Sabtu, 18/10/2025, 07:49:36
Dialog Lebih Jauh dengan Sastra Tegalan: Dari Gerakan Lokal Menjadi Kekuatan Budaya
BEGAWAN TEGAL
LAPORAN IWANG NIRWANA

Lanang Setiawan. (Foto: Dok/Istimewa)

SASTRA Tegalan yang lahir pada 26 November 1994 kini bukan lagi sekadar fenomena lokal. Gerakan yang dipelopori oleh sastrawan Lanang Setiawan itu telah menembus ruang akademik, menjadi bahan penelitian, hingga mata kuliah di beberapa universitas. Dari yang dulu hanya dianggap bahasa pasar, kini basa Tegalan menjelma menjadi kekuatan budaya yang diakui secara nasional.

Dalam sebuah dialog eksklusif, Lanang Setiawan mengungkapkan bahwa kelahiran aliran-aliran baru dalam Sastra Tegalan merupakan respons atas stagnasi gerakan seni di Tegal.

“Gerakan seniman Tegal stagnan dari puluhan tahun hingga hampir satu abad tidak ada langkah maju, hanya berkutat pada satu titik itu-itu saja. Otak saya berputar untuk bikin aliran baru, sekaligus tiga aliran itu. Yang terakhir adalah aliran Puisi Tegalerin dengan menggabungkan antara ‘Tegal’ dan ‘Berlin’,” ujar seniman yang mendapat julukan Begawan Tegal.

Menurutnya, penciptaan Tegalerin bukan sekadar eksperimen sastra, melainkan sebuah terobosan yang menghubungkan unsur lokal dengan semangat global. Melalui konsep 2-4-2-4 yang khas, aliran ini menjadi simbol kreativitas dan keberanian menembus batas tradisi tanpa meninggalkan akar budaya Tegalan.

“Aku ini orangnya suka terobosan dan menerobos untuk mencari hal baru. Para seniman Tegalan hanya punya kemampuan mengolok namun tenggelam dalam pusaran sastra Tegalan,” tambahnya.

Semangat “menerobos” inilah yang menjadi pembeda antara Lanang dan kebanyakan seniman lainnya. Ia tidak sekadar menjaga agar Sastra Tegalan tetap hidup, tetapi juga berusaha membuka jalan baru agar tidak mati di tempat.

Dalam perjalanannya, Sastra Tegalan sempat memicu pro dan kontra, terutama saat Lanang menerjemahkan puisi Nyanyian Angsa karya WS Rendra ke dalam bahasa Tegal. Namun, waktu membuktikan bahwa langkah tersebut menjadi awal dari kebangkitan besar. Kini, baik yang dulu menentang maupun mendukung, semuanya menikmati hasilnya.

“Sekarang, baik yang pro dan kontra telah menikmati hasil dari Sastra Tegalan. Demikianlah Allah memberi jalan dan pikiran bening hingga ditemukan aliran baru dalam debut sastra di Tegal. Dari yang tidak ada menjadi ada,” ungkap Lanang.

Perubahan ini juga terlihat dari cara masyarakat memandang bahasa Tegal. Jika dulu dianggap kampungan, kini basa Tegalan justru digunakan dengan bangga oleh seniman, pejabat, bahkan demonstran.

“Para pejabat yang dulu enggan memakai bahasa Tegal kini menjadikannya sarana berpuisi dan propaganda program-programnya. Para demonstran pun lebih mantap menyampaikan suara mereka lewat poster-poster berbahasa Tegal yang lebih bergizi dan memiliki daya sampai,” jelas Lanang.

Bagi Lanang Setiawan, Sastra Tegalan telah menjadi kekuatan budaya yang lahir dari niat tulus dan pikiran bening. Ia meyakini bahwa tak ada kekuatan manusia yang bisa menolak takdir ketika Tuhan sudah membuka jalan.

“Dikuncen nana, digedong nana, kalau kehendak Yang di Atas sudah menggariskan ketentuan, tidak ada yang bisa menghalangi kelahiran Sastra Tegalan dan mewabahnya kehidupan sastra Tegalan,” ujarnya.

Puncak dari perjalanan panjang itu adalah ketika Lanang menerima Hadiah Sastra Rancagé 2011 sebagai penggali, pengembang, dan pelopor Sastra Tegalan. Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa perjuangan dan konsistensi dalam melestarikan budaya daerah dapat menembus batas, dari lokal menuju pengakuan nasional.

Kini, Sastra Tegalan tak hanya hidup—tetapi tumbuh, mewabah, dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Tegal.

“Sastra Tegalan hadir sebagai bukti bahwa budaya lokal bisa menjadi cahaya dalam perubahan zaman,” tutup Lanang Setiawan.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita