Selasa, 21/03/2017, 01:13:36
Delapan Pemuda Jadi Korban Perdagangan Manusia
-Laporan Takwo Heriyanto

Ilustrasi

PanturaNews (Brebes) – Delapan pemuda asal Dukuh Wijahan, Desa Cenang, Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, diduga menjadi korban perdagangan manusia (human traficking) di Malaysia. Dedelapan pemuda itu, masing-masing Ahmad Ghozali (18), Hendra Setiawan (23), Hermansyah (27), Apris Prasmono (20), Torikun (30), Jono (30), Amar (28) dan Sahroni (25). Mereka berangkat ke Malaysia pada akhir November 2016 tahun lalu.

Pihak keluarga mendesak agar agen yang merekrut Tenaga Kerja Indonesia (TKI) itu segera ditangkap karena telah menipu anak-anak mereka. Salah satu orang tua korban, Tokadi, mengatakan, saat itu anaknya diajak oleh tetangganya yang bernama Tarmudi. Waktu itu keluarga tidak curiga sama sekali, sehingga mengijinkan anaknya berangkat ke Malaysia.

Lantaran tidak memiliki rasa curiga apapun, keluarga rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit. “Waktu itu, satu orang diminta memberikan uang Rp 5 juta. Tapi, dibayar dua kali, yakni  pertama saat mendaftar sebesar Rp 3,5 juta dan tahap selanjutnya Rp 1,5 juta,” ujar Tokadi, Senin 20 Maret 2017.

Namun, kata Tokadi, setelah diberangkatkan, anaknya memberi kabar bahwa yang bersangkutan telah diamankan oleh pihak Imigrasi Malaysia bersama teman-temannya. Mereka ditangkap saat imigrasi malaysia melakukan razia terhadap rumah penampungan TKI illegal.

Sementara itu, Tarmudi, orang yang merekrut para TKI ke Malaysia mengaku tidak mengetahui, jika sistem perekrutannya adalah illegal. Dia mengaku bekerja untuk PT. Alkurni, sebuah perusahaan jasa pengiriman TKI di Malaysia.

Merasa dirugikan, para orang tua TKI tersebut melaporkan ke gugus tugas perdagangan manusia di Kantor Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Brebes.

“Saya hanya mendampingi, memotifasi dan memberikan informasi. Saya juga belum bisa memastikan nanti hasil penyelidikan dari kepolisian, karena saya hanya memberikan pendampingan,” ujar Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Brebes,” tandasnya.

Meski begitu, keluarga korban diantar untuk kemudian melaporkan masalah terebut ke pihak Polres Brebes. “Saya melaporkan ke Polres Brebes supaya tidak ada lagi tenaga kerja yang nasibnya seperti anak saya,” timpal Tokadi.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita