DI kebun jiwa milik dukun sosial Hendri Yetus Siswono pada Jumat Kliwon 10 Oktober 2025 pukul 19.30, berdengung sebuah sineteater dalam acara Medang (Meja Diskusi Nilai Gagasan).
Meski sempat di buka dengan gerimis, halaman belakang dari Kedai RI 1 di Ext Tol Banjaranyar, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, ini terus berlanjut memutar sebuah film berdurasi 40 menit.
Film garapan Patuh AM, aktor dari Brebes dengan judul Sangang Wulan, menjadi pilihan dari kegiatan kedua Medang. Sebuah film yang penuh dengan simbol-simbol kehidupan pesisir.
Hendri Yetus yang merupakan koordinator Blakasuta area Brebes serta Founder Brebes Membaca menjadi pemantik adanya diskusi setelah pemutaran. Sineteater dalam kosakata teater menjadi sebuah idiom baru yang mungkin lebih lekat dalam kata sinema teater.
Menurut Patuh kosakata ini bakal booming di era media kedepan. Meskipun sudah dipakai di Jerman, ataupun di Indonesia pernah dilakukan oleh Garin Nugroho pada salah satu karyanya.
Tema yang diangkat dalam film ini memang sangat kongret dalam kehidupan sosial di Brebes. Bagaimana kemiskinan sangat lekat dengan area pesisir. Menjadi pilihan yang apik bagi seorang Patuh AM membuat sineteater.
Isi film penuh dengan simbol-simbol yang memerlukan waktu perenungan untuk menentukan arti atau maknanya. Kehidupan miyang atau berlayar yang menjadi sebuah pilihan akhir dilalui oleh seorang pengantin muda.
Kegetiran mencari kebahagian yang dihadang kesengsaraan. Pertarungan ombak bahkan pertarungan dengan begal lautan. Hal ini menjadi tragedi yang dikemas apik melalui simbol pergerakan yang eksentrik oleh sang penulis sekaligus sutradara.
Film ini memang bersegmen ke para penggiat seni budaya.Pernah ditampilkan di Cafe Paradigma Brebes dan Kopi Pejalan. Meskipun sesi ke 2 dan ke 3 masih belum di putar, namun Patuh sangat mengapresiasi segala hal masukan dan kritik dalam film sesi pertama ini.
Diskusi diantara obor yang sengaja disiapkan menjadi lebih menarik. Mulai dari segi pengambilan gambar sampai proses akhir dibahas bersama sang sutradara. Bersama beberapa yang hadir diantaranya Nurochman Sudibyo, Ayyub, Diah Setyawati serta para pemain film.
Selain itu hadir pula para seniman dari Bekasi yang jadir bersama Ghoula seniman multi talent dari Gunung Salak. Ditutup dengan perform art oleh Miftakhul Aziz.