MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A menerbitkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020, tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Corona Virus Disease (Covid-19), yaitu terkait pembelajaran jarak jauh.
Mendikbud menekankan bahwa pembelajaran dalam jaringan (daring) di era pandemi, dilaksanakan untuk mengurangi penyebaran Covid-19. Mendikbud menganjurkan bagi daerah yang sudah melakukan belajar dari rumah, agar dipastikan guru juga mengajar dari rumah untuk menjaga keamanan para guru.
Apabila seorang guru kesulitan mengajar siswa belajar di rumah karena terkendala gawai ataupun jaringan, seorang guru bisa memberi tugas melalui lembar tulis diantarkan ke rumah siswa masing-masing untuk mengerjakan tugas tersebut.
Mendikbud dalam isi Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 itu, juga menyatakan bahwa pembelajaran daring/jarak jauh difokuskan pada peningkatan pemahaman siswa mengenai dan wabah Covid-19. Adapun aktivitas dan tugas pembelajaran dapat bervariasi antarsiswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk dalam hal kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah. Bukti atau produk aktivitas belajar diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa diharuskan memberi skor.
Walaupun semua sekolah menerapkan belajar dari rumah, bukan berarti guru hanya memberikan pekerjaan saja kepada siswa, tetapi juga ikut berinteraksi dan berkomunikasi membantu peserta didik dalam mengerjakan tugas-tugas siswa. Guru tetap perlu berinteraksi dan berkomunikasi dengan siswanya meskipun tidak dari dalam ruang kelas.
Mengimplementasikan pendidikan karakter disaat pandemi dapat tetap dikawal dan dikontrol oleh para guru. Salah satunya dengan memberikan lembar kontrol karakter. Ada banyak karakter positif yang dapat dikembangkan oleh guru sesuai kompetensi inti dari kurikulum 2013 seperti memiliki sifat religius, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, toleransi, gotong royong, santun, percaya diri, dll.
Guru dapat mengembangkan lembar kontrol untuk diberikan kepada siswa dan orang tua siswa tersebut. Lembar kontrol tersebut dinilai oleh guru, penilaian oleh seorang guru dalam keadaan daring atau belajar di rumah dapat menggunakan instrumen-instrumen berikut ini:
-1. Tugas dari seorang guru kepada siswa, agar siswa tetap belajar dirumah walaupun tidak diruang kelas. Selain itu siswa tetap bisa membangun pendidikan karakter melalui tugas tersebut.
Penilaian seorang guru bisa sama seperti biasa ketika tatap muka atau belajar di kelas namun dengan skema pembelajaran daring, perlu dilakukan penyesuaian. Misalnya, instruksi tertulis yang detail, tapi cukup ringkas, itu akan sangat membantu kepada siswa dalam memahami apa saja yang harus dikerjakan,
-2. Forum diskusi bisa dilakukan di rumah masing-masing. Artinya pembelajaran yang terpisah jarak tak harus membuat komunikasi yang biasa terjalin diruang kelas menjadi terhambat. Ruang kelas bisa berganti dengan ruang maya dimana forum diskusi antarpeserta didik dan siswa dengan guru dapat tetap berlangsung. Forum diskusi bisa dilakukan melalui aplikasi Google Meet, Zoom dan lain sebagainya,
Guru kemudian menguatkan karakter yang sudah baik dan mengubah karakter yang masih tidak sesuai. Guru dapat pula memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi setidaknya dengan mengucapkan selamat di group whatsapp siswa, dan memberikan hukuman melalui whatsapp jalur pribadi agar nama baiknya tetap terjaga dan anak tidak merasa direndahkan di depan teman–temannya.
Siswa juga dapat diberikan ucapan selamat, jika mengerjakan tugas tepat waktu dan diberikan hukuman jika terlambat mengerjakan tugas sebagai bentuk penanaman karakter disiplin.
Pendidikan karakter di masa belajar dari rumah ini harus tetap dikawal dan diawasi oleh guru. Menurut Arifin (2003) tanggung jawab pendidikan karakter ada di tangan kita (guru) bersama demi mewujudkan pembangunan pendidikan nasional yang didasarkan pada paradigma membangun manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia Indonesia yang memiliki keimanan, ketakwaan, akhlak mulia dan budi pekerti yang luhur, memiliki kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menguasai ilmu pengetahuan, serta memiliki kecakakapan dan keterampilan demi Indonesia unggul.
Keberhasilan pendidikan karakter mengisyaratkan bahwa pembelajaran tidak serta merta dilihat dari perspektif ranah kognitif saja melainkan keseimbangan antara ranah afektif dan psikomotor yang muaranya adalah mewujudkan manusia seutuhnya. Kondisi pandemi Covid-19 saat ini menjadi tantangan bagi dunia pendidikan Indonesia, khususnya pendidikan formal dalam upaya penguatan pendidikan karakter bangsa.
Pembelajaran dominan tidak dilakukan dengan tatap muka, sehingga menjadi tantangan guru dalam proses pendidikan karakter tersebut. Disisi lain akan memberikan kesempatan bagi peserta didik dalam mempraktikan nilai-nilai karakter di masyarakat dalam upaya keikutsertaan pencegahan dan penanggulangan Covid-19.
Peran orang tua juga sangat penting bagi anaknya ketika belajar di rumah, orang tua harus memastikan kondisi kesehatan anak, menyediakan fasilitas yang dibutuhkan saat belajar, memberikan suasana nyaman dalam belajar, memberikan pendampingan saat belajar.
Mengingat sangat pentingnya pendidikan karakter bagi siswa di era pandemi saat ini, pihak sekolah menuntut untuk memainkan peran dan tanggungjawabnya untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai yang baik dan membantu para siswa membentuk dan membangun karakter siswa dengan nilai-nilai yang baik. Ada empat cara yang dapat dilakukan dalam mengimplementasikan pendidikan karakter bagi siswa.
Pertama, membangun kerjasama yang kuat antara guru dengan orang tua maupun masyarakat. Guru dari sekolah selalu memonitor perkembangan belajar siswa. Selain itu, guru selalu memberikan tugas dan motivasi sehingga siswa tidak jenuh belajar.
Kedua, peran orang tua seharusnya lebih fokus lagi mengawasi anaknya ketika belajar dirumah, karena di masa pandemi ini peran orang tua juga sangat penting bagi anak-anaknya supaya anak mempunyai karakter walaupun belajar di rumah.
Ketiga, mendesain metode pembelajaran yang menuntut peserta didik untuk mandiri, kreatif, disiplin serta bertanggungjawab. Keempat, guru menjadi teladan bagi siswa. Guru tidak hanya memberikan tugas, ceramah, akan tetapi juga harus memberikan contoh kepada siswa.
Pendidikan karakter sangatlah penting agar generasi ini tidak hancur terkikis oleh kemajuan zaman. Diperlukan kerjasama yang baik antara guru, peserta didik, orang tua dan masyarakat.
Oleh sebab itu, seorang guru tetaplah bersemangat untuk menanamkan nilai-nilai karaker kepada siswa, meskipun tidak dilakukan secara langsung. Sehingga siswa dapat menerapkan nilai-nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari.
Sehingga tujuan pendidikan karakter untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus menurus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik lagi.
Semoga pandemi Corona Virus Disease ini cepat berlalu, agar pendidikan di negeri ini normal kembali.
(Yusuf Hidayat adalah Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)