KULINER tradisional mengandung nilai sejarah, sosial, dan kearifan lokal, dan merupakan salah satu komponen kebudayaan yang paling penting dalam membentuk identitas suatu masyarakat.
Pemanfaatan bahan pangan lokal yang mudah diperoleh dan diolah sesuai dengan kondisi lingkungan setempat biasanya merupakan dasar pembentukan makanan tradisional (Suhardjo, 2016).
Kuliner tradisional membantu ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat secara berkelanjutan, selain berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan konsumsi (Almatsier, 2019).
Kuliner tradisional menghadapi tantangan yang signifikan saat modernisasi dan perubahan pola konsumsi masyarakat terjadi. Ini terutama terkait dengan produk olahan industri dan makanan instan (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2019).
Namun demikian, beberapa makanan lokal tetap ada. Salah satunya adalah ketan pencok Bu Bariyah, yang dikenal sebagai makanan tradisional khas Bumiayu. Ketahanannya menunjukkan bahwa makanan tradisional tetap ada karena nilai budayanya dan karena manfaatnya bagi masyarakat sebagai sumber energi dan nutrisi.
Ketan pencok adalah makanan yang dibuat dengan beras ketan dan pencok yang mengandung gula merah dan kelapa parut. Karena daya simpan dan sifat mengenyangkan beras ketan, makanan berbasis ketan telah lama populer di berbagai wilayah Indonesia (Winarno, 2004).
Ketan pencok telah menjadi bagian dari kebiasaan makan sehari-hari masyarakat Bumiayu, terutama sebagai makanan selingan atau pengganjal lapar.
Ketan pencok Bu Bariyah ada karena usaha rumahan yang menjaga resep tradisional. Keberlanjutan kuliner tradisional bergantung pada konsistensi pelaku usaha dalam menjaga keaslian bahan dan proses pengolahan, menurut Kemendikbud (2019). Ini terlihat pada bagaimana Bu Bariyah terus menggunakan bahan alami dan metode pengolahan sederhana untuk membuat ketan pencok.
Pencok pada ketan pencok Bu Bariyah dibuat dari gula merah sisir, satu butir kelapa parut, garam, bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan daun salam. Komposisi bahan tersebut mencerminkan prinsip pangan tradisional Indonesia yang mengombinasikan sumber energi, lemak, serta rempah-rempah lokal (Suhardjo, 2016).
Gula merah merupakan sumber karbohidrat sederhana yang berfungsi sebagai penyedia energi cepat bagi tubuh (Almatsier, 2019). Selain itu, gula merah mengandung mineral seperti zat besi dan kalsium meskipun dalam jumlah yang tidak terlalu besar, sehingga tetap memberikan kontribusi mikronutrien dalam makanan tradisional (TKPI, 2017).
Kelapa parut memberikan kontribusi lemak nabati yang berperan penting dalam penyediaan energi dan membantu penyerapan vitamin larut lemak (Winarno, 2004). Lemak dari kelapa juga memberikan rasa gurih yang khas sehingga meningkatkan penerimaan makanan oleh konsumen.
Bawang merah dan bawang putih diketahui mengandung senyawa bioaktif yang bersifat antioksidan dan antimikroba, yang berpotensi mendukung kesehatan tubuh apabila dikonsumsi secara rutin (Almatsier, 2019).
Ketumbar dan daun salam berfungsi sebagai rempah yang tidak hanya meningkatkan aroma dan cita rasa, tetapi juga berperan dalam membantu proses pencernaan. Penggunaan rempah-rempah dalam pangan tradisional Indonesia secara tidak langsung memperkaya kandungan fitonutrien dalam makanan (Winarno, 2004).
Beras ketan, yang digunakan sebagai bahan utama untuk ketan pencok, adalah sumber karbohidrat kompleks yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan energi harian Anda.
Tabel Komposisi Pangan Indonesia menunjukkan bahwa beras ketan memiliki tingkat energi yang lebih tinggi daripada beras biasa, sehingga membuat Anda merasa kenyang lebih lama (Kementerian Kesehatan RI, 2017). Ketan pencok cocok untuk orang-orang dengan aktivitas fisik sedang hingga tinggi karena banyaknya karbohidrat.
Meskipun beras ketan memiliki kandungan protein yang rendah, itu masih berkontribusi pada asupan protein nabati masyarakat (Almatsier, 2019). Oleh karena itu, ketan pencok dapat dianggap sebagai makanan tradisional yang mengandung energi yang membantu aktivitas sehari-hari orang.
Ketan pencok dianggap sebagai makanan yang praktis, mengenyangkan, dan murah dalam kebiasaan makan orang Bumiayu. Karena dikonsumsi secara turun-temurun berdasarkan pengalaman empiris masyarakat, makanan tradisional sering kali memiliki fungsi sosial dan gizi, menurut Suhardjo (2016). Ketan pencok sangat disukai karena rasanya dan mampu memberikan energi yang cukup untuk beraktivitas.
Ketan pencok biasanya dianggap sebagai sumber energi daripada sumber serat dan protein, tetapi jika dikonsumsi bersama dengan makanan yang lebih kaya protein dan sayuran, ketan pencok dapat menjadi bagian dari pola makan yang seimbang (Almatsier, 2019).
Eksistensi ketan pencok Bu Bariyah hingga saat ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. Kesadaran akan pentingnya makanan alami dan minim proses industri justru membuka peluang bagi pangan tradisional untuk kembali diminati (Kementerian Kesehatan RI, 2017). Dengan pendekatan edukasi gizi yang tepat, ketan pencok dapat diposisikan sebagai pangan lokal yang bernilai budaya dan bernilai gizi.
Ketan pencok Bu Bariyah adalah makanan tradisional Bumiayu yang memiliki nilai budaya dan nutrisi, terutama untuk energi. Beras ketan, gula merah, kelapa parut, dan rempah-rempah alami menyediakan karbohidrat, lemak nabati, dan mikronutrien yang baik untuk tubuh.
Akibatnya, ketan pencok Bu Bariyah, sebagai makanan tradisional yang penting untuk pemenuhan gizi masyarakat, layak dipertahankan sebagai bagian dari warisan kuliner lokal.