Gonjang-ganjing kenaikan harga kedelai terutama jenis kedelai impor, selalu mewarnai perjalanan kegiatan ekonomi dalam setiap tahunnya. Kondisi ini tidak sedikit memberi dampak keterpurukan, khususnya bagi pelaku usaha seperti halnya perajin tahu dan tempe berskala rumah tangga.
Bahkan sepanjang tahun 2022 lalu, Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo) sudah beberapakali menyikapi kenaikan harga kedelai ini dengan menggelar aksi mogok produksi khususnya di wilayah Jabodetabek dan Jabar.
Pada bagian lain, masyarakat Indonesia mengalami peningkatan kesadaran tentang pentingnya konsumsi makanan bergizi. Kondisi ini mengakibatkan konsumsi makanan olahan kedelai untuk sumber protein nabati yang sangat bergizi, juga mengalami peningkatan.
Hanya saja tingginya permintaan tersebut tidak berbanding lurus produksi kedelai dalam negeri. Dimana produksi kedelai terus menurun setiap tahunnya, hingga menyebabkan tingkat ketergantungan kedelai Indonesia terhadap impor cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan) yang memproyeksikan, luas panen kedelai nasional terus menurun hingga tahun 2024 medatang.
Pada 2021, proyeksi luas panen kedelai sebesar 362.612 hektare, kemudian jumlahnya turun 5% menjadi 344.612 hektare pada 2022.
Luas panen tersebut diperkirakan turun lagi 5,1% menjadi 326.861 hektare pada 2023, dan kian menurun 5,2% menjadi 309.849 hektare pada 2024.
Penurunan luas panen akan berdampak langsung pada berkurangnya produksi kedelai. Produksi kedelai nasional sebanyak 594,6 ribu ton pada 2022, yang notabene turun 3,05% dari tahun 2021.
Produksi kedelai juga diperkirakan akan terus menurun di kisaran 3% per tahun, hingga mencapai 558,29 ribu ton di tahun 2024.
Kenaikan harga kedelai memberikan dampak yang cukup besar bagi industri tahu maupun tempe dalam skala industri kecil dan rumah tangga dengan modal yang kecil dan akses terhadap pinjaman dana juga terbatas.
Dari penelitian penulis diketahui, sejak sepuluh tahun terakhir terdapat lebih dari tiga industri tahu di RW 01 dan 02 Desa Kalierang harus gulung tikar. Kondisi serupa juga dialami sejumlah perajin tempe di wilayah yang sama, sebagai dampak dari terus melambungnya harga kedelai.
Kenaikan harga kedelai menyebabkan biaya produksi tahu meningkat, walaupun para pengrajin telah menaikkan harga jual tahu namun hasil penerimaan dari penjualan tahu tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan.
Di wilayah Bumiayu, harga kedelai eceran yang berlaku saat ini adalah sebesar Rp 14.000 per kilogram di tingkat Koperasi dan Rp 14.500 per kilogram untuk eceran diluar koperasi.
Berbagi upaya sudah dilakukan perajin untuk mensiasati kenaikan bahan baku olahannya tersebut. Diantaranya mengurangi ukuran hingga menaikan harga jual, namun upaya tersebut tetap saja berdampak pada pendapatan mereka. Hingga pada akhirnya dihadapkan pada dua pilihan, yakni bertahan ditengah keterbatasan pendapatan atau gulung tikar.
Pada akhirnya intervensi pemerintah sangatlah dibutuhkan untuk menyikapi kondisi saat ini. Mulai dari merealisasikan program swasembada kedelai yang saat ini sedang digelorakan, hingga subsidi kedelai bagi perajin yang mengolah sebagai bahan pangan.
(Khansa Apsari Anindita, mahasiswi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Prodi Manajemen di Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)