pedesaan Jawa, ketika pengantin perempuan adalah anak ragil (bungsu) dan pengantin laki-laki adalah putra pertama atau disebut tutup kendang, maka adat tumplek ponjen dilaksanakan.

Tradisi ini merupakan bentuk mawiti atau memberi modal awal bagi pasangan baru dalam membangun ekonomi keluarga. Kerabat dekat memberikan bantuan atau sumbangan sebagai simbol dukungan moral dan material. Nilai yang terkandung di dalamnya bukan sekadar pemberian materi, tetapi peneguhan bahwa membangun rumah tangga adalah kerja kolektif yang disangga kebersamaan.

Sehari sebelumnya, tausiah dari A’wan Syuriah PBNU, KH Subhan Ma’mun, turut memperkaya makna pernikahan. Pengasuh Ponpes Assalafiyah Desa Luwungragi itu berpesan agar pasangan tidak saling mengungkit masa lalu atau membandingkan satu sama lain. Ia juga mengingatkan pentingnya menjadikan Al-Qur’an, hadits, dan petunjuk ulama sebagai pedoman hidup.

KH Subhan bahkan mengajak hadirin mengubah narasi lama, “yen sedulur perek mambune tai, yen sedulur adoh mambune wangi,” menjadi prinsip hidup yang lebih arif: dekat maupun jauh, saudara tetap harus “mambune wangi” harum dalam akhlak dan sikap. Menurutnya, rumah tangga tak cukup dibangun dengan ilmu tinggi dan materi melimpah, tetapi harus dibalut akhlakul karimah.

Sementara itu, budayawan Pantura sekaligus mantan Kepala Desa Pakijangan dan mantan Kepala Humas dan Protokol Pemkab Brebes, Atmo Tan Sidik, menyampaikan pesan dengan seloroh sastra. Ia menekankan pentingnya “buku pesta dan cinta” yakni kemampuan mengelola ketegangan dengan humor dan keramahan.

“Utamakan keramahan, bukan kemarahan,” pesannya, disambut senyum para tamu.

Sebagaimana diketahui, dr. Wawan Setiawan Kautsar merupakan putra pertama dari Wiryo Zuhdi dan Ibu Juriyah, sementara Rizqa Nur Kusumah, SH, MKn adalah putri bungsu dari Bapak Muhammad Yusuf Hadis dan Ibu Warni Rasilan.

Melalui tradisi tumplek ponjen, keluarga besar menegaskan bahwa pernikahan bukan hanya tentang dua nama di buku nikah, melainkan tentang kesinambungan nilai, gotong royong, dan harapan masa depan.

Di tengah arus modernitas, tradisi ini menjadi pengingat bahwa akar budaya tetap relevan sebagai fondasi membangun keluarga yang kokoh, sejahtera lahir batin, hingga kebahagiaan dunia dan akhirat.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita