Ilustrasi
PanturaNews (Kajen) - Program konversi minyak tanah ke gas elpiji yang dicanangkan pemerintah dinilai gagal. Alasanya, dengan dalih apapun program tersebut tidak dapat dibenarkan, karena pada kenyataannya sudah banyak memakan korban meninggal dunia, luka bakar yang mengakibatkatkan cacat seumur hidup maupun korban material.
Karena itu, pemerintah hendaknya segera mencabut kebijakan tersebut dengan menarik gas elpiji yang ada dimasyarakat dan memberikan subsidi BBM kepada masyarakat. "Elpiji itu bom waktu, setiap saat rawan meledak, sehingga mengancam keselamatan masyarakat. Karena itu pemerintah hendaknya segera mencabut kebijakan tersebut," ujar Pengawas Yabpeknas Jawa Tengah, Ali Rosyidin, Kamis 22 Juli 2010 pukul 10.00 WIB di Pekalongan.
Menurut Ali alasan pemerintah dengan menggunakan gas elpiji menghemat biaya dinilai hanya isapan jempol belaka, karena terbukti harga di pasaran hingga saat ini sudah mencapai Rp 14 ribu hingga Rp 15 ribu per 3 kilogram. Sementara kerugian masyarakat, khususnya korban ledakan gas elpiji sudah tak dapat dihitung dengan materi.
Sangatlah tidak tepat jika pemerintah masih mempertahankan kebijakan tersebut, yang pada akhirnya hanya akan mengancam keselamatan bahkan nyawa masyarakat. "Sebenarnya apa tujuan Pemerintah memerintahkan penggunaan gas elpiji, kalau pada akhirnya hanya menjadi alat pembunuh bagi rakyat. Kami minta pemerintah segera mencabut, karena kondisi sekarang sudah darurat," tandas Ali.
Ali menilai pihak PT Pertamina selaku penyalur resmi yang ditunjuk oleh Pemerintah, dinilai cerobah ketika membagikan tabung gas elpiji beserta alat lainnya seperti selang regulator dan kompor gas yang tidak sesuai standar. Sehingga terjadi kebocoran selang , tabung dan regulator pengaman. "Kembalikan saja ke minyak tanah karena lebih aman dan tidak beresiko. Saya juga heran sekarang ini minyak tanah dibawa kemana, kok langka, padahal produksi masih tetap," tanya dia.
Sementara itu, berdasarkan pantauan di masyarakat, para pengguna gas elpiji banyak yang mengalamai ketakutan karena banyak yang meledak. Mereka juga was-was menggunakan bahan bakar itu, tapi karena terpaksa dengan alasan tak mampu membeli minyak tanah, sehingga mereka mau tidak mau menggunakannya.
"Saya sebenarnya takut, wasa-was menggunakan gas elpiji. Tapi bagaimana lagi, minyak tanah mahal, bahan bakar kayu juga sekarang sudah jarang, ya terpaksa menggunakan gas," ujar Musrifah, salah satu Ibu rumah tangga di Kajen.