Jumat, 13/06/2025, 18:27:30
Sop Iga Dan Soto Betawi Bu Tya Yogyakarta, Punya Cita Rasa Yang Khas Dan Berkualitas
OLEH: MAHASISWA OBSERVATOR KELOMPOK 7 UST
.

SELAIN menu soto betawi dan sop iga ada juga menu yang lainnya, seperti nasi goreng sapi, nasi goreng udang, tongseng sapi dan masih ada yang lainnya. Sistem penjualan langsung dan pemesanan online.

-A. Pendahuluan

-a) Profile dan Sejarah UMKM: Sop Iga dan Soto Betawi Bu Tya merupakan usaha mikro yang bergerak di bidang kuliner khas Indonesia, khususnya menu tradisional asal Betawi seperti soto betawi dan sop iga.

Usaha ini dirintis oleh Ibu Tya pada tahun 2021, berlokasikan di Jl. Prof. DR. Soepomo SH No.7, Warungboto, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Awalnya, usaha ini hanya dijalankan secara kecil-kecilan dari dapur rumah dan melayani pesanan dari tetangga serta lingkungan sekitar.

Namun seiring waktu, cita rasa yang khas dan kualitas bahan yang terjaga menjadikan usaha ini semakin dikenal luas. Permintaan yang terus meningkat mendorong Ibu Tya untuk membuka warung makan sederhana dengan nama “Sop Iga dan Soto Betawi Bu Tya”.

Menu andalan berupa sop iga dan soto betawi Soto betawi sendiri adalah soto yang disajikan dengan kuah santan. Isian Soto Betawi umumnya terdiri atas daging sapi, jeroan, organ sapi, seperti mata sapi, torpedo, dan hati.

Selain menu soto betawi dan sop iga ada juga menu yang lainnya, seperti nasi goreng sapi, nasi goreng udang, tongseng sapi dan masih ada yang lainnya. Saat ini, Sop Iga dan Soto Betawi Bu Tya dan terus berkembang melalui sistem penjualan langsung dan pemesanan online.

b) Dukungan dokumen, legalitas, foto untuk menguatkan profile UMKM berikut penjelasannya proses pembuatannya.

Usaha ini tidak hanya menyajikan makanan khas, tetapi juga menciptakan suasana makan yang nyaman dan penuh keakraban. Dengan tampilan bangunan yang sederhana namun bersih dan rapi, serta pelayanan yang ramah, UMKM Sop Iga dan Soto Betawi Bu Tya menjadi pilihan favorit masyarakat sekitar maupun pengunjung luar daerah yang ingin menikmati cita rasa tradisional dalam suasana kekeluargaan.

Meskipun usaha berskala kecil, namun para karyawan tetap menunjukkan semangat kerja dan kedisiplinan yang tinggi. Mereka aktif dalam menjaga kebersihan, membantu proses produksi, hingga melayani pelanggan dengan sopan. Hal ini menjadi nilai tambah dalam menciptakan pelayanan yang konsisten dan dipercaya oleh pelanggan setia.

-B. Manajemen UMKM

-a) Manajemen SDM: Pengeloloaan Karyawan dijalankan secara informal, tanpa adanya prosedur resmi seperti kontrak tertulis atau pelatihan terstruktur. Meski begitu, pengelolaan ini tetap berjalan dengan baik karena ditopang oleh komunikasi yang lancar dan suasana kerja yang kekeluargaan.

Karyawan memahami tugas masing-masing melalui pembagian kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan harian, serta adanya hubungan yang saling menghargai antara pemilik dan pegawai.

-b) Permasalahan yang Ditemui: Dari hasil pengamatan, tidak tampak adanya persoalan besar yang berkaitan dengan karyawan. Hubungan antarindividu berlangsung dengan harmonis, dan tidak terdapat konflik internal.

Karyawan bekerja secara konsisten dan tidak mengalami pergantian yang tinggi, yang menunjukkan bahwa pengelolaan SDM meskipun sederhana, cukup efektif dijalankan.

-c). Kesimpulan: Secara keseluruhan, sistem pengelolaan tenaga kerja di UMKM ini terbilang baik walaupun belum menggunakan metode formal. Dengan tetap menjaga komunikasi, hubungan kerja yang positif, serta mempertahankan karyawan dalam jangka panjang, UMKM Sop Iga dan Soto Betawi Bu Tya mampu menciptakan lingkungan kerja yang stabil dan mendukung kelangsungan usaha sehari-hari.

-C. Manajemen Pemasaran

-a). Menentukan Strategi Penetapan Harga (Pricing Strategy): Dalam menetapkan harga jual menu seperti sop iga dan soto Betawi, UMKM  mempertimbangkan beberapa aspek penting, antara lain: biaya produksi, segmentasi pasar, kondisi persaingan, dan target keuntungan.

