Sabtu, 08/05/2010, 15:24:00
Kelulusan Merosot, Akibat Dunia Pendidikan Terabaikan
JAY-Riyanto Jayeng

Drs Darni Imaduddin, Anggota Komisi I DPRD Kota Tegal dari Fraksi PKS.

PanturaNes (Tegal) - Merosotnya tingkat kelulusan siswa SMP di Kota Tegal, Jawa Tengah, merupakan akibat dari kurangnya kepedulian berbagai pihak terhadap dunia pendidikan.

Demikian disampaikan anggota Komisi I DPRD Kota Tegal dari Fraksi PKS, Drs Darni Imaduddin saat dimintai komentarnya tentang jeblognya tingkat kelulusan siswa SMP yang mencapai 600 siswa dari 5000 peserta ujian nasional (UN) SMP se-Kota Tegal, Sabtu 08 Mei 2010.

“Ini bukti dari kurangnya pengawasan dan kepedulian masing-masing pihak terhadap dunia pendidikan. Masyarakat cenderung berpola pikir praktis terhadap hal-hal yang bersifat fisik, kegemerlapan tanpa memikirkan dunia pendidikan secara serius,” kata Darni.

Menurutnya, faktor paling dominan yang memberi kontribusi terhadap merosotnya tingkat kelulusan siswa SMP adalah kurangnya kesadaran dari siswa terhadap makna pendidikan berjenjang dan melemahnya pengawasan serta kepedulian pemerintah, guru dan orangtua terhadap aktivitas siswa.

“Apakah dipikirnya guru demo, siswa demo, kenakalan remaja, merebaknya dunia hiburan instant, pergaