Selasa, 28/09/2021, 20:08:48
Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial yang Menghantui Indonesia
Oleh: Aufa Umiyati
--None--

KEMISKINAN merupakan masalah yang dialami setiap negara, dan tak terkecuali Indonesia. Kemiskinan adalah suatu kondisi dimana adanya ketidakmampuan dalam memenuhi standar minimum sebuah kebutuhan dasar, seperti halnya kebutuhan pangan, sandang hingga tempat tinggal.

Sesungguhnya kemiskinan bukanlah masalah baru di negara ini. Jika menilik kebelakang, masalah kemiskinan selalu ada pada tiap kepemimpinan tiap kepala negara, seperti hal di tahun 1970 dimana kemiskinan saat itu menyentuh angka angka 60 persen dengan 70 juta jiwa.

Namun, dewasa ini masalah kemiskinan bukan hanya tentang bagaimana masyarakat mengalami kekurangan pangan hingga kelaparan. Cerminan kemiskinan ini akan sangat terlihat dan kontras, dimana perbedaan sebagian masyarakat yang hidup dengan berkecukupan dan sebagian lainnya hidup dalam garis kemiskinan.

Kesenjangan yang ada kian terlihat diantara masyarakat Indonesia, belum lagi pandemi yang masih berlangsung sekarang ini menambah daftar panjang kemiskinan makin panjang, karena sulitnya mendapatkan dan mempertahankan pekerjaan.

Kesenjangan sosial sendiri merupakan adanya ketidaksamaan akses dalam lapisan masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya yang ada seperti ekonomi, sosial dan lainnya. Hal ini akan sangat terlihat dimana adanya perbedaan dalam hal keuangan,  daerah yang ditinggali, upah, hukum dan kesempatan yang diperoleh setiap orang.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin pada periode September 2020 tercatat meningkat sebanyak 10,14 persen atau 1,13 juta, dengan keseluruhan jumlah penduduk miskin mencapai 27,55 juta orang.

Sementara itu, pada periode yang sama tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur menggunakan Gini Ratio mencapai 0,385. Angka ini meningkat 0,001 poin jika jika dibandingkan dengan Gini Ratio pada tahun sebelumnya.

Selain itu Gini Ratio pada daerah perkotaan pada periode Maret 2020, tercatat sebesar 0,393 sedangkan pada daerah pedesaan tercatat sebesar 0,317.

Namun, berdasarkan ukuran ketimpangan Bank Dunia, distribusi pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah, sebesar 17,73 persen yang berarti pengeluaran penduduk termasuk dalam kategori ketimpangan yang rendah.

(Aufa Umiyati adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita