Rabu, 18/08/2010, 14:23:00
Makna Peringatan Kemerdekaan di Bulan Suci Ramadhan
Akhmad Sekhu
--None--

Perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2010 tentu lain dengan perayaan kemerdekaan tahun-tahun sebelumnya, bahkan mungkin pada tahun-tahun ke depan. Karena perayaan kemerdekaan tahun ini di Bulan Suci Ramadhan, yang kalau kita renungkan lebih mendalam akan jauh lebih bermakna. Ada makna kemerdekaan yang hakiki terkandung di dalamnya.

Kalau bangsa kita bisa menangkap makna kemerdekaan yang hakiki itu, tentu kita sebagai bangsa akan jadi lebih kuat dan berdaya di mata dunia, bahkan berharga di mata Tuhan. Konteks perayaan kemerdekaan di Bulan Suci Ramadhan, adalah kemerdekaan yang disucikan. Artinya sebagai bangsa, kita merdeka dan kemudian kemerdekaan ini disucikan tentu akan lebih bersih dan terarah bangsa kita melangkah ke masa depan yang penuh harapan.

Selama ini masing-masing kita selalu saling curiga, berburuk sangka, bahkan pergantian pucuk pimpinan di negeri kita selalu diwarnai dengan dendam sehingga terus terjadi orang-orang pemegang kekuasaan lama dendam pada orang-orang pemegang kekuasaan yang baru. Lihat saja, ada sedikit saja kesalahan dari pemerintah langsung mendapat reaksi negatif dari pihak oposisi yang tak pernah bersih dari berbagai kepentingan pribadi.

Keduanya seharusnya sama-sama menyadari bahwa pada jaman dulu para pendiri bangsa ini merebut kemerdekaan dengan menggalang persatuan tentu saling melepas kepentingan pribadi demi kepentingan bersama, kepentingan bangsa untuk memajukan negara ini.

Dalam hal ini, dari pihak pemerintah sebagai pemegang kepemimpinan (bukan pemegang kekuasaan) akan melaksanakan semua kewajiban dalam menjalankan roda pemerintahan sebagai sebuah amanah yang harus dilaksanakan dengan sebenar-benarnya, sebaik-baiknya, bahkan sesuci-sucinya. Yang terakhir ini; sesuci-sucinya memang jarang sekali ditekankan sehingga masih terjadi tindak korupsi, bahkan semakin menjadi-jadi. Padahal agenda paling utama dari Orde Reformasi ini adalah pemberantasan korupsi.

Spirit Religi: Momentum perayaan kemerdekaan di Bulan Suci Ramadhan bisa untuk menyucikan pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan. Jabatan bukan sebagai kendaraan untuk menumpuk kekayaan pribadi, tapi jabatan sebagai amanah yang harus digunakan sebagaimana mestinya hingga sesuci-sucinya dalam menggunakan jabatannya.

Disini ada spirit religi yang harus dimiliki pemerintah, dimana jabatan dipertanggungjawabkan tak hanya secara horisontal pada wakil rakyat (baca: DPR) sampai menyentuh pada lapisan rakyat yang terpinggirkan, tapi juga jabatan dipertanggungjawabkan secara horisontal langsung pada Tuhan.

Kalau wakil rakyat sebagai manusia biasa yang tak lepas dari kesalahan dan penuh keterbatasan tentu tidak bisa seratus persen memantau jalannya pemerintahan. Wakil rakyat masih bisa disogok dan diiming-imingi karena wakil rakyat masih butuh materi dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya.

Nyatanya banyak sekali wakil rakyat yang terseret arus konspirasi dalam keterlibatan tindak korupsi. Sedangkan Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa pasti tidak ada keterbatasan dalam memantau jalannya pemerintahan. Tuhan tidak bisa disogok, apalagi diiming-imingi. Tuhan Maha Adil di atas segala-galanya.      

Begitu juga dari pihak oposisi sebagai pengoreksi jalannya roda pemerintahan tentu tidak memasukan adanya unsur dendam karena perannya sebagai penyeimbang. Makna sebagai penyeimbang ini adalah kalau melihat pemerintah kurang baik maka dibantu untuk memperbaikinya agar menjadi baik. Bukannya yang kurang baik itu diwacanakan bertambah kurang baik lagi sehingga akan semakin memperparah kurang baiknya hingga pada posisi terpuruk semakin memburuk.

Momentum perayaan kemerdekaan di Bulan Suci Ramadhan bisa untuk menyucikan oposisi dalam mengoreksi roda pemerintahan. Perannya sebagai oposisi disikapi sebagai estafet tampuk kepemimpinan, bukan diwarnai dendam. Meninggalkan sifat dendam adalah bagian dari iman. Adapun estafet tampuk kepemimpinan ini dalam arti pihak oposisi harus sportif dalam peralihan estafet tampuk kepemimpinan.

Pengalaman adalah guru yang paling baik, demikian ungkapan orang bijak. Dari sini, pihak oposisi karena sudah pengalaman memegang tampuk kepemimpinan mau membagi pengalamannya dengan bijak agar kesalahan masa kepemimpinan yang lalu tidak terulang di masa kepemimpinan yang sekarang.

Mencintai Tanah Air: Konfrontasi pemerintah-oposisi tentu tidak ada habis-habisnya, semasih ada kepentingan-kepentingan pribadi tentu tidak baik. Cara-cara berkomunikasi keduanya sangat mempengaruhi reaksi publik: bisa membuat keduanya disegani dan dihormati atau malah sebaliknya dicaci maki dan dimusuhi.

Kepemimpinan tercermin dari komunikasi politik dan pengaruh yang ditimbulkannya pada publik. Efektif atau tidaknya komunikasi mereka, langsung berdampak pada kepemimpinan dan citra diri mereka. Kepemimpinan enam Presiden Indonesia, mulai dari Bung Karno, berlanjut dengan Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, sampai Susilo Bambang Yudhoyono. Masing-masing memiliki gaya dan intrik politik yang berbeda-beda.

Konfrontasi pemerintah-oposisi yang sengit terjadi harus diakhiri untuk kemudian diarahkan pada hal-hal positif demi kepentingan bersama menuju perkembangan dan kemajuan negara ini yang lebih baik. Menciptakan perdamaian adalah bagian dari iman. Semua harus dilakukan dalam kerangka perdamaian hidup bersama demi cinta tanah air.

Mencintai tanah air adalah bagian dari iman. Berpuasa Ramadhan juga adalah bagian dari iman, bahkan wajib hukumnya; “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. “ (QS. Al-Baqarah: 183).

Dari kedua hadits tersebut ada keterkaitan yang sangat erat dalam perayaan kemerdekaan di Bulan Suci Ramadhan sekarang ini. Dan, setiap orang yang beriman dituntut untuk memelihara kesucian dirinya baik lahir maupun batin. Salah satu dari upaya untuk mensucikan diri, Islam melarang pemeluknya memakan harta yang didapatkannya secara haram (tidak terpuji), termasuk korupsi. Dengan kata lain, Islam mewajibkan umatnya mencari nafkah secara terpuji, sesuai dengan ajaran Allah SWT. (Akhmad Sekhu adalah Alumni Universitas Widya Mataram, Yogyakarta, kini tinggal di Jakarta)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita