Jumat, 23/05/2025, 11:41:11
Dua Legislator Dukung Karya Sastra Tegalan: Upaya Nyata Menjaga Warisan Budaya Lokal
DUKUNGAN NYATA MORIL-FINANSIAL
LAPORAN SL. GAHARU

Drs. H. Masfui Masduki, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah (kiri) dan Dr. H. Abdul Fikri Faqih, anggota DPR RI. (Foto: Istimewa)

PanturaNews (Tegal) - Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi budaya populer, keberadaan budaya lokal sering kali terpinggirkan. Bahasa daerah sebagai salah satu elemen utama identitas kultural, kini berada di ambang kepunahan jika tidak dirawat secara serius.

Namun, di antara berbagai tantangan itu, masih ada sosok-sosok yang peduli dan terus memperjuangkan kelestarian budaya lokal, termasuk Sastra Tegalan. Dua di antaranya adalah Drs. H. Masfui Masduki, MM, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, dan Dr. H. Abdul Fikri Faqih, MM, anggota DPR RI.

Keduanya menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap sastra dan budaya Tegal, dengan membeli dan mendukung terbitnya karya-karya sastra Tegalan, khususnya karya sastrawan Lanang Setiawan.

Setiap kali Lanang Setiawan menerbitkan buku, baik berupa novel maupun kumpulan puisi dalam bahasa Tegalan, dua legislator ini selalu memesan beberapa eksemplar sebagai bentuk dukungan nyata. Tak hanya mendukung secara moral, mereka juga membeli karya-karya tersebut secara langsung, dengan pembayaran melalui transfer pribadi.

“Sastra daerah adalah wajah budaya kita. Kalau bukan kita yang menghargai, siapa lagi? Jangan sampai warisan budaya seperti bahasa Tegalan lenyap begitu saja,” ujar Masfui saat diwawancarai, Kamis 22 Mei 2025.

Masfui yang juga merupakan tokoh masyarakat Tegal, menganggap sastra berbahasa ibu sebagai bagian penting dalam membangun kesadaran sejarah dan identitas lokal. Ia yakin bahwa bahasa daerah memiliki nilai filosofis yang dalam, serta mengandung kearifan lokal yang tak tergantikan.

Hal senada diungkapkan oleh Abdul Fikri Faqih. Menurutnya, literasi lokal seperti novel dan cerita rakyat Tegalan, merupakan sarana yang sangat strategis untuk memperkuat karakter bangsa dari akar rumput.

“Menjunjung tinggi bahasa ibu adalah kewajiban kita sebagai putra daerah. Tegalan bukan hanya alat komunikasi, tapi juga wadah ekspresi kultural yang membentuk jati diri masyarakat Tegal,” tutur Fikri.

Adapun karya-karya Lanang Setiawan yang telah mereka dukung antara lain: Rangga Mey Hua Simfoni Digital, Panawijen Ngandong Geni, Jaga Kali:Ora Bisa Disilih Tresna, dan Lenggaong Asmara Nyi Ronggeng.

Keempat novel ini menggunakan bahasa Tegalan yang khas, menyajikan narasi lokal dengan latar kehidupan masyarakat Tegal, mulai dari kisah romantis hingga pergulatan sosial budaya yang membumi.

Dukungan Masfui dan Fikri tak hanya menjadi suntikan semangat bagi penulis lokal, tetapi juga memberi pesan kuat bahwa budaya daerah masih memiliki tempat dan nilai yang harus terus dijaga.

Lanang Setiawan, sebagai pelopor Sastra Tegalan, mengaku terharu dan berterima kasih atas dukungan dua legislator tersebut. Menurutnya, perhatian semacam itu sangat langka di era sekarang.

“Banyak seniman lokal merasa terpinggirkan. Dukungan seperti ini sangat berarti, bukan hanya secara ekonomi, tapi juga secara moral dan semangat berkarya,” ujar Lanang.

Sastra Tegalan yang dulunya dianggap hanya milik masyarakat bawah, kini mulai diakui sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional. Bahasa Tegalan dengan logat dan ekspresi khasnya merekam dinamika masyarakat pesisir Pantura, khususnya wilayah Tegal dan sekitarnya. Cerita-cerita rakyat, humor lokal, hingga nilai-nilai luhur masyarakat tergambar dalam setiap bait puisi dan bab dalam novel berbahasa Tegalan.

Pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui festival atau seminar, tetapi juga melalui tindakan konkret seperti mendukung karya sastra lokal. Apa yang dilakukan Masfui dan Fikri menjadi contoh bahwa menjaga bahasa ibu bukan sekadar romantisme, melainkan sebuah gerakan kebudayaan yang harus ditanamkan dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam konteks ini, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, serta komunitas literasi perlu menjadikan bahasa daerah sebagai bagian integral dari pembelajaran dan kegiatan kebudayaan. Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan merawat budayanya sendiri.

Tegal memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Mulai dari bahasa, kesenian, makanan, hingga cerita rakyat. Semua itu perlu didokumentasikan dan dihidupkan kembali melalui karya-karya kreatif. Peran para legislator, tokoh masyarakat, dan seniman sangat penting dalam menjaga nyala budaya lokal agar tidak padam di tengah gempuran budaya global.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita