Balon Bupati Pemalang, Drs Hery Santosa.
PanturaNews (Pemalang) - Suhu politik menghadapi Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Pemalang, Jawa Tengah yang akan digelar 31 Oktober 2010, semakin memanas. Hal itu ditandai dengan majunya kembali bakal calon (balon) bupati, Soemadi Soegondo yang sebelumnya menyatakan mundur dari pencalonan.
Seperti Drs Hery Santosa – Rahayu, pasangan balon independent ini sempat mengagetkan masyarakat Pemalang, karena telah menyatakan mengantongi 600.000 Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai persyaratan dukungan. Menurut Hery saat ditemui PanturaNews, Senin 20 Juli 2010 malam, dia sebagai pasangan balon bupati dan wakil bupati dari jalur independent, telah siap segalanya baik mental, visi dan misi serta program menuju Pemalang sejahtera dan maju.
"Rakyat membutuhkan pekerjaan, pendidikan dan kesehatan gratis, anti korupsi dan pemimpin yang tidak korupsi, transparan serta dekat dengan rakyat. Semua itu menjadi visi dan misi kami untuk membangun Pemalang lebih sejartera dan maju,” tutur Hery didampingi balon pasangannya, Rahayu.
Soal pendidikan gratis yang menjadi program prioritasnya, menurut Hery yang juga mantan anggota DPRD Pemalang periode 2004 -2009, terus menjadi kajian kontroversi. “Kita ambil contoh di Kabupaten Jembrana, Bali nyatanya sukses menerapkan pola pendidikan gratis baik di tingkat SD maupun SMP. Yang jelas, kunci keberhasilan tersebut pada akhirnya terletak pada peran aktif pemerintah setempat, dalam mendukung dan membantu agar kegiatan belajar-mengajar tersebut berjalan lancar, tanpa harus menarik biaya pendidikan dari kalangan yang tidak mampu,” papar Hery.
Lebih lanjut dijelaskan, dampaknya terhadap pelaksanaan pendidikan tingkat dasar dan menengah nantinya sungguh luar biasa. Selain mampu menekan angka putus sekolah dan meningkatkan mutu pendidikan, kebijakan itu juga menimbulkan kebiasaan baru di kalangan sekolah untuk membuat rencana anggaran, pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS) yang lebih terencana, efektif dan efisien.
“Dengan program kerja yang lebih terencana, efektif dan efisien bukan saja mempermudah bupati mengucurkan dana operasional setiap tiga bulannya, tetapi juga melancarkan sekolah dalam mengejar target peningkatan mutu pendidikan. Itu bisa terjadi setelah sekolah tidak dibebani hal-hal lain, kecuali kegiatan belajar mengajar,” tandas Hery.
Saat ditanyakan bila sekolah memerlukan dana untuk kegiatan di luar RAPBS, Hery mengatakan pihaknya akan menerima proposal kegiatan yang dikoordinasikan dulu dengan tim penilai dari Dinas Pendidikan, kemudian proposal itu diajukan ke tim penilai yang ada di Kantor Bupati.
“Untuk prose situ, biasanya butuh waktu satu minggu sejak proposal diajukan hingga dana cair. Bupati harus bisa membaca dan menghitung proposal dengan cepat, dan tidak ragu-ragu memberi catatan bila ada dana yang dirasakan tidak logis,” jelasnya.
Kendati prose situ terasa sangat birokrasi, namun tidak ada masalah. Karena setiap proposal yang diajukan, seluruhnya akan disetujui. “Kami akan selalu bersama para pendidik untuk membahas ide-ide segar tentang pendidikan, visi dan misi yang diinginkannya agar kami bisa sejalan. Kami juga diberi kesempatan ke luar negeri seperti Jepang, ke pondok pesantren besar, untuk bench marking sekaligus membuka wawasan tentang pendidikan bermutu,” ucap Hery.
Hal senada dikemukakan Rahayu. Bila pasangan ini dipercaya masyarakat, pihaknya akan kerap menyambangi sekolah-sekolah untuk melihat kebenaran dari proposal yang telah diajukan, hingga memantau kelengkapan fasilitas pendidikan yang tersedia di sekolah.
Sementara soal kesejahteraan guru, Hery maupun Rahayu mengaku akan memberikan insentif tiap jam mengajar di luar gajinya sebagai PNS. Insentif itu terbilang lumayan, karena guru memiliki sekitar 18-24 jam mengajar setiap minggunya.
Tak hanya itu, pasangan balon bupati dan wakil bupati ini, juga punya program memberi kesempatan pada para guru yang ingin meningkatkan kemampuan akademiknya, dengan memberi kesempatan melanjutkan kuliahnya mulai dari jenjang D-3 hingga S-2. Soal biaya pendidikannya disubsidi.
“Kalau gurunya pinter, proses belajar mengajarnya diharapkan bisa jadi lebih menarik, dan siswa bisa jadi lebih kreatif. Kami juga punya program benc-marking bagi para guru untuk mengunjungi sekolah yang selama ini dinilai memiliki keunggulan,” pungkas Hery.