PanturaNews (Pemalang) - Setelah sekian lama tidak berjumpa dalam ruang-ruang yang hidup, para pelaku seni dari berbagai disiplin sastra, teater, film, dan tari akhirnya kembali duduk dalam satu lingkaran.
Kegiatan bertajuk KOPDAR 2026: Hidup atau Mati ini menjadi momentum reflektif sekaligus simbolik, menghadirkan ironi yang terasa nyata: seniman yang lama “tertidur” kini dipertemukan kembali menjelang Hari Raya Idul Fitri 1448 H, dalam suasana silaturahmi yang hangat namun sarat makna.
Bertempat di Sudut Ceria Diwangkara Pemalang, Rabu 18 Maret 2026, pertemuan ini tidak sekadar menjadi ajang temu kangen, melainkan ruang terbuka untuk saling bertukar pikiran, gagasan, dan kegelisahan mengenai kondisi seni budaya di Pemalang.
Dalam diskusi yang berlangsung cair namun kritis, para seniman menyuarakan keresahan atas stagnasi yang selama ini dirasakan, sekaligus membangun harapan baru untuk menghidupkan kembali denyut kebudayaan lokal.
Salah satu momen yang mencuri perhatian datang dari Rust Gaok yang secara jujur menyampaikan refleksi personalnya. Ia mengaku “sudah lupa cara menulis puisi,” sebuah pernyataan yang justru menggambarkan ironi panjang tentang vakumnya ruang-ruang kreatif bagi seniman.
Pengakuan tersebut disambut sebagai cermin bersama bahwa diamnya karya bukan karena hilangnya kemampuan, melainkan karena ekosistem yang belum sepenuhnya hidup.
Sementara itu, Atik Tukiran memaparkan pandangan yang lebih strategis mengenai arah gerak seniman saat ini. Ia menekankan bahwa berkarya tidak lagi cukup berhenti pada ekspresi, tetapi juga harus mampu bertransformasi menjadi nilai ekonomi.
Menurutnya, seniman perlu membaca peluang, termasuk memanfaatkan berbagai program dari pemerintah pusat yang dapat diakses tanpa harus terjebak dalam kerumitan organisasi yang seringkali tidak efektif. “Saat ini, berkarya harus sejalan dengan kemampuan untuk bercuan. Banyak peluang terbuka, tinggal bagaimana kita mau bergerak dan memanfaatkannya,” ujarnya.
Kegiatan ini pun menjadi titik balik untuk mempertanyakan arah gerak bersama: apakah akan terus terjebak dalam struktur organisasi yang kerap tidak jelas ujungnya, atau memilih jalan konkret melalui karya dan kolaborasi nyata.
Semangat yang mengemuka adalah dorongan untuk membangkitkan ekonomi kebudayaan yang berdampak langsung pada ekonomi kerakyatan menjadikan seni tidak hanya sebagai ekspresi, tetapi juga sebagai sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Ide ide yang tertuang tentu sudah cukup banyak dan sudahlama di tuangkan. Hanya saja eksekutor ini lah yang belum ada sehingga hanya perlu eksekusi. Begitu ditambahkan Udi Joko Susilo yang berperan utama mengumpulkan seniman pad malam hari ini.
Melalui Kopdar ini, para seniman Pemalang diharapkan mampu merumuskan langkah bersama yang lebih progresif dan membumi. Lebih dari sekadar pertemuan, kegiatan ini menjadi pernyataan sikap: bahwa seni tidak boleh mati, dan seniman tidak boleh berhenti bergerak.
Hadir diantaranya Suhari PutraSenja, Kustajianto, Udi Joko Susilo, Feby, Eni, Bandy, Rust Gaok, Tri Mulyono, Atik Tukiran dan Iwang Nirwana serta beberapa seniman yang hadir menyusul acara.