SAMPAH plastik yang menumpuk merupakan salah satu masalah yang sering dijumpai di lingkungan masyarakat, karena seperti yang diketahui bahwa sampah plastik sukar diuraikan sehingga dapat mencemari lingkungan. Meski dapat diolah kembali, sampah plastik memiliki tantangan tersendiri.
Pembakaran terbuka dapat menghasilkan polusi udara berbahaya yang berisiko menyebabkan kanker. Selain itu, sampah plastik berpotensi mencemari berbagai komponen lingkungan seperti air, tanah, dan ekosistem perairan (Ningsih, & Laily.2023).
Menurut penelitian yang dilakukan Jenna Jambeck yang berasal dari Amerika, Indonesia adalah salah satu penghasil sampah plastik nomor dua di dunia (Warlina, L., 2019).
Salah satu sampah yang mendominasi adalah sampah botol plastik, setiap tahunnya miliaran botol plastik sekali pakai diproduksi dan dibuang, dengan sebagian besar dari sampah botol plastik tersebut berakhir di tempat pembuangan akhir lalu sebagian lainnya berakhir mencemari lautan.
Guna mengurangi krisis menumpuknya sampah botol plastik, cara yang paling mudah dilakukan adalah memanfaatkan kembali menjadi barang yang berguna. Salah satu pemanfaatan botol plastik secara inovatif adalah dengan menggunakannya sebagai media tanam secara hidroponik.
Hal ini didukung oleh pendapat Annizham, dkk. (2023) bahwasannya penggunaan media tanam botol bekas dalam sistem hidroponik menjadi langkah solutif dalam hal pengurangan sampah. Sistem tanam hidroponik adalah pembudidayaan tanaman menggunakan media tanam selain tanah seperti rockwool, arang sekam, padi, kapas dan lainnya, sehingga sistem ini sangat berguna di lahan yang kurang memadai (Hidayat, dkk., 2023).
Karena tanpa penggunaan tanah, budidaya secara hidroponik menggunakan air sebagai media untuk penyaluran nutrisi nya (Laily, dkk., 2022). Pembuatan media bertanam sayuran dengan konsep hidroponik tidak terlalu sulit, begitu pula dengan bahan-bahan yang digunakan cukup mudah untuk didapatkan. Dari sisi ekonomi cukup murah. Budidaya hidroponik pada umumnya menggunakan paralon sebagai media untuk tanaman bertumbuh (Roidah, 2014).
Meskipun begitu botol plastik juga dapat digunakan sebagai alternatif lainnya. Oleh karena itu diadakannya sosialisasi dan pelatihan ini bertujuan untuk memberikan contoh serta ilmu mengenai budidaya hidroponik menggunakan botol plastik bekas.
Pemanfaatan botol plastik bekas untuk budidaya secara hidroponik tidak hanya berkontribusi dalam mengurangi jumlah sampah plastik, tetapi juga sebagai solusi pertanian yang efisien dan berkelanjutan. Meningkatnya populasi manusia mengakibatkan lahan pertanian semakin sempit, sehingga pertanian konvensional yang menggunakan media tanah mengalami berbagai kendala seperti kelangkaan lahan produktif dan degradasi lahan (Putriani, N., dkk., 2023).
Budidaya tanaman secara hidroponik dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin melakukan budidaya tapi tidak memiliki lahan yang cukup luas. Konsep pertanian ini sangat cocok dengan permasalahan yang ada melalui penggunaan konsep pertanian urban farming yang banyak dilakukan di wilayah perkotaan (Rizkiyah, Wijayanti, & Rozci ., 2022).
Pengurangan Sampah Plastik: Menggunakan botol bekas untuk menanam murbei dapat mengurangi sampah plastik yang mencemari lingkungan. Botol-botol ini bisa diubah menjadi pot tanaman yang berguna, mengurangi jumlah sampah plastik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir.
Biaya Rendah: Botol bekas mudah didapatkan dan tidak memerlukan biaya tambahan untuk membeli pot tanam. Ini menjadikannya alternatif yang hemat biaya, terutama bagi masyarakat dengan anggaran terbatas.
Penyuluhan dan Edukasi Lingkungan: Menggunakan botol bekas untuk menanam dapat menjadi sarana edukasi tentang pentingnya daur ulang dan bagaimana kita bisa memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak terpakai menjadi sesuatu yang berguna. Ini juga mengajarkan pentingnya keberlanjutan dalam bercocok tanam.
Pengelolaan Ruang yang Efisien: Botol bekas bisa digunakan untuk menanam murbei di ruang terbatas, misalnya di halaman sempit atau bahkan di dalam ruangan. Ini memungkinkan orang yang tinggal di apartemen atau rumah dengan lahan terbatas untuk tetap menikmati hasil pertanian.
Kontrol yang Lebih Baik terhadap Pertumbuhan Tanaman: Menggunakan botol bekas memungkinkan kita untuk lebih mudah mengontrol ukuran, kedalaman, dan kualitas tanah yang digunakan untuk tanaman murbei. Dengan sistem tanam vertikal atau semi-vertikal, tanaman bisa mendapatkan pencahayaan yang lebih baik.
Pemanfaatan Sumber Daya Lokal: Banyak botol bekas yang tersedia di sekitar kita, sehingga memungkinkan masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya lokal tanpa harus bergantung pada produk baru yang berpotensi lebih mahal dan memakan lebih banyak energi untuk diproduksi.
Secara keseluruhan, menggunakan botol bekas untuk penanaman buah murbei memberikan solusi yang ramah lingkungan , ekonomis dan juga efektif dalam mendukung keberlanjutan hidup masyarakat dalam berkebun.
Ubah botol bekas menjadi sistem taman vertikal untuk murbei. Dengan memotong botol bekas dan menatanya secara vertikal, kamu bisa membuat taman kecil di dinding atau sudut sempit. Hal ini bisa menghemat ruang dan mempercantik area rumah.
Gunakan botol bekas sebagai pot untuk tanaman murbei, dengan menambahkan lubang di bagian bawah untuk drainase. Buat sistem irigasi otomatis menggunakan botol lain yang diisi air dan dibalik di atas tanah, sehingga air akan mengalir perlahan ke tanaman.
Gunakan botol bekas yang dibelah dua untuk melindungi tanaman murbei dari hama, seperti siput atau serangga, dengan menempatkannya di sekitar batang tanaman. Ini bisa menjadi alternatif dari pestisida kimia.
Cobalah menggunakan botol bekas untuk menanam murbei dengan sistem hidroponik. Potong botol, masukkan media tanam hidroponik, dan tambahkan larutan nutrisi agar murbei dapat tumbuh dengan baik.
Dengan kreativitas, botol bekas bisa jadi bahan yang sangat berguna untuk berbagai teknik penanaman yang ramah lingkungan.
(Referensi: Annizham, R., & Setiawan, R. F. (2023). Pelatihan Budidaya Tanaman Hidroponik Dengan Media Tanam Botol Bekas Di Desa Ngepoh, Kecamatan Dringu Propobolinggo. Musyawarah: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1(3), 122-132.
Hidayat, K. R. A., et al. (2023). Penyuluhan Dan Pelatihan Hidroponik Di Kelompok Wanita Tani Melati Kelurahan Kepanjen Kidul Kota Blitar. Karya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(1), 1-4.
Laily, D. W., Atasa, D., & Wijayanti, P. D. (2022). Strategi Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pelatihan Hidroponik Pada Masa Pendemi Covid-19. Jurnal Pengembangan Masyarakat Lokal, 5(1), 26-31.
Mulasari, S. A. (2018). Penerapan teknologi tepat guna (penanam hidroponik menggunakan media tanam) bagi masyarakat Sosrowijayan Yogyakarta. Jurnal Pemberdayaan: Publikasi Hasil Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(3), 425-430.)