Sabtu, 29/07/2023, 23:27:28
Budidaya Rumput Laut, Jadi Mata Pencahrian Warga Desa Toropot, Bokan Kepulauan
Oleh: Nurul Hasanah
--None--

MATA pencahrian merupakan suatu kegiatan, atau pekerjaan yang di laukan oleh seseorang adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Mata pencahrian menurut (Mulyadi, 1993) adalah seluruh kegiatan untuk mengeksploitasi dan memanfaat kan sumbar-sumber daya yang ad di lingkungan fisik, sosial, dan budaya yang tewujud sebagai kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi.

Pesisir pantai pada dasarnya identik dengan nelayan. Kegiatan ekonomi yang utama berhubungan dengan kehidupan penangkapan ikan dan olahannya, sehingga kehidupan petani ikan laut (disebut: Nelayan) tergantung sepenuhnya pada kondisi laut dan isinya.

-Lingkungan masyarakat Desa Toropot

Secara umum Pengertian Masyarakat adalah sekumpulan individu-individu yang hidup bersama, bekerja sama untuk memperoleh kepentingan bersama yang telah memiliki tatanan kehidupan, norma-norma, dan adat istiadat yang ditaati dalam lingkungannya.

Kecamatan Bokan Kepulauan mempunyai desa sebanyak 16 Desa di antaranya yaitu Desa Toropot. Sebagian besar penduduk Indonesia di wilayah pesisir memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, baik nelayan tangkap maupun pembudidaya.

Rumput laut merupakan salah satu komoditas yang dibudidayakan pada perikanan budidaya. Di mana 80% di huni oleh masyarakat yang bermata pencahrian di laut, lebih di kenal dengan sebutan nelayan.

Desa Toropot adalah salah satu desa yang terletak di Sulawesi Tengah, yang bertempat Kabupaten Banggai Laut, Kecamatan Bokan Kepulawan.

Penduduk Desa Toropot secara umum hampir mencapai 5000 jiwa, yang terdiri dari empat dusun, dan termasuk desa terbanyak menempati kependudukan serta memiliki dua mata pencarian yaitu, Nelayan dan Petani, namun lebih dominan pada nelayan yang di mana Desa Toropot sendiri bisa di katakan desa terapung karena berada di atas air laut.

Nelayannya mempunyai berbagai mata  mata Pencahrian, Ada Sebagian mayarakat yang bekerja sebagai tenaga pengajar(Gurau), dan ada juga pekerjaan nya sebagai Pemdes (Pemerintah Desa), dan PNS hanya mencapai 10%, Tapi lebih mendominasi mata pencahrian yang diolah oleh masyarakat yaitu di laut, yang petama ada nelayan, yang  mengolah rumput laut (Agar-agar).

Agar-agar sendiri, adalah salah satu jenis rumput laut yang punya tekhnik mengolah tersendiri yang berbeda, yaitu dengan cara berembang biak di kulit air dengan tali terbentang menggunakan pengapung. seperti botol bekas minum.

Agar-agar (rumput laut), di tanam ketika musim utara di mana musim utara adalah musim yang baik untuk mengolah rumput laut tersebut. Menurut para ahli penanam rumput laut.

Nelayan panangkap ikan di Desa Toropot, ketika gelombang air tinggi maka mereka beralih mata pencahrian sementara menjadi pengolah rumput laut. Dan rumput laut akan di panen setelah tiga bulan, itupun ketika berhasil panen. Itulah pencaharian tambahan untuk masyarakat yang pekerjaannya sebagai nelayan,

Rumput laut bisa di katakana berhasil tergantung dari gelombang arus di permukaan laut, jika gelobang terlalu kencang atau kuat maka rumput laut tiak bisa berkembang denagn baik karena bisa saja rumput laut lepas dari ikatan nya.

Begitupun sebalik nya jika gelombang atau arus tidak ada makan akan membawa penyakit bagi rumput laut, yaitu timbulnya lumut-lumut air yang akan mencegah pertumbukan rumput laut. 80% nelayan di Desa Toropot mengolah rumput laut ketika musim Utara tiba, karena di prediksi hamprim 90% panen berhasil di saat musim tersebut. Dan hanya 20% gagal.

Rumput laut di pasang dengan teknis tertentu, Jika rumput laut di pasang dengan benar, maka potensi berhasil bisa di katakan 50% dan 50% lagi tergantung musimnya.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita