Kamis, 18/08/2022, 14:58:36
Tidak Ada Jembatan, Puluhan Siswa di Sirampog Terpaksa Seberangi Sungai Demi Pergi Sekolah
LAPORAN ZAENAL MUTTAQIEN

Warga menggendong anaknya menyeberangi sungai untuk pergi ke seekolah. Tidak ada jembatan warga terpaksa seberangi sungai untuk menuju keluar dukuh (Foto: Zaenal Muttaqin)

PanturaNews (Brebes) - Puluhan siswa di Desa Sridadi Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, terpaksa menyeberangi sungai untuk berangkat ke sekolah. Aktivitas ini dilakukan setiap hari karena ketiadaan jembatan penghubung.

Sepatu dan kaos kaki harus lepas dan celana panjang juga harus dilipat di atas lutut saat menyeberangi Sungai Keruh Behet itu, agar tidak basah oleh air sungai yang mengalir cukup deras.

Para siswa berjalan sangat hati-hati agar tidak tergelincir yang bisa mengakibatkan pakaian dan tas berisi buku-bukunya basah. Mereka adalah siswa-siswa tingkat PAUD/TK, SD dan SMP.

Para orang tua pun, khususnya untuk siswa PAUD/TK dan SD yang masih kelas satu atau dua, biasanya terpaksa anatar jemput dan menggendongnya saat menyeberangi sungai.

"Anak saya masih SD Kelas 2, jadi tiap hari saya antar pulang pergi ke sekolah," kata Dewi (35) salah satu warga, Kamis 18 Agustus 2022.

Menurut Dewi, sudah dua tahun ini jembatan Sungai Keruhbehet putus dan hilang diterjang arus sungai, dan sejak itu anak-anak sekolah dan jiga warga harus turun menyeberangi sungai untuk menuju ke sekolah atau ke tempat lainnya.

"Sudah dua tahun jembatannya diterjang banjir, dan sekarang tidak ada jembatan lagi," ungkapnya.

 

Kepala Desa Sridadi, Sudiryo mengatakan, jembatan Sungai Keruhbehet sudah dua tahun pitus akibat diterjang arus sungaibyang deras saat terjadi hujan.

"Jembatan sudah dua tahun pitua dan hilang diterjang banjir sungai," katanya.

Menurutnya, setelah putus warga swadaya membuat jembatan darurat dengan rakitan bambu, tapi tidak lama jembatan itu hanyut dibawa arus sungai.

"Sejak jembatan putus dua kali dibuat jembatan darurat dari bambu tapi hanyut juga diterjang arus sungai," ungkap Sudiryo.

 

Dikatakan sejak itu tidak lagi ada jembatan darurat dan warga yang lewat terpaknya turun menyeberangi sungai, terutama aiswa sekolah.

"Tapi menyeberangi juga jika sedang tidak hujan, karen kalau hujan sungainya banjir warga tidak berani menyeberang sangat berbahaya," kata Sudiryo.

Sebelum putus jembatan Sungai Keruhbehwt menghubungkan Dukuh Karanganyar dengan Dukuh Legok, Sigombyang, Bojongsari dan Suruhsunda.

Diungkapkan, putusnya jembatan membuat warga khususnya di Dukuh Legok dengan junlah warga mwncaoai 120 Kepala Keluarga atau sekira 500 jiwa kesulitan jalur transportasi.

Anak-anak warga di Dukuh Legok sekolah harus ke luar dukuh. Mulai dari tingkat PAUD, SD dan SMP semua harus ke luar dukuh.

Para pedagang juga kesulitan jalur transportasi, harua memutar arah melalui jalur lain yang jaraknya lima kali lipat atau sekira lima kilometer, sehingga biaya transportasinya menjadi mahal.

Ditambahkan, Pemerintah Desa telah melaporkan ke Pemkab Brebes sejak terjadinya bencana jembatan putus. Usulan untuk permohonan pembangunan jembatan juga dilakukan, namun hingga kini tidak terealisasi.

Pasalnya, kondisi tanah di lokasi sekitar jembatan yang sangat labil dan selalu terjadi pergerakan tanah. Balai Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung yang pernah melakukan survai menyebutkan lokasinya tidak layak untuk dibuat jembatan permanen. 

"Kondisi tanahnya berupa wadas dan tanah liat dan bebatuan yang selalu bergerak, sehingga menurut BMKG kalau dibangun akan pirus lagi dan hanya buang-buang biaya," pungkas Sudiryo.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita