“Tidak ada jabatan yang dipertahankan mati-matian” KH. Abdurahman Wahid.
Pesan yang disampaikan oleh Guru besar Indonesia atau presiden ke- 4 Republik Indonesia sangat ampuh untuk manusia pribumi. Manusia pribumi yang hanya fokus kepada jabatan di dunia ini. Pertahahn hidup bukan karena jabatan melainkan karena bagaiman menghidupi kata syukur dan menikmatinya setiap takdir yang telah tertuliskan.
Jika dianalogikan manusia itu ibarat wayang yang dimainkan oleh dalangnya, sedangkan Allah adalah sang dalang yang sanggup menggerakan anggota tubuh wayng serta memberikan suasana untuk penontonnya dan hidup di dunia itu ibarat seorang musafir, dalam setipa perjalanan tentu menemukan sebuah makna-makna baru untuk dirinya, sehingga tidak selamanya berada di satu titik, tentu akan berpindah ke titik yang lainnya.
Kekuasaan menurut KBBI Edisi V merupakan suatu kemampuan orang atau golongan untuk menguasai orang atau golongan lain berdasarkan kewibawaan, wewenang, karisma atau kekuatan fisik. Dalam hal ini yang sering diperebutkan oleh para manusia ialah sebuah kekuasaan agar namanya diakui oleh penghuni dunia. Terkadang mereka mengatasnamakan kepentingan pribadi untuk kepentingan umat. Sebenarnya ini yang harus menjadi bahan evaluasi dalam setiap orang yang berkuasa di negara manapun.
Bentuk yang sudah tersturktur oleh negeri ini ialah bentuk kekuasaan yang dilahirkan oleh diri sendiri atau dari suatu kelurga. Pasalnya sudah dua periode ini Indonesia mengalami dehidrasi untuk para pemimpin baru. Indonesia hanya dihadapkan dengan wajah-wajah lama. Belum ada sosok satri yang muncul untuk membenahi negara Indonesia menjadi adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
Saat ini yang terjadi tangan manusia menggunakan kekuasaan sebagai bentuk bisnis yaitu harus adanya keuntungan meski banyak yang dirugikan. Kekuasaan lebih cenderung kepada hal bukan memimpin namun malah kadang kurang mensejahterkan. Begitulah potret yang terjadi saat ini. Sehingga mindset orang awam bagi mereka yang berkuasa adalah mereka yang mempunyai ekonomi diatas rata-rata sehingga dengan mudah membelekokan kebenaran.
Dalam negara Indonesia polemik seperti ini dikenal dengan terma “Kewahyon” mendapatkan wahyu atau pulung (Bintang) siapapum yang mendapat wahyu itu, sangat dipercaya berhak menjadi presiden. Siapapun itu tidak peduli dengan kapasitas, intelektual dan semua hal yang menyertai kriteria untuk menjadi seorang presiden. Saat ini susah membedakan antara mana orang yang berjuang dalam ruang kebenaran dan mana yang berjuang dalam ruang kepentingan karena hal demikian sangat berhubungan.
Masih menjadi berita hangat di media sosial maupun cetak. Akhir dari perjalanan pesta demokrasi yang sangat mencekit. Dari mulai pencalonan sehingga pada babak sispa yang menjadi presiden. Sebenarnya jabatan presiden di Indonesia konon adalah urusan nasib dan garis tangan belaka. Ya memnag harus diakui meskipun ushaa manusia semaksimal mungkin namun ruangan hasil milik sang maha pencipta. Kekurangan citra ragawi sebagai presiden, sangat bisa dipermak nanti. Gampang itu. Konsultan politik sangat bisa dibeli , demikian pula dengan kebutuhan sulapan citrawi lainnya. Semua bisa selaras citrawi lainnya. Artinya bahwa segala bentuk kekuasaan tidak mutlak karena faktor intelektual, integritas dan kredibilitas namun faktor yang lainnya juga bisa.
Prof. Dr.yustil ihza Mahendra mengatakan bahwa “segudang kepintaran tak ada artinya dibanding segenggam kekuasaan” saat itu terlontar pada acara kongres umat islam di Sumatera Utara, pada 30-maret hingga 1 april tahun 2018. Artinya bahwa orang tidak pintar sekaligus kurang pemahaman jika memiliki kekuasaan ia akan sangat berharga dan mungkin berbahaya. Jika dianalogikan kekuasaan adalah sebagian dari kepemimpinan dan diperlukan untuk menyelesaikan sesuatu.
Sederhannay kekuasaan adalah sebuah kompetisi untuk mendapatkannya harus ada yang kalah dan ada yang menang. Ada yang mengambil jalan hala ada yang menghalalkan segala jalan. Jangan sampai hanya sebuah kekuasaan keberagaman suku, bangsa dan ras terpecah belah. Hal yang paling menyakitkan di dunia dan dibenci oleh Allah yaitu ketika kita memakan daging dari saudara sendiri. Dan hancurnya suatu negara meskipun makmur ialah ketika kekuasaan berada di tangan penghianat dan harta di kuasai orang-orang yang tak berzakat.
(Siti Zulaeka adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)