KESEHATAN mental di masyarakat masih menjadi suatu hal yang tabu untuk dibahas dan ditangani dengan serius. Banyak masyarakat masih menganggap bahwa kesehatan mental merupakan suatu hal yang sepele.
Kesehatan mental merupakan kesehatan keseluruhan dari cara berpikir, mengatur perasaan, dan berperilaku. Penyakit mental, atau gangguan kesehatan mental, didefinisikan sebagai pola atau perubahan dalamberpikir, merasakan, atau berperilaku yang menyebabkan penderitaan atau mengganggu kemampuan seseorang untuk berfungsi.
Stigma masyarakat mengenai kesehatan mental, seringkali terjadi di lingkungan keluarga dan sekolah. Di lingkungan keluarga masih kurang memahami betapa pentingnya kesehatan mental.
Banyak orang tua yang tak menyadari soal kesehatan mental anak-anaknya karenadianggap masih kecil yang belum matang secara emosi. Di kalangan anak-anak ditemukan bahwa permainan digital atau online menimbulkan masalah kesehatan mentalbagi anak-anak di zaman sekarang dan bahkan mengarah pada kondisi mental illness.
Akibat dari ketidakpahaman orang tua mengenai kesehatan mental membuat anakmerasa ragu atau takut untuk terbuka dengan orang tuanya. Orang tua yang paham akan pentingnya kesehatan mental pastinya memiliki sebuahtimbal balik yang positif seperti mendukung anaknya baik secara hobi, prestasi atau hal-hal kecil.
Termasuk memberikan solusi yang baik, dan dapat mengarahkan anaknya agar tidak salah jalan. Sehingga anak yang mereka didik dapat tumbuh menjadi anak yang memiliki jiwa yang baik dan sehat seperti sifat ceria, pantang menyerah, dan sebagainya serta berperilaku sopan dan santun.
Di lingkungan sekolah terkadang ada beberapa guru juga menyepelekan kesehatanmental muridnya seperti memaki mereka dengan kata yang tidak baik atau menganggap mereka buruk karena satu kesalahan yang pernah mereka perbuat. Tidak hanya perlakuan dari guru, murid bisa juga karena dibully oleh temannya, seperti diejek, diremehkan, didorong, dipalak, pemukulan dan sebagainya.
Sehingga korban merasa trauma dankemudian mogok sekolah. Tahun-tahun Dasar merupakan tahap kehidupan yang penting bagi kesehatan mental karena anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan otak yang pesat. Padamasa ini, anak-anak memperoleh keterampilan kognitif dan sosial-emosional yang akan membentuk kesehatan mental dan kesuksesan mereka di masyarakat di masa depan.
Mengingat banyaknya waktu yang dihabiskan anak-anak di sekolah, maka menjadi tanggung jawab pemandu kelas untuk mendukung kesehatan dan kesejahteraan setiap siswa secara keseluruhan selama masa formatif dalam hidup mereka.
Sifat lingkungan anak berdampak pada kesejahteraan mereka secara keseluruhan. Pengalaman negatif di rumah, di ruang kelas, dan di dunia digital dapat berdampak buruk pada kesejahteraan mental siswa sekolah dasar.
Beberapa contoh umum termasuk kemiskinan, kecenderungan genetik terhadap penyakit mental, paparan kekerasan, penyakit mental orang tua atau pengasuh lainnya, dan terlintas. Gejala stres atau kesusahan berubah seiring waktu, seiring pertumbuhan anak.
Tanda-tanda peringatan mungkin mencakup kesulitan dalam cara anak bermain, belajar, berbicara, dan bertindak, atau cara anak mengatur dan berkomunikasi emosinya. Mengamati dengan cermat untuk mengidentifikasi pola perilaku dan temperamen khas siswa, akan memungkinkan pemandu Montessori mengenali perubahan yang terus-menerus.
Untuk siswa yang mungkin masih baru di kelas, pendidik dapat mengetahui perilaku yang tidak terduga pada anak berdasarkan usia dan tahap perkembangan. Menyajikan kepada pengasuh tentang perilaku yang mereka lihat di rumah juga dapat membantu dalam mengidentifikasi apa yang dianggap sebagai perilaku normal pada setiap anak.
Beberapa langkah dapat ditempuh pengelola sekolah dalam rangka menjaga kesehatan mental siswa-siswa, bahkan dengan langkah sederhana, yaitu dengan cara sekolah dapat menggandeng dinas kesehatan untuk menyosialisasikan kesehatan jiwa dan memaparkan tindakan yang harus dilakukan, apabila mendapatkan perlakuan yang tidak seharusnya seperti kekerasan hingga perundungan.
Selain itu, motivasi dari guru yang selalu disisipkan dalam setiap pembelajaran juga cukup membantu. Meskipun terkesan belum optimal, motivasi-motivasi yang diberikan guru dapat memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan psikologi siswa.
Untuk mencapai perilaku anak yang baik dan sehat mental bukan menjadi guru yang galak, namun guru yang berwibawa, disiplin dan tanggung jawab. Anak akan segandan menerima baik guru yang demikian, karena guru dapat berperan sebagai teman bukan sebagai orang yang ditakuti.
Guru berperan untuk melakukan observasi, mencari informasi, melakukan pendekatan pada anak dan memikirkan cara efektif yang dapat digunakan agar anak bisa menyesuaikan diri di lingkungannya. Kedekatan antara guru dan siswa, perhatian kecil yang diberikan, perlakukan yang sama akan memberikan dampak yang besar pada kesehatan mental siswa.
Guru tidak dapat mengabaikan sekecil apa pun perubahan siswa-siswa di kelas dengan terus memantau, memberikan jawaban, serta menawarkan solusi terbaik dari setiap masalah yang dihadapi. Hal yang penting dalam kesehatan mental adalah menerima.
Menerima setiap keunikan anak, menerima kekurangan dan kelebihan anak serta menerima setiap kritik dan saran yang diberikan kepada guru. Siswa memiliki cara pandang dan permasalahannya sendiri. Tidak adil bila kita menilai dan menghakimi beban dan kesehatan mentalnya dari sudut pandang kita sebagai orang dewasa. Terlebih lagi, kita memiliki peranan penting dalam menjaga kesehatan mental siswa selama kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Berikut beberapa cara menjagakesehatan mental siswa yang dapat kita lakukan, Guru Pintar.
-Pertama yaitu Selalu Berkomunikasi dengan Orang Tua: Orang tua sejatinya adalahpartner kita dalam mendidik siswa. Demi menjaga kesehatan mental siswa, penting bagiguru untuk senantiasa berkomunikasi dengan orang tua/wali murid secara intensif.
Apakah siswa mengalami kesulitan belajar, bagaimana kebiasaannya belajar di rumah, apakah ada perubahan tertentu terkait dengan keadaannya, dan lain sebagainya, semuaitu perlu dirundingkan bersama antara guru dan orang tua supaya segera dapat dicarikan solusi.
-Kedua yaitu dengan cara Teacher-Student Talk: Ada kalanya siswa merasa tidak terhubung dengan gurunya meskipun hampir setiap hari berinteraksi di sekolah. Ketiadaan bonding antara guru dan siswa seperti ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan mungkin berkontribusi terhadap gangguan kesehatan mental siswa.
Mental illness adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan gangguan-gangguan seperti depresi, anxiety, bipolar, skizofrenia, kecanduan, dan lain-lain yang memengaruhi cara kita berpikir, merasakan, dan berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
-Ketiga Menciptakan Sistem Pembelajaran yang Ramah Anak dan Bermakna: Pembelajaran yang ramah anak dan bermakna adalah pembelajaran yang berpusat pada anak tanpa mengabaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Tak jarang siswa merasa bosan, ditambah dengan tumpukan tugas yang banyak, yang menyebabkan penyakit mental dan stres pada anak.
Agar pembelajaran tidak memiliki dampak gangguan kesehatan mental pada anak, guru dituntut untuk mampu merancang system pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran di kelas semestinya memiliki dinamika yang dapat mengurangi rasa bosan siswa. Ajak siswa berinteraksi dan menggerakkan badan, buat kegiatan dan media pembelajaran yang bervariasi, atau libatkan penggunaan teknologi supaya siswa tetap merasa senang dan bersemangat dalam belajar.
Agar siswa tidak "tenggelam" dalam tugas sekolah, kita dapat menyiasatinya dengan memberi pilihan cara menyelesaikan tugas. Dengan demikian, siswa tidak merasa terbebani saat mengerjakan tugas.
Tips lain untuk meminimalkan dampak gangguan kesehatan mental yang diakibatkan oleh tugas sekolah, adalah dengan membuat variasi bentuk tugas. Kita dapat memberikan kuis interaktif, projek, atau alternatif penggantitugas yang lain.
Selain itu, kita dapat berperan dalam memberikan informasi yang bermanfaat kepada orang tua tentang penyebab gangguan kesehatan mental, dampak gangguan kesehatan mental, maupun ciri-ciri gangguan mental pada remaja. Sharing informasi seperti ini merupakan sebagian usaha yang menunjang kesehatan mental siswa.
Menjaga kesehatan mental merupakan keterampilan dan kemampuan yang sama-sama dibutuhkan oleh guru maupun siswa. Guru dan siswa yang sejahtera secara mental dapat bersama-sama menciptakan lingkungan belajar yang positif dan produktif.
Oleh sebab itu, dibutuhkan dukungan lingkungan pembelajaran yang memprioritaskan perhatian pada kesehatan mental dan pengembangan diri yang holistik, baik bagi gurusendiri maupun siswa. Dengan upaya kolaboratif yang melibatkan pendekatan preventifdan intervensi yang tepat, kita berharap sistem pendidikan akan dapat melahirkan generasi yang tangguh, berdaya saing, dan mampu mengatasi tantangan kehidupandengan lebih baik.
Apabila secara psikologis siswa memiliki kesehatan mental yang baik, maka berpotensi pencapaian di bidang pribadi serta dalam hubungan sosial. Peserta didik yang sehat secara mental akan mampu untuk berprestasi di sekolahnya.
Hal inilah menjadi acuan yang penting dalam membangun pendidikan yang berkualitas melalui peserta didiknya yang sehat secara mental di lingkungan keluarga, dan sekolah yang sehat secara mental, sehingga adanya kedamaian di lingkungan keluarga, sekolah, dan umumnya masyarakat.