Kamis, 17/02/2022, 12:42:05
Memahami Islam Nusantara
Oleh: Syahrul Romadzon
--None--

INDONESIA bukan merupakan negara Islam, seperti negara-negara yang berada di wilayah timur tengah. Namun, sebagaimana yang telah diketahui, mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam dengan keanekaragaman adat istiadat di daerah masing-masing atau yang sering disebut dengan Islam Nusantara.

Fakta tersebut telah berlangsung lama dan masih melekat pada masyarakat Indonesia sampai saat ini. Berbicara mengenai islam di Indonesia memang merupakan suatu hal yang menarik, karena percampuran kultur dari Persia, Cina, Arab, Jawa, Melayu, Aceh dan sebagainya.

Islam Nusantara sebenarnya adalah Islam yang berkembang di Indonesia dengan segala keanekaragaman yang terdapat disetiap daerah. Namun, akhir-akhir ini Islam Nusantara terus diagaungkan oleh NU. Tapi terlepas dari sebutan Islam Nusantara, pemahaman dan pengakuan pada budaya dan kearifan lokal sedari dulu dilakukan oleh NU.

Sejarah mengenal walisongo atau wali sembilan yang menyebarkan Islam di pulau Jawa sejak abad ke 15. Mereka menyebarkan agama Islam dengan menggunakan metode dakwah yang lembut dan di akulturasikan dengan budaya lokal. Seperti: wayang yang merupakan budaya hindu menjadi sarana dakwah Islam. Selain itu ada musik, tari-tarian, nyanyian kanak-kanak dan lain sebagainya yang menjadi sarana berdakwah Islam.

Islam nusantara sendiri memiliki makna yang beragam. Yang pertama, islam nusantara bermakna Islam yang dipahami dan dipraktikan kemudian terinternalisasi dalam kehidupan masyarakat indonesia. Yang kedua, Islam nusantara merujuk pada geografis, yaitu islam yang berada dikawasan nusantara. Dan ketiga, Islam nusantara adalah percampuran ajaran islam dengan masyarakat nusantara.

Selain makna diatas, beberapa tokoh memberikan pendapatnya terhadap terkait islam nusantara. K.H Said Aqil Siroj berpendapat Islam nusantara sebagai islam yang tidak menghapus budaya. Islam yang tidak memusuhi tradisi dan islam yang tidak menafikan atau menghilangkan kultur. 

Islam nusantara mensinergikan nilai-nilai universal yang bersifat teologis dari tuhan dengan kultural budaya tradisi yang bersifat kreativitas manusia atau insaniah. Sementara itu Lukman Hakim Syaifudin menjelaskan, bahwa Islam nusantara adalah Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur dan agama yang beragam.

Ciri utama dari Islam nusantara adalah tawasut (moderat), rahmah (pengasih) anti radikal, inklusif dan toleran. Dakam hubungannya dengan budaya lokal, islam nusantara menggunakan pendekatan budaya yang simpatik dalam menjalankan syiar islam: ia tidak menghancurkan, merusak, atau membasmi budaya asli.

Tetapi sebaliknya merangkul, menghormati, memelihara serta melestarikan budaya lokal. Salah satu ciri utama dari islam nusantara adalah mempertimbangkan unsur budaya indonesia dalam merumuskan fikih.

Islam nusantara sendiri dikembangkan secara lokal melaui institusi pendidikan tradisional seperti pesantren. Pendidikan ini dibangun berdasarkan sopan santun dan tata krama ketimuran : yakni menekan penghormatan kepada kiai dan ulama sebagai guru agama.

Salah satu aspek khas adalah penekanan pada prinsip Rahmatan lil Alamin ( rahmat bagi semesta alam) sebagai nilai universal islam, yang memajukan perdamaian, toleransi, saling hormat menghormati, serta pandangan yang berbhineka dalam hubungannya dengan sesama umat islam, ataupun hubungan antar agama dengan pemeluk agama lain.

K.H Robikhin Emhas berpendapat kehadiran paham Islam nusantara di Indonesia, adalah untuk melindungi umat Islam dari paham yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.  

Kesimpulanya, Islam Nusantara adalah islam yang berkembang di wilayah Nusantara dan berkembang dengan kultur yang ada diaderah tersebut. Dengan menggunakan pendekatan budaya yang simpatik dalam menjalankan syiar islam: ia tidak menghancurkan, merusak, atau membasmi budaya asli.

Tetapi sebaliknya merangkul, menghormati, memelihara serta melestarikan budaya lokal. Seperti yang digunakan wali songo ketika menyebarkan agama Islam, ia menggunakan budaya sebagai sarana berdakwah.

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita