Kamis, 20/05/2010, 13:20:00
Massa Petani Geruduk Kantor Bupati Brebes Tuntut ADD Dinaikkan
TK-Takwo Heriyanto

Petani Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes berunjuk rasa di halaman Kantor Bupati Brebes. Dibawah kordinator FKMB, para petani menuntut perbaikan nasib dan menaikkan Alokasi Dana Desa (ADD). (FT: Takwo Heriyanto)

PanturaNews (Brebes) - Sekitar seratus petani Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, berunjuk rasa di halaman Kantor Bupati Brebes. Para petani menuntut perbaikan nasib, dan menaikkan Alokasi Dana Desa (ADD), Kamis 20 Mei 2010 pukul 11.30 WIB.

Dalam aksinya para petani membawa hasil pertanian, seperti bawang merah, jagung, terong, singkong dan diserahkan secara simbolis kepada Asisten 1 Setda Brebes, Drs. H. Supriyono. Pemberian tersebut sebagai bentuk keterpurukan nasib petani yang hidup mandiri, tanpa sentuhan dan kebijakan pertanian dari Pemkab Brebes.

Koordinator aksi, M. Subkhan dari LSM Forum Kajian Masyarakat Brebes (FKMB), mengatakan unjuk rasa dilakukan dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional agar nasib petani desa bangkit dari keterpurukan. Selama ini petani sendiri tidak diberikan hak-haknya sebagai petani. Bahkan Pemkab Brebes juga dituntut agar menaikkan ADD tahun 2011 dari Rp16 miliar menjadi Rp 24 miliar sebagaimana ADD tahun 2007.

Seperti nasib petani bawang merah yang saat ini masih tertindas, akibat masuknya bawang impor di Kabupaten Brebes. Sementara Pemkab Brebes tidak bisa mencegah bawang impor tersebut. Selain itu, pihaknya menyayangkan adanya dua waduk/bendungan, yaitu Malahayu dan Penjalin yang ada di wilayah Brebes Selatan, airnya justru dinikmati bukan untuk masyarakat Brebes.

Subhan menuturkan, Waduk Malahayu dinikmati oleh masyarakat Jawa Barat sedangkan Waduk Penjalin sebagian besar dinikmati oleh masyarakat Kabupaten Tegal. Karena itu, pihaknya bersama petani, menuntut kepada Pemkab Brebes agar dibangun infrastruktur pertanian dengan membangun waduk baru dan normalisasi embung untuk mengaliri wilayah Desa Larangan, Bulakmba, Wanasari, Brebes, dan Tanjung.

Para Petani juga menolak mengenai kemanfaatan air dan fungsinya untuk kepentingan ekonomis (dijual belikan), yang akhirnya hanya mengganggu ketersediaan air untuk pertanian dan masyarakat Brebes.

Dalam unjuk rasa tersebut juga diiring tarian tradisional Burok. Sementara usai berunjukrasa, perwakilan petani beraudiensi dengan Asisten 1 Setda Brebes.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita