PanturaNews (Brebes) – Gelombang aksi pengunduran diri kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) di Kabupaten Brebes terus meluas.
Terbaru, puluhan simpatisan asal Kecamatan Wanasari menyatakan mundur massal sebagai bentuk protes atas hasil Konferensi Cabang (Konfercab) yang digelar di Hotel Patra Semarang, akhir Desember 2025 lalu.
Keputusan mundur tersebut disampaikan langsung di kediaman simpatisan senior PDI-P, Suroso Bono Gesik, di Desa Pebatan, Kecamatan Wanasari, Rabu (14/1/2026).
Langkah ini merupakan bentuk solidaritas sekaligus kekecewaan terhadap penetapan Cahrudin sebagai Ketua DPC PDI-P Brebes periode 2025–2030.
Suroso Bono Gesik menjelaskan bahwa para simpatisan merasa aspirasi "arus bawah" telah diabaikan. Pasalnya, nama yang ditetapkan sebagai ketua terpilih dianggap bukan merupakan usulan mayoritas Pengurus Anak Cabang (PAC) maupun kader di tingkat akar rumput.
"Sebenarnya itu internal partai, tapi kami sebagai simpatisan yang berada di luar boleh menilai. Intinya kami kecewa karena hasil Konfercab tidak mendengarkan suara dari bawah," ujar Suroso yang juga merupakan mantan anggota DPRD Brebes periode 1999–2004 tersebut.
Menurut Suroso, langkah ini menyusul aksi serupa yang dilakukan oleh sejumlah kader fungsional sebelumnya, termasuk tokoh senior partai, Asrofi.
Ia mengklaim bahwa banyak simpatisan dari kecamatan lain yang mulai berkomunikasi untuk melakukan aksi serupa.
"Kami simpatisan Desa Pebatan ikut menentukan sikap. Ini bukan hanya soal nama (pimpinan), tapi soal marwah partai yang harus dijaga," tegasnya.
Fenomena "bedol desa" ini sebelumnya telah dimulai pada Sabtu (10/1/2026), bertepatan dengan HUT PDI-P ke-53.
Saat itu, puluhan pengurus PAC, pengurus ranting dari Kecamatan Bulakamba dan Bumiayu, hingga badan otonom Komunitas Juang, telah lebih dulu menyerahkan Kartu Tanda Anggota (KTA) ke kantor DPC PDI-P Brebes sebagai tanda pengunduran diri resmi.