Sabtu, 29/07/2023, 08:41:01
Kerajinan Rebana, Potensi Mata Pencaharian Warga di Sekitar Desa Kaliwadas
Oleh: Bunga Rintan Nazaria
--None--

MATA Pencaharian adalah macam kegiatan pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan oleh penduduk yang termasuk dalam golongan bekerja, sedang mencari pekerjaan, dan pernah bekerja dengan tujuan mendapatkan penghasilan, dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup selama minimal seminggu sebelum waktu pencatatan data (BPS, 2010).

Mata pencaharian menurut (Mulyadi, 1993) adalah keseluruhan kegiatan untuk mengeksploitasi dan memanfaatkan sumber-sumber daya yang ada pada lingkungan fisik, sosial, dan budaya yang terwujud sebagai kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi.

Jadi, mata pencaharian dapat diartikan sebagai suatu usaha manusia untuk mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dengan memanfaatkan sumber daya alam lingkungan sekitar.

Warga daerah atau dapat dikatakan sebagai penduduk, menurut UUD 1945 pasal 26 ayat (2) penduduk adalah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia.

Sedangkan menurut Said (2012) yang dimaksud dengan penduduk adalah jumlah orang yang bertempat tinggal di suatu wilayah pada waktu tertentu dan merupakan hasil dari proses-proses demografi yaitu fertilitas, mortalitas, dan migrasi.

Kaliwadas adalah desa di Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Terdiri dari lima Rukun Warga yang meliputi pedukuhan Watujaya-Congkar, Krajan Utara, Krajan tengah, Krajan Kidul dan Kecepit-Kedungkudi-Cimempek atau denga jumlah 39 RT dan 5 Rw.

Di pedukuhan Krajan Utara terdapat kerajinan alat musik rebana, Marawis, Beduk hingga Marching Band yang sudah dirintis oleh bapak Madali ( alm. ) dan bapak Toip sejak tahun 1940-an.pada tahun 1970-an seorang pengusaha dari Tasikmalaya, Jawa Barat bernama Haji Sulaeman (almarhum) datang berkunjung.

Beliau merasa tertarik melihat keuletan bapak Toip yang notabene pembantu bapak Madali, sehingga kemudian mengajaknya bekerja sama agar mandiri dan maju, dengan memberinya modal gratis, dengan syarat produk rebananya harus dijual kepada beliau! Kebetulan Haji Sulaiman sudah memiliki toko pernak-pernik kerajinan di daerah Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara.

Dari industri kecil rumahan inilah tarap ekonomi khususnya warga krajan Utara desa Kaliwadas semakin mapan. Terutama dimulai pada tahun 1990-an ketika alat musik khususnya yang Islami kian merambah ke berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.

Rebana adalah perkusi yang telah melekat begitu lama dan terkait sangat erat dengan seni tradisi Islam. Karena dipakai untuk mengiringi nyanyian-nyanyian dengan konten syair yang penuh dakwah, puji-pujian kepada nabi, sholawat, dan nyanyian islami lainnya.

Tidak salah lagi jika sekarang mayoritas penduduk masyarakat desa kaliwadas mempunyai usaha kerajianan alat mudik rebana, Marawis, Beduk hingga Marching Band. Maka tidak heran, apabila kita mengunjungi Kaliwadas, banyak dijumpai home industri atau pengrajin rumahan yang membuat alat musik rebana.

Beliau adalah seorang ibu rumah tangga yang membantu suminya dalam berbisnis, suami beliau telah merintis usaha ini sejak dia berada di bangku SMA pada tahun 1995 .maka tidak heran bahwa usaha ini turun temurun dari leluhurnya,

Untuk produksinya sendiri terdiri dari berbagai ukuran dari yang kecil hingga yang paling besar. Bahan baku bingkai terbagus terbuat dari kayu sawo, kayu sana keling dan kayu laban.

Namun yang paling banyak dipakai saat ini adalah kayu mangga dan suyudan karena gampang didapat. "Saat sekarang ini, bahan bingkai yang banyak dipakai dari kayu mangga," ungkap ibu fadila salah satu pengrajin rebana rumahan.

Untuk penjualan nya sendiri ada beberapa perumahan yang hanya membuat barang setengah jadi lalu di jual ke pengepul dan adapun yang menjual siap pakai. Dan untuk pemesanan ramai di bulan mulud dan haji ,di bulan tersebut lah biasanya pesanan lebih dari biasanya bisa sampai 5 kodi rebana ujar ibu Fadilah

Maka tidak heran jika warga Desa Kaliwadas memilih mata pencaharian menjadi pengrajin rebana, karena bisa memenuhi kebutuhan hidup dan menjadi sumber mata pencaharian. Dengan bahan seadanya tetapi mereka mempunyai keterampilan, akhirnya menjadi suatu sumber mata pencaharian dan bisa sampai tembus ke mancanegara.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita