Minggu, 26/05/2019, 16:59:16
Refleksi Hari Kebangkitan Nasional
Oleh: Siti Zulaeka
--None--

Pada tanggal 20 Mei tahun ini adalah Hari Kebangkitan Nasional juga bertepatan dengan tragedy yang berkecambuk pada tahun 1998, peranan mahasiswa sangat menonjol yang melangsungkan aksi turun jalan di berbagai kota menuntut rezim orde baru lengser dari jabatannya yang dikenal Reformasi 98. Tragedi yang terjadi ditahun 1998 telah menumpahkan darah yang begitu banyak dan juga korban jiwa. Soeharto yang sudah berkuasa selama 30 tahun harus tumbang ditangan aksi-aksi massa yang dilakukan oleh mahasiswa.

Krisis ekonomi yang melanda Asia tahun 1997 ternyata berimbas pada kecerobohan yang dilakukan oleh rezim Orde Baru. pembangunan yang selama ini sangat diagung-agungkan ternyata lemah, karena di bangun atas pondasi hutang luar negeri yang sangat besar. Ketika fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar tidak bisa ditolerir lagi, konswekensinya jumlah hutang melambung tinggi.

Asalnya mahasiswa yang tergabung sudah tidak tahan dengan kepemimpinan Soeharto yang cenderung otoriter dan memang sudah terlalu lama memimpin, Mahasiswa bergerak, aksi demonstrasi menuntut diturunkannya Suharto menjalar mulai dari kmpus-kampus besar sampai ke kampus-kampus kecil.

Tak jarang korban berjatuhan di mana-mana. Kasus terbunuhnya beberapa mahasiswa Trisakti 12 Mei 1998, tertembaknya Moses Gatot Kaca di Yogyakarta, dan tindakan-tindakan anarkis aparat terhadap mahasiswa semakin membuka kesadaran masyarkat luas untuk turut dalam aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa.

Arus tak terbendung lagi ketika pada tanggal 20 Mei 1998, lebih dari satu juta massa melakukan aksi di silang monas dengan tuntutan “Pelengseran Pakasa Soeharto”. Suharto mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei 1998 jam 09.15 WIB. Aksi juga dilakukan di Makasar, purwokerto, Bandung, Malang dan kota-kota lain.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejak awal berdirinya HMI berperaan sebagai alat perjuangan yang berfokus pada problema keumatan dan kebangsaan. Dimana pada tahun 1998 HMI ikut berpaartisipasi dalam menduduki gedung DPR yang tergabung dengan Organisasi mahasiswa dalam tuntutan melengserkan rezim orde baru yang dipimpin soeharto.

Berbicara mengenai sejarah HMI, pada dasarnya juga membicarakan sejarah bangsa Indonesia. HMI merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dinamika bangsa yang sangat kita cintai ini. Usia HMI yang sebanding dengan umur NKRI ini bukanlah usia yang singkat. 

Dampak reformasi ini kita rasakan dengan adanya pandangan baru yakni demokrasi, kebebesan berpendapat serta aspirasi dapat dengan mudah dikonsumsi oleh publik. Keuntungan ini dapat dijadikan Mahasiswa dalam menerapkan gagasan serta konsep pembangunan negri menuju lebih baik lagi. Yang menjadi PR bersama adalah mengisi demokrasi yang sudah diperjuangankan hingga merenggut korban jiwa yang tak lain keinginan untuk lebih baik lagi tatanan negri ini.

Mahasiswa sekarang tidak bisa tutup telingan dan tutup mata dan terbawa dalam hedonis serta apatis terhadap bangsa yang nantinya peran sebagai agent of change tidak di fungsikan sebagai Karena mahasiswa hidup dalam dunia kampus sering kali kita dapati peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah, contoh saja tahun 1998 dimana mahasiswa menjadi pelopor refomasi, dalam peristiwa itu kurang lebih telah didata bahwa sekitar 1000 korban dalam konflik tersebut.

Bahkan yang jadi fenomena bahwa kata dalam Bahasa Indonesia, yaitu revolusi sampai saat ini belum banyak argument yang kuat tentang siapa yang pertama kali menggemborkan/mengisukan kata refomasi tersebut. Tetapi dalam sejarah berdarah tahun 1998 tidak lepas dari permasalahan krisis moneter, refomasi, dan permasalahan yang ada pada rezim orde baru. refomasi tidak lepas dibenak kita bahwa yang memprakarsai adalah mahasiswa indonesia, kasus 1998 memang sudah terjadi dan terlalu singkat kalau hanya untuk dikenang karena peristiwa tersebut menurut saya tema yang unik dan fenomenal untuk diperbincangkan atau didiskusikan.

Dalam rangka pembangunan harus adanya kesatuan visi misi dalam pandangan kebangsaan agar nantinya tidak timbul konflik yang malah memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mahasiswa identik dengan wawasan intelektual yang tajam dan aktual dimana ide dan gagasan mahasiswa dapat diandalkan untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada dalam intra maupun ekstra kampus, contoh saja ketika dalam kegiatan yang di agenda kampus dan mahasiswa berperan menjadi ujung tombak dalam kegiatan yang sudah diagendakan tersebut.

Melihat begitu dalam peran mahasiswa dalam bangsa perlu adanya suguhan tulisan yang mengingatkan kembali peran dan fungi mahasiswa, sebelum terlau jauh pembahsan saya mencoba sedikit memaparkan hal-hal yang menurut saya kurang professional yang diaplikasikan dalam kehidupan di kampus dalam era global ini.

Pertama, masih saja banyak mahasiswa yang apatis dalam artian mereka tidak perduli dengan apa yang terjadi dilingkungan sekitar entah itu menyangkut kehidupan kampus, masyarakat.

Kedua, minimnya tingkat baca mahasiswa ini adalah fenomena yang bisa dianggap menyedihkan dan memilukan karena pada hakikatnya mahasiswa yaitu orang yang berlajar dalam perguruan tinggi/universitas dengan wawasan keilmuan yang tinggi, sekarang bisa dibayangkan ketika melihat minimnya minat baca mahasiswa secara tidak langsung itu adalah kecacatan dalam diri.

Ketiga, terlena oleh kebudayaan asing, dapat dilihat dalam penulisan makalah masih saja ada yang meng-copy paste karya tulisan orang lain padahal sudah jelas dalam etika penulisan makalah tidak boleh hanyadengan memplagiattulisan orang lain secara utuh karena melanggar norma-norma dalam penulisan.

Dari ketiga permasalahaan yang sudah penulis paparkan diatas bahwa tidak lain untuk mengajak teman-teman berproses secara berjamaah. Jadi penulis rasa dalam kita berdinamika dikampus itu baiknya secara berjamaah, karena dalam agamapun diterangkan bahwa sholat sendirian dan sholat berjamaah nilai dan esesnsinya lebih tinggi sholat secara berjamaah, secara tidak langsung  Tuhan mencintai kerbesamaan dalam kebaikan. Bahkan ada ayat didalam alqur’an yang menjelaskan untuk berlombalomba dalam kebaikan.

Sejarah dapat berpengaruh terhadap kehidupan masa yang akan datang bagi mereka yang mempelajarinya, pengaruh tersebut bisa kearah hal yang positif maupun negative, dampak positif dapat disebabkan dengan mempelajari sejarah secarah benar dan menyeluruh dan mengambil inti sari dari peristiwa atau kejadian yang lampau untuk menjadi tolak ukur dan mengikuti nilai-nilai kebenaran untuk dijadikan pegangan dan pandangan hidup. Begitu juga sebaliknya bias berdampak negative ketika mempelajari sejarah tidak secara utuh dan menyeluruh dan tidak bias mengambil nilai positif dari peristiwa atau kejadian tersebut.

Hal ini sesuia dengan realita yang terjadi sekarang dimana keberkahan demokrasi semakin melenyap. Aksi-aksi yang terjadi hanya sebuah kepentingan untuk diri sendiri. Namun mengatasnamakan kepentingan umat, ini yang menjadi bahan evaluasi bagi kaum intelektula yang disebut mahasiwa. Gembor-gembor untuk pemerintah agar menjaga keutuhan negara indonesia dengan tidak menyengsarakan rakyat. Jika saja masih tetap sama seperti yang terjadi saat ini, penulis rasa demokrasi telah mengalami arti yan g sangat signifikan.

(Siti Zulaeka adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita