Rabu, 08/02/2023, 22:00:32
Meningkatkan Keaktifan Peserta Didik Dalam Pembelajaran Matematika
Oleh: Dina Awalia Salsabila & Anwar Ardani, M.Pd
--None--

PENINGKATAN adalah proses, cara perbuatan untuk menaikan sesuatu atau usaha kegiatan untuk memajukan sesuatu,kesesuatu yang lebih baik lagi dari pada sebelunya.Keaktifan adalah aktivtas secara langsung dalam interaksi dengan lingkungan sehingga dapat menghasilkan perubahan pengetahuan,pemahaman dan sikap.

Peserta Didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjag dan jenis Pendidikan tertentu.Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.Matematika adalah bidang ilmu, yang mencakup studi tentang topik-topik seperti bilangan, rumus dan struktur terkait, bangun dan ruang tempat mereka berada, dan besaran serta perubahannya.

Pendidikan dasar merupakan dasar atau fundamental dari jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Oleh karena itu semua mata pelajaran yang diajarkan harus ditingkatkan kualitasnya. Untuk meningkatkan kualitas dalam proses pembelajaran tidaklah cukup hanya menggunakan salah satu pendekatan saja, melainkan harus menggunakan beberapa pendekatan.

Hal ini dimaksudkan agar materi pelajaran yang diberikan dapat dikuasai dengan baik dengan tujuan yang diharapkan. Salah satu mata pelajaran di sekolah menengah yang perlu ditingkatkan kualitas adalah mata pelajaran Matematika. Mata pelajaran Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang memegang peranan penting dan wajib diberikan kepada setiap sekolah dari jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi.

Selama ini proses pembelajaran Matematika kebanyakan masih menggunakan paradigma yang lama dimana guru memberikan pengetahuan kepada siswa yang pasif. Guru mengajar dengan metode konvensional yaitu metode ceramah dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengar, catat dan hafal, sehingga Kegiatan Belajar Mengajar menjadi monoton dan kurang menarik perhatian siswa.

Kondisi seperti itu tidak akan meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami mata pelajaran Matematika. Akibatnya nilai akhir yang dicapai siswa tidak seperti yang diharapkan. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pendekatan pengajaran yang efektif dalam pencapaian tujuan pendidikan, khususnya dalam Keterampilan Interpersonal siswa.

Turmudi (2009:21-22) berpendapat kiranya kita bisa berharap bahwa di dalam kelas matematika hendaknya para siswa dapat didorong untuk berbuat sebagaimana hal-hal berikut:

-(1) para siswa berpikir bagaimana mereka memberikan atau membuat dugaan sementara dari suatu gejala atau situasi, (2) para siswa melakukan pengamatan dan penyelidikan untuk memberikan jawaban atas dugaan yang dirumuskan atau dugaan yang diberikan, (3) para siswa melakukan kegiatan pembuktian terhadap dugaandugaan yang diberikan, (4) para siswa melakukan diskusi sebagai wujud dari komunikasi.

-(5) para siswa mencoba mengaitkan matematika sebelumnya dengan matematika yang sedang didiskusikan sebagai wujud bentuk connection sedemikian sehingga para siswa menyadari akan kaitan-kaitan yang sangat erat antara topik sebelumnya dengan topik yang sedang dibahas, (6) para siswa mencoba menyakinkan kepada siswa lainnya tentang gagasan-gagsan matematika yang diyakininya dengan memberikan bukti-bukti yang dapat diterima akal pikirannya.

Dari keenam hal yang diungkapkan Turmudi tersebut maka kita dapat menyimpulkan bahwa dalam pembalajaran matematika di kelas, siswa harus lebih aktif untuk memecahkan masalah-masalah yang ada.Untuk menunjang proses pembelajaran yang baik, maka diperlukan metode pembelajaran yang baik pula, yaitu metode pembelajaran yang menyenangkan dan mampu membuat siswa tertarik untuk terlibat lebih aktif dalam pembelajaran.

Salah satu metode pembelajaran yaitu metode Make A Match. Metode Make A Match merupakan salah satu jenis dari metode dalam pembelajaran kooperatif. Make A Macth merupakan teknik belajar mengajar mencari pasangan dengan menggunakan kartu.

Make a macth pertama kali dikembangkan oleh Lorna Curran pada tahun 1994. Salah satu keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan (Rusman, 2012:223).

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita