PanturaNews (Tegal) - Di antara cahaya Ramadan, kepemimpinan diuji nurani: apakah ia milik diri, atau amanah bagi semesta seluruhnya. Diskusi Majelis Reboan bertajuk “Menguatkan Kembali Ruh Kepemimpinan Publik: Belajar dari Para Nabi” digelar di lingkungan Universitas Harkat Negeri (UHN) Tegal, Rabu Kliwon 25 Februari 2026.
Forum yang dimoderatori oleh Fikri Hidayatullah ini menghadirkan Sudirman Said, MBA (Rektor Universitas Harkat Negeri) dan Ahmad Tohari (penulis novel Orang-orang Proyek) sebagai narasumber utama, dengan sorotan pada krisis moral kepemimpinan.
Dalam paparannya, Ahmad Tohari yang akrab disapa Kang AT, menyentil watak kepemimpinan hari ini yang kerap terjebak pada rasa memiliki.
“Eksistensi kita ini hanya gambaran. Tetapi semua merasa menjadi milikku: tanahku, jabatanku, rekeningku,” ujarnya.
Ia mengingatkan kembali teladan Nabi Muhammad SAW yang dalam banyak riwayat menyebut, “Ummati, ummati, ummati” ungkapan cinta mendalam seorang pemimpin terhadap umatnya. Menurutnya, kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang memancarkan cinta kasih, rahmatan lil alamin.
“Pandanglah semua orang dengan cinta kasih, maka terjadilah masyarakat ideal, penuh welas asih,” tambahnya. Ia menegaskan, kepemimpinan nabi perlu dihidupkan kembali sebagai etika publik.
Sementara itu, Sudirman Said menyoroti kepemimpinan dalam ranah sosial dan kebangsaan. Ia menegaskan bahwa dalam kepemimpinan tidak boleh menghalalkan segala cara.
“Kita mungkin tidak bisa benar-benar murni dalam praktik politik, tetapi integritas tidak boleh ditinggalkan,” tegasnya.
Menurutnya, warga negara tidak boleh mengabaikan kepengurusan negara. Politik, katanya, bukan sesuatu yang bisa dijauhi begitu saja, sebab seluruh kebijakan yang dirasakan masyarakat merupakan hasil dari proses politik itu sendiri.
Lulusan Universitas George Washington AS ini, dalam diskusinya menyinggung pemikiran Montesquieu dalam karya monumentalnya The Spirit of Laws (1748). Pemikirannya menekankan bahwa menjaga kebebasan hampir mustahil dalam negara yang korup. Sebuah refleksi tajam bagi demokrasi modern.
Joko Riyanto, penulis novel "Ujung Selalu Indah", mempertanyakan optimisme perubahan Indonesia. Menanggapi hal itu, Ahmad Tohari mendorong anak muda untuk masuk ke politik sebagai upaya menghadirkan udara baru demokrasi.
“Feodalisme seperti garis lurus tanpa patahan. Anak muda perlu mematahkan sejarah agar demokrasi kembali sehat,” katanya.
Sementara itu, Drs H Muharso dari IPHI Kota Tegal berharap Universitas Harkat Negeri mampu melahirkan mahasiswa yang bukan hanya pintar secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat. Sebuah puisi apik turut serta dibacakan oleh ketua Tim Penerjemah Alquran dalam bahasa Tegal ini.
"Mleteke srengenge kang Abang mbranang/ nyinari bumi nggo penguripan menungsa lan Sakabehe/ nanging kadang katutup mendung/ anggawe peteng/ yuuh singkirna mendung kue/ yuuh ilangna keangkaramurkaan kue kelawan angin kang semilir/ dengan cara yang baik/ melalui tunas muda yang punya makna/ punya komitmen pada value kebenaran dan kejujuran". Ujarnya menambahkan tanggapannya tentang kondisi kepemimpinan saat ini
Maknanya sinar mentari ibarat kebenaran yang tak pernah berhenti atas izinNYA.. Namun Kadang Keangkaramurkaan muncul diibaratkan mendung:
..yuuh singkirna mendung kuwé.. yuuh ilangna keangkaramurkaan kuwé kelawan angin kang semilir... dengan cara yang baik... melalui tunas muda yang punya, makna... punya komitmen pada value kebenaran dan kejujuran.
Pandangan berbeda datang dari Mirza, mahasiswa Universitas Harkat Negeri, yang justru menolak anak muda masuk partai politik karena rendahnya kepercayaan terhadap partai. Menanggapi hal itu, Sudirman Said menegaskan:
“Kita tidak bisa mengabaikan politik. Semua kebijakan yang kita alami adalah bagian dari proses politik. Jika orang baik menjauh, ruang itu akan diisi oleh yang tidak siap menjaga etika seperti yang terjadi saat ini.”
Diskusi Majelis Reboan ini menjadi refleksi penting bahwa ruh kepemimpinan tidak semata soal kuasa, melainkan soal cinta kasih, tanggung jawab, dan kesediaan melihat jabatan sebagai amanah bukan kepemilikan.
Ramadan pun menjadi momentum untuk menata ulang orientasi kepemimpinan, dari ego menuju empati, dari milikku menjadi milik bersama.