PENELITIAN di peternakan sapi milik Bapak Sabaruddin di Dukuh Pringanamba RT 02, Kali Pengasinan, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Sabtu, 13 Desember 2025, bertujuan untuk mengeksplorasi, bagaimana aktivitas sehari-hari di peternakan dapat dijadikan media edukasi ekonomi berbasis pengalaman langsung atau experiential learning.
Peternakan sapi tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi ternak, tetapi juga menampilkan proses ekonomi nyata yang melibatkan perhitungan, pengambilan keputusan, dan manajemen sumber daya.
Dari aktivitas pemberian pakan, perawatan ternak, hingga pengelolaan hasil penjualan, peserta belajar dapat mengamati dan mengalami langsung konsep ekonomi yang bersifat aplikatif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Pengamatan di peternakan sapi Jumbo Sirampog menunjukkan bahwa proses belajar ekonomi dapat terjadi melalui kegiatan rutin yang dekat dengan masyarakat. Setiap aktivitas, mulai dari pengelolaan pakan, perawatan sapi, hingga kebersihan kandang, mengandung unsur edukatif.
Penghitungan antara biaya yang dikeluarkan dan hasil yang diperoleh dari penjualan ternak menuntut perhatian dan pertimbangan, sehingga peserta belajar dapat memahami konsep pengeluaran, pemasukan, dan keuntungan secara nyata. Aktivitas ini juga mengajarkan pengambilan keputusan yang tepat agar usaha tetap berjalan dan berkelanjutan, menunjukkan bahwa pembelajaran ekonomi tidak hanya teoritis, tetapi berbasis praktik.
Dalam konteks pembelajaran, teori Experiential Learning yang dikembangkan oleh David Kolb sejak 1984 sangat relevan. Menurut Kolb, pengetahuan dibentuk melalui proses pengalaman, refleksi, pembentukan konsep, dan penerapan kembali dalam situasi nyata (Fathurrohman, 2015).
Abdul Majid dan Chaerul Rochman (2014) menegaskan bahwa experiential learning adalah model belajar mengajar yang mengaktifkan peserta didik melalui pengalaman langsung untuk membangun pengetahuan dan keterampilan. Muhammad Fathurrohman (2015) menambahkan bahwa proses pembelajaran berbasis pengalaman ini tidak terbatas pada materi buku atau arahan guru, melainkan melibatkan interaksi langsung dengan lingkungan sebagai media belajar.
Karakteristik experiential learning menurut Kolb meliputi pemahaman belajar sebagai proses berkelanjutan, keterlibatan aktif dengan lingkungan, serta penciptaan pengetahuan dari pengalaman pribadi dan sosial (Fathurrohman, 2015).
Aktivitas di peternakan sapi Jumpo Sirampog sesuai dengan tahapan experiential learning. Peserta belajar mulai dari keterlibatan langsung dalam memberi pakan dan merawat ternak, kemudian melakukan refleksi terhadap kegiatan yang dilakukan, membangun konsep sederhana tentang pengelolaan usaha, hingga menerapkan konsep tersebut kembali dalam aktivitas sehari-hari.
Dengan demikian, pembelajaran berlangsung secara alami dan efektif, karena peserta belajar memperoleh pengalaman nyata yang dapat langsung dipahami dan diterapkan.
Beberapa manfaat yang diperoleh dari penggunaan peternakan sebagai media edukasi ekonomi antara lain pemahaman konsep ekonomi menjadi lebih mudah, karena peserta belajar melihat langsung proses pemberian pakan, perawatan, dan penjualan ternak. Aktivitas tersebut juga meningkatkan keterlibatan peserta belajar, karena setiap kegiatan menuntut partisipasi aktif dan konsistensi.
Selain itu, kegiatan ini melatih kemampuan pengambilan keputusan, mengingat setiap tindakan memiliki konsekuensi terhadap hasil usaha. Aktivitas peternakan yang rutin juga menumbuhkan sikap tanggung jawab, disiplin, dan kerja sama, sehingga nilai-nilai karakter ikut terbentuk bersamaan dengan pemahaman ekonomi.
Lebih jauh, penggunaan peternakan sapi Jumbo Sirampog sebagai media edukasi ekonomi juga memberikan manfaat sosial bagi masyarakat sekitar. Aktivitas di peternakan membuat masyarakat lebih menyadari pentingnya kerja keras, perencanaan, dan pengelolaan sumber daya.
Hasil ternak yang diperoleh menjadi sumber penghasilan nyata, sehingga pembelajaran ekonomi tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga berdampak pada kehidupan nyata masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran ekonomi berbasis pengalaman tidak hanya relevan dan aplikatif, tetapi juga memperkuat kesadaran praktis dan nilai-nilai kehidupan sehari-hari.
Dengan berbagai dampak positif tersebut, peternakan sapi Jumbo Sirampog dapat dipandang sebagai media pembelajaran ekonomi yang efektif dan menyenangkan. Pengalaman langsung yang diperoleh melalui keterlibatan aktif membuat pemahaman ekonomi menjadi lebih konkret, relevan, dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, peternakan tidak hanya berperan sebagai tempat usaha, tetapi juga sebagai laboratorium alami yang mendukung pembelajaran berbasis pengalaman, sesuai dengan prinsip experiential learning.
(Daftar Pustaka: Fathurrohman, M. (2015). Paradigma Pembelajaran Kurikulum 2013; Strategi Alternatif Pembelajaran di Era Global. Yogyakarta: Kalimedia. -Majid, A., & Rochman, C. (2014). Pendekatan Ilmiah dalam Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. -Rahmi, W. (2024). Analytical study of experiential learning: Experiential learning theory in learning activities. Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 5(2). https://doi.org/10.62775/edukasia.v5i2.1113)