Asal usul Gunung Slamet
Gunung Slamet adalah gunung yang terletak di antara lima kabupaten di Jawa Tengah (Jateng), yakni Banyumas, Purbalingga, Brebes, Tegal, dan Pemalang. Gunung Slamet juga menjadi gunung paling tinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru. Gunung Slamet adalah gunung tertinggi di Jawa Tengah dan gunung tertinggi kedua di pulau Jawa, setelah gunung Semeru. Gunung Slamet cukup populer sebagai tujuan pendakian meskipun medannya dikenal sulit.
Gunung Slamet sangat menarik untuk di ungkapkan karena merupakan reaktivasi kegiatan vulkanik yang berkembang menjadi sebagai gunung api aktif hingga saat ini.Proses dinamikabumi dan kegiatan vulkanik yang menerus sejak jutaan tahun yang lalu tersebut pelan dan pasti berinteraksi dengan satuan bantuan di sekitarnya yang berakibat pada pembentukan bentang alam, struktur geologi dan kenek ragaman bantuan dan evolusi geografi/purba. Kondisi yang demikian dapat di lihat dengan mudah dengan pencurian oleh penemuan jejak-jejak flora, fauna dan tinggalan budaya manusia/purba(artefaktual).
Nama Gunung Slamet diambil dari bahasa Jawa yang artinya selamat. Nama ini diberikan dengan harapan gunung tersebut tidak pernah meletus besar dan memberikan rasa aman bagi masyarakat yang ada di sekitarnya. Bahkan, dipercaya yang memberi nama Gunung Slamet adalah ulama yang sangat disegani pada masa itu, Syekh Maulana Maghribi, seorang penyebar agama Islam yang berasal dari negeri Rum-Turki. Belakangan, syekh ini disebut Syekh Atas Angin atau Mbah Atas Angin, karena kedatangannya dari jauh, dari sebuah negeri tak dikenal masyarakat lokal.
Keaktifan Gunung Slamet
Gunung Api Selamet merupakan stratovolcano berumur kuarter yang hingga saat ini masih aktif mengalami erupsi,erupsi Gunung slamet di ketahui sejak abad ke-19.Gunung ini aktif dan sering mengalami erupsi skala kecil.pada bulan Mei hingga Juni 2009,Gunung Slamet terus mengeluarkan lava pijar.Sementara pada Maret 2014,Gunung Slamet juga menunjukan aktifitas hingga setatusnya naik menjadi waspada.
Gunung Slamet(3.428 mdpl)di Jawa Tengah status aktif vulkaniknya dari level I menjadi waspada atau level II sejak 10 Maret 2014 pukul 21:00 WIB.Terjadi peningkatan kegempaan dari aktifitas Gunung Slamet sejak 2 Maret lalu. Itu yang menadi alasan Pusat vulkanologi dan mitigasi bencana Geologi (PVMBG)menaikan status dari menjadi waspada.
Apabila Gunung Slamet sampai meletus besar, maka Pulau Jawa akan terbelah menjadi dua bagian. Meski demikian, gunung ini pernah beberapa kali aktif dan membuat fenomena yang menarik.
Gunung Slamet juga terkenal sebagai Gunung keramat, khususnya masyarakat yang tinggal di sekitarnya tak hanya itu, gunung berapi di Jawa tengah ini juga menjadi perhatian para pendaki karena menawarkan trek pendakian yang tak terlupakan.
Bukan hanya menawarkan pemandangan yang menakjubkan, Gunung Slamet juga menyimpan cerita yang menarik, Khususnya adat budaya masyarakat di lereng gunung yang masih di lestarikan sampai saat ini. Tak heran gunung yang terkenal keramat ini tidak boleh di daki sembarangan.
Gunung Slamet adalah sebuah Gunung yang berketinggian 3.432 mdpl dan terletak di antara 5 kabupaten, yaitu Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang. Gunung Slamet merupakan gunung dengan suhu rata-rata paling dingin di pulau Jawa serta curah hujan tahunan paling tinggi di Indonesia yaitu 8.134,00 milimeter (mm) per tahun. Secara astronomis, letak Gunung Slamet berada di antara 7°14’30” Lintang Selatan dan 109°12’30” Bujur Timur.
Letak Gunung Slamet hampir tepat di tengah antara batas pantai utara dan pantai Selatan, serta di kelilingi lima wilayah kabupaten yang berbatasan langsung dengan kabupaten Brebes,Pemalang,Tegal,Banyumas,dan Purbalingga. Sedangkan wilayah yang tidak langsung Cilacap dan kota Tegal.
Gunung Slamet sebagai salah satu unsur alam yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat setempat yang harus diperhatikan dengan baik hal ini diperlukan agar hubungan antara manusia dengan alam tidak sesuai eksploitasi sebaiknya, hubungan ini lebih bersifat saling menjaga sehingga terciptalah keselarasan.
Karakteristik Gunung Slamet
Gunung Slamet adalah gunung api bertipe stratovolcano yang terbentuk akibat pertemuan antara Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia di bagian selatan Pulau Jawa yang dilansir dari laman Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), sejarah letusan Gunung Slamet terekam mulai tahun 1772.
Tipe letusan Gunung Slamet adalah letusan abu disertai lontaran sekoria dan batu pijar, kadang-kadang mengeluarkan lava pijar meski aktivitas Gunung Slamet tergolong fluktuatif namun pada Oktober 2022 tidak ada catatan naiknya intensitas, sehingga statusnya masih berada pada level I (Normal).
Pendakian Lewat Sawangan karena Cuaca Ekstrem
Gunung Slamet via sawangan merupakan jalur baru untuk menuju titik puncak yang berada Didesa Sigedong,Kecamatan Bumijawa kabupaten Tegal, Jawa tengah, ditutup sementara untuk aktivitas pendakian sejak Sabtu,10 Desember 2022.
Penutupan Gunung berketinggian 3.432meter diatas permukaan laut(mdpl)dikarenakan cuaca ekstrem yang melanda kawasan Gunung Slamet. Dan penutupan dilakukan sampai batas waktu yang belum di tentukan.
Basecamp Sawangan sendiri merupakan Basecamp tertinggi dari seluruh Basecamp yang ada untuk mendakipuncak Gunung Slamet. Ketinggian Basecamp Sawangan sudah berada di titik 1.800 mdpl.
Melalui jalur pendakian Sawangan pendaki akan melintasi enam pos pendakian, dimana terdapat satu mata air berupa sungai yang sangat jernih berada di Pos 4(Camp area). Diawal pendakian, pendaki akan melewati perkebunan warga. Uniknya jalur pendakian Sawangan memiliki ciri khas berupa vegetasi hutan yang masih sangat rapat. Di jalur via Sawangan pendaki akan menemui tugu peringatan usai melintasi batas vegetasi. Mulai dari lokasi tugu peringatan itu, pihak pengelola jalur pendakian sudah tidak memperbolehkan pendaki untuk menuju ke gunung Slamet. Cuaca ekstrem yang terus melanda kawasan Gunung Slamet dapat membahayakan keselamatan pendaki, Pasalnya, kontur Gunung Slamet terutama di kawasan Batu Merah menuju puncak dikenal cukup berbahaya terlebih jika terjadi badai
Dunia pendakian pada akhir tahun biasanya ramai karena akhir ini cuacanya cukup ekstrem akhirnya dari pihak tamu pendaki dan pengelolapun mengutuskan ditutup untuk sementara waktu karena mengingat resikonya cukup tinggi ketika ada pendakian juga sebagai langkah untuk mengantisipasi pihak Basecamp agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan kepada para pendaki Gunung Selamet selain itu, suhu yang dingin juga bisa menghambat karena bisa jadi mengalami hipotermia saat dalam perjalanan dan di cuaca yang ekstrem ini juga membuat jalan menjadi licin.
Badai berupa angin kencang dan hujan dengan intensitas tinggi yang menyelimuti Gunung Slamet Dalam kondisi itu, kabut sangat tebal biasanya menyelimuti kawasan lereng Gunung. Di kawasan vegetasi, jarak pandang bisa hanya sekira tiga meter atau kurang. "Kondisi itu sangat membahayakan pendaki.
(Parikhatul Hidayah, adalah mahasiswa di Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes)