Rabu, 04/02/2026, 08:41:41
KH. Hasyim Asy’ari: Tokoh Pendidikan Islam, Mampu Menyatukan Pemahaman Ilmu Agama
OLEH: M. FATAH MUGNI LABIB
.

KH. Hasyim Asy’ari adalah salah satu tokoh terkemuka dalam sejarah perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Perannya tidak hanya terbatas pada lingkup pengelolaan pesantren, melainkan juga merambah ke berbagai bidang seperti kehidupan sosial, aktivitas keagamaan, dan perjuangan kebangsaan.

Beliau dikenal sebagai ulama yang mampu menyatukan pemahaman ilmu agama, pembinaan akhlak yang mulia, serta semangat nasionalisme dalam konsep pendidikan yang dibangunnya.

Pada masa penjajahan kolonial, dunia pendidikan Islam menghadapi berbagai tantangan yang kompleks, mulai dari keterbatasan fasilitas pembelajaran, kebijakan pemerintah kolonial yang kurang mendukung, hingga akses yang terbatas bagi masyarakat luas untuk mendapatkan pendidikan.

Di tengah kondisi tersebut, KH. Hasyim Asy’ari muncul sebagai tokoh yang mampu memelihara tradisi keilmuan Islam sekaligus menyesuaikannya dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, pemikiran dan perjuangannya menjadi sangat penting untuk dipelajari dan diambil hikmahnya oleh generasi muda saat ini.

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengulas secara komprehensif tentang perjalanan hidup, peran dalam dunia pendidikan, kontribusi melalui organisasi yang dirintisnya, serta relevansi gagasan pendidikan KH. Hasyim Asy’ari dalam konteks pendidikan masa kini.

-a. Perjalanan Hidup dan Latar Belakang Pendidikan

KH. Hasyim Asy’ari lahir pada tanggal 14 Februari 1871 di Desa Gedang, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur. Beliau berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang kuat dalam dunia pesantren dan keilmuan Islam.

Ayahnya, Kiai Asy’ari, adalah pendiri Pesantren Keras, sedangkan kakeknya, Kiai Usman, juga merupakan ulama yang dikenal luas di kalangan masyarakat. Lingkungan keluarga yang kental akan nilai-nilai religius ini memberikan pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan karakter dan pandangan hidup beliau sejak masa kanak-kanak.

Sejak usia muda, KH. Hasyim Asy’ari telah memulai pembelajaran dasar-dasar agama seperti membaca Al-Qur’an, mempelajari ilmu fikih, hadis, serta berbagai disiplin ilmu agama lainnya. Setelah memasuki usia remaja, beliau melanjutkan studi di berbagai pesantren ternama yang ada di Jawa, antara lain Pesantren Langitan, Pesantren di daerah Bangkalan, dan Pesantren Siwalan Panji. Pengalaman belajar di berbagai tempat ini tidak hanya memperluas wawasan keilmuannya, tetapi juga membentuk sikap disiplin yang kuat dalam menuntut ilmu.

Pada usia sekitar 21 tahun, beliau memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke Tanah Suci Mekkah. Di sana, beliau belajar secara langsung dari para ulama besar seperti Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Syekh Nawawi al-Bantani. Selama berada di Mekkah, beliau mendalami berbagai cabang ilmu agama seperti tafsir Al-Qur’an, ilmu hadis, fikih, dan tasawuf. Pengalaman belajar di luar negeri ini menjadikan beliau sebagai ulama yang memiliki pemahaman yang luas dan mendalam tentang ajaran Islam.

Setelah menyelesaikan masa studinya di Mekkah dan kembali ke Indonesia, beliau mulai mengembangkan karier sebagai pendidik dengan mengajar di beberapa pesantren sebelum akhirnya memutuskan untuk mendirikan pesantren miliknya sendiri.

-b. Peran dalam Pengembangan Pendidikan Islam di Indonesia

Setelah kembali ke tanah air, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng pada tahun 1899 di Kabupaten Jombang. Pada awal berdiri, pesantren ini hanya diikuti oleh sejumlah kecil santri, namun berkat ketekunan yang kuat dan keteladanan beliau yang baik, Pesantren Tebuireng berkembang menjadi salah satu pesantren terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia.

 Di dalam Pesantren Tebuireng, KH. Hasyim Asy’ari menerapkan sistem pendidikan yang mengedepankan keseimbangan antara pembelajaran ilmu pengetahuan, pembinaan ibadah yang benar, dan pengembangan akhlak yang mulia.

Santri tidak hanya diajarkan tentang kitab-kitab klasik Islam yang dikenal dengan sebutan kitab kuning, tetapi juga dibimbing untuk mengembangkan sikap rendah hati, disiplin diri yang tinggi, serta rasa tanggung jawab yang kuat terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. Selain itu, beliau juga memperkenalkan pembelajaran ilmu umum dasar seperti bahasa Indonesia, matematika, dan sejarah agar para santri mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman yang terus berubah.

 Beliau sangat menekankan pentingnya adab dalam proses belajar mengajar. Menurut pandangannya, ilmu pengetahuan tidak akan memberikan manfaat yang optimal jika tidak diimbangi dengan sikap hormat yang tinggi terhadap guru, kesungguhan dalam proses belajar, serta keikhlasan niat dalam menuntut ilmu.

Pandangan ini dituangkan secara sistematis dalam karyanya yang terkenal berjudul Adabul ‘Alim wal Muta’allim, yang hingga saat ini masih digunakan sebagai panduan etika belajar di banyak pesantren di seluruh Indonesia.

 Selain itu, beliau juga selalu mendorong para santri untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan masyarakat sekitar. Pendidikan yang diberikan di Pesantren Tebuireng tidak hanya bertujuan untuk mencetak ulama yang ahli dalam bidang agama, tetapi juga untuk membentuk pemimpin masyarakat, pendakwah yang efektif, serta tokoh masyarakat yang mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya. Banyak alumni dari Pesantren Tebuireng yang kemudian menjadi tokoh penting di berbagai bidang kehidupan, baik di tingkat lokal maupun nasional.

-c. Kontribusi dalam Organisasi dan Gerakan Kebangsaan

 Pada tahun 1926, KH. Hasyim Asy’ari bersama dengan beberapa ulama terkemuka lainnya mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi ini memiliki tujuan utama untuk menjaga keaslian ajaran Islam sesuai dengan mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah, memperkuat rasa persatuan di antara umat Islam, serta mengembangkan bidang pendidikan dan dakwah Islam di seluruh wilayah Indonesia.

Melalui organisasi NU, KH. Hasyim Asy’ari berhasil membangun jaringan yang luas dari pesantren dan madrasah di berbagai daerah di Indonesia. Jaringan ini berperan sebagai sarana penting dalam menyebarkan ilmu agama, meningkatkan kualitas pendidikan yang diterima oleh masyarakat, serta membentuk kesadaran keislaman yang berakar pada nilai-nilai moderasi dan toleransi antarumat beragama. Selain itu, organisasi NU juga aktif dalam memperjuangkan hak-hak rakyat jelata dari berbagai bentuk tekanan yang datang dari pemerintah kolonial pada masa itu.

Dalam bidang kebangsaan, KH. Hasyim Asy’ari memiliki peran yang sangat penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Beliau secara tegas menyatakan sikapnya yang menentang penjajahan dan secara aktif mengajak umat Islam untuk bersatu dalam upaya mempertahankan tanah air yang telah merdeka.

Pada tahun 1945, beliau mengeluarkan Resolusi Jihad yang menyatakan bahwa umat Islam memiliki kewajiban untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah dicapai dari serangan kekuatan asing yang ingin menggagalkan kemerdekaan Indonesia.

Fatwa ini menjadi salah satu faktor utama yang mampu membangkitkan semangat perjuangan di kalangan rakyat Indonesia, terutama dalam peristiwa pertempuran yang terjadi pada tanggal 10 November di Surabaya yang kemudian menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Untuk menghargai jasa-jasanya yang luar biasa dalam bidang pendidikan, aktivitas keagamaan, serta perjuangan kebangsaan, pemerintah Republik Indonesia memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1964.

 -d. Gagasan Pendidikan dan Relevansinya di Era Kini

Gagasan pendidikan yang dikembangkan oleh KH. Hasyim Asy’ari memiliki karakteristik yang menyeluruh dan selalu menekankan pada keseimbangan. Beliau memandang bahwa pendidikan harus mampu mengembangkan tiga aspek secara bersamaan, yaitu aspek intelektual, aspek spiritual, dan aspek moral.

Ketiga aspek ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena saling melengkapi satu sama lain -ilmu pengetahuan tanpa landasan moral yang kuat berpotensi menjadi sumber kerusakan bagi diri sendiri dan lingkungan, sedangkan nilai moral tanpa dukungan ilmu pengetahuan yang memadai akan sulit berkembang secara optimal.

 Menurut pandangan beliau, tujuan utama dari pendidikan adalah untuk membentuk manusia yang memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki pengetahuan yang luas, serta memiliki akhlak yang mulia.

Oleh karena itu, proses pendidikan harus diarahkan untuk membentuk karakter yang kuat, menjunjung tinggi nilai kejujuran, memiliki disiplin diri yang baik, serta memiliki rasa peduli yang tinggi terhadap sesama manusia. Selain itu, beliau juga selalu menekankan pentingnya sikap toleransi yang tinggi antarumat beragama serta semangat persatuan bangsa sebagai dasar yang tidak dapat diabaikan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di era modern yang penuh dengan berbagai tantangan, seperti perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat dan arus globalisasi yang semakin kuat, gagasan pendidikan yang dikembangkan oleh KH. Hasyim Asy’ari tetap memiliki relevansi yang sangat tinggi.

Nilai-nilai seperti kejujuran, rasa tanggung jawab, toleransi, dan semangat nasionalisme sangat dibutuhkan untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas dari segi akademik, tetapi juga memiliki integritas moral yang kuat dan rasa cinta tanah air yang tinggi. Selain itu, konsep pendidikan yang menyatukan antara ilmu agama dan ilmu umum yang digagasnya dapat menjadi salah satu solusi yang efektif untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial yang terjadi di masa kini.

Kesimpulanya: KH. Hasyim Asy’ari adalah tokoh pendidikan Islam yang memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah perkembangan pendidikan dan perjuangan kebangsaan Indonesia.

Melalui Pesantren Tebuireng yang dirikan pada tahun 1899 dan organisasi Nahdlatul Ulama yang berdiri pada tahun 1926, beliau berhasil membangun sistem pendidikan yang selalu mengedepankan keseimbangan antara pengembangan ilmu pengetahuan, pembinaan akhlak yang baik, serta semangat kebangsaan yang tinggi.

Perjalanan hidup beliau yang penuh dengan dedikasi dalam menuntut ilmu dan menyebarkan manfaatnya kepada masyarakat, serta kontribusinya yang luar biasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, menunjukkan bahwa beliau adalah ulama yang tidak hanya menguasai ilmu agama secara mendalam, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan yang tinggi.

Karyanya yang berjudul Adabul ‘Alim wal Muta’allim tetap menjadi panduan yang sangat penting dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia hingga saat ini. Gagasan dan keteladanan yang diberikan oleh KH. Hasyim Asy’ari menjadi warisan yang sangat berharga bagi perkembangan pendidikan di Indonesia.

Hingga saat ini, nilai-nilai yang beliau ajarkan masih relevan dan dapat dijadikan pedoman dalam upaya membentuk generasi muda yang beriman, berilmu, dan memiliki karakter yang kuat, serta mampu menghadapi berbagai tantangan zaman dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan Indonesia.

(SUMBER: -Khumaedi, M. (2025). The Contribution of KH. M. Hasyim Asy’ari in the Development of Hadith Thought and Islamic Education in Indonesia. Ulumuna: Jurnal Studi Keislaman, 15(1), 45–62. - Lestari, W. N. (2025). Biografi KH Hasyim Asy’ari, Pahlawan Nasional dan Tokoh Pendiri NU. Kompas Pustaka. - Mukani, M. (2014). Pendidikan karakter perspektif KH. Hasyim Asy’ari. Madinah: Jurnal Studi Islam, 8(2), 112–128. -NU Online. (n.d.). KH Hasyim Asy’ari dan peradaban pendidikan di Indonesia. Diakses dari https://nu.or.id/artikel/kh-hasyim-asyari-dan-peradaban-pendidikan)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita