REALITAS hari ini memperlihatkan satu pemandangan yang hampir sama di banyak ruang keluarga: masing-masing orang sibuk dengan handphone di tangan. Percakapan digantikan notifikasi, kebersamaan berubah menjadi keheningan yang dipenuhi cahaya layar.
Fenomena inilah yang menjadi titik berangkat, sekaligus kegelisahan kreatif Muhamad Rudianto atau lebih akrab dengan sebutan Rudi Iteng dalam menulis naskah “Cahaya yang Padam”.
Berangkat dari pengamatan atas kehidupan sehari-hari tersebut, naskahnya berhasil menembus 10 besar Naskah Teater Jawa Tengah yang digagas Iniibubudi. Publishing dengan 3 kurator yakni Hanindawan, Luna Kharisma serta Asa Jatmiko.
Sebagai seniman yang dikenal publik melalui perannya dalam film Turah, Rudi kembali menunjukkan konsistensinya dalam mengolah tema-tema sosial menjadi karya yang reflektif. Jika dalam film ia terlibat dalam potret kehidupan masyarakat pinggiran, kali ini ia menghadirkan potret keluarga modern yang terhubung secara digital, namun kerap terputus secara emosional.
Naskah “Cahaya yang Padam” mengangkat realitas keluarga masa kini yang sibuk dengan dunia online. Cerita berpusat pada sebuah keluarga yang masing-masing anggotanya tenggelam dalam aktivitas digital: orang tua yang disibukkan pekerjaan berbasis daring, anak yang aktif di media sosial, hingga yang larut dalam permainan gim. Di tengah kesibukan virtual tersebut, muncul persoalan-persoalan personal yang tidak pernah benar-benar dibicarakan secara terbuka.
Melalui konflik yang dibangun secara bertahap, naskah ini memperlihatkan bagaimana jarak emosional dalam keluarga dapat tercipta bukan karena perbedaan ruang, melainkan karena hilangnya komunikasi yang hangat. “Cahaya” dalam naskah ini menjadi metafora tentang perhatian, kepedulian, dan kehadiran nyata yang perlahan meredup di tengah cahaya layar gawai.
Masuknya karya Rudi Iteng dalam 10 besar ini menjadi bukti bahwa karya yang lahir dari pembacaan jujur atas realitas sosial memiliki daya kuat di panggung kurasi. Naskah ini tidak hanya relevan secara tema, tetapi juga menghadirkan refleksi yang dekat dengan pengalaman masyarakat hari ini.
Pengumuman tersebut merupakan bagian dari program penerbitan dan kurasi naskah teater Jawa Tengah yang melibatkan tiga kurator. Dari 52 naskah yang masuk dari 20 kota dan 42 penulis, terpilih sepuluh karya terbaik yang dinilai memiliki kekuatan gagasan, kedalaman tema, serta relevansi dengan kondisi sosial masyarakat saat ini. Salah satu yang mencuri perhatian adalah karya Rudi Iteng. Prestasi ini menjadi kado bagi pria kelahiran 2 April ini.
Masuknya karya Rudi Iteng dalam 10 besar ini menjadi bukti bahwa pelaku seni Teater Kota Tegal terus berkembang dan responsif terhadap perubahan zaman. Setelah sebelumnya Yono Daryono menerima penghargaan anugerah kebudayaan Jawa Tengah sebagai pelopor seni teater dari Kota Tegal. Prestasi ini juga memperkuat posisi Rudi sebagai seniman lintas medium baik film maupun panggung teater yang tetap konsisten mengangkat realitas sosial sebagai napas utama karyanya.
Ke depan, naskah-naskah terpilih tersebut direncanakan akan diterbitkan dan diluncurkan pada tanggal 6 Mei 2026 di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah sebagai bagian dari upaya penyediaan naskah teater yang segar dan mutakhir di Jawa Tengah, sekaligus menjadi referensi bagi kelompok teater, festival, maupun institusi pendidikan.
Selamat kepada Rudi Iteng atas pencapaian ini. Semoga karya-karya berikutnya terus menghadirkan cahaya refleksi bagi masyarakat Teater Kota Tegal maupun masyarakat luas.