Penetapan harga tidak dilakukan sembarangan, melainkan disesuaikan dengan daya beli konsumen serta harga rata-rata di pasaran agar tetap kompetitif namun tetap menguntungkan.

-b). Biaya Produksi: Biaya dihitung dari komponen bahan makanan utama seperti iga sapi, santan, bumbu, dan pelengkap lainnya. Selain itu, biaya operasional seperti gas, listrik, dan gaji karyawan juga diperhitungkan dalam menentukan harga jual per porsi.

-c). Target Pasar: UMKM Bu Tya menyasar segmen pelanggan kelas menengah, khususnya masyarakat lokal dan pekerja kantoran di sekitar lokasi usaha. Penyesuaian harga dilakukan agar tetap terjangkau oleh target pasar tersebut, tanpa mengorbankan kualitas rasa dan porsi makanan.

-d). Analisis Persaingan: Pemilik usaha juga melakukan pengamatan terhadap harga-harga yang ditetapkan oleh warung makan lain yang menjual menu serupa di sekitar lokasi. Dari situ, dilakukan penyesuaian apakah harus memberi harga sedikit lebih rendah, setara, atau bahkan lebih tinggi dengan tambahan keunggulan layanan dan cita rasa.

-e). Tingkatan Harga (Grade Pricing): Level Ekonomis: Menyediakan menu dengan harga lebih terjangkau untuk menjangkau pelanggan dari kalangan menengah ke bawah.

Level Standar: Menawarkan porsi dan kualitas sesuai standar umum pasar. Level Premium: Porsi lebih besar, cita rasa lebih kuat, dan layanan lebih nyaman untuk menarik konsumen yang menginginkan pengalaman makan yang lebih eksklusif.

-D. Manajemen Keuangan

-a). Rencana Keuangan Usaha: Rencana keuangan disusun untuk menjaga kelangsungan bisnis serta mendukung  pertumbuhan usaha secara berkelanjutan. UMKM Sop Iga dan Soto  Betawi.

-b). Komposisi Modal Awal. Modal awal usaha berasal dari: Modal Pribadi Pemilik: Rp 40.000.000. Pinjaman dari Keluarga (tanpa bunga): Rp 25.000.000. Total Modal Awal: Rp 65.000.000.

-c). Sistem Bagi Hasil dan Bonus Karyawan: Usaha ini menerapkan sistem pembagian bonus untuk karyawan berdasarkan pencapaian laba bersih bulanan.

Jika keuntungan bersih melebihi Rp 14 juta, maka 5% dari selisih tersebut diberikan sebagai bonus kepada karyawan:Jika laba bersih bulan ini Rp 16.000.000, selisihnya Rp 2.000.000 → 5% x Rp 2.000.000 = Rp 100.000.

Bonus ini akan dibagi rata kepada 3 pegawai → masing-masing mendapat Rp 33.000

-d). Pengelolaan dan Kontrol Keuangan: Manajemen keuangan dilakukan secara teratur untuk menjaga kestabilan usaha.

Pencatatan transaksi harian dilakukan baik secara manual seperti BukuKas, guna mencatat seluruh pemasukan dan pengeluaran.

Laporan bulanan disusun setiap akhir bulan, meliputi laporan arus kas, laporan laba rugi, dan posisi keuangan usaha.

-e) Permasalahan yang Dihadapi: 1. Ketidakstabilan Harga Bahan Pokok:

-1. Fluktuasi harga bahan baku seperti daging sapi dan minyak goreng sering menyebabkan pengeluaran membengkak, sehingga memengaruhi margin keuntungan.

-2. Pengelolaan Stok yang Kurang Optimal: Terkadang terjadi pembelian bahan dalam jumlah berlebihan, yang tidak habis terjual sehingga menyebabkan pemborosan dan kerugian akibat bahan yang rusak atau kedaluwarsa.

-3. Campur Aduk Keuangan Pribadi dan Usaha: Pada awal usaha, belum ada pemisahan yang jelas antara dana pribadi dan dana operasional. Namun seiring waktu, pemilik mulai belajar membuat pencatatan lebih rapi dan terpisah, bahkan mulai menggunakan aplikasi pencatatan untuk meningkatkan akurasi dan transparansi keuangan.

(Mahasiswa Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, Observator Kelompok 7: Edwin Satriyani Ganti (2022008090), Windi Diasty Lawalata (2022008088), Novelisty Wisye Loimalitna (2022008098), Muhammad Andy Fajar (2018008199), Arnoldus Fredrosi Da Costa (2022008119). Dosen Pengampu: Dika Prawita, S.Sos., M.M. Email: wiwinsatriyani@gmail.com)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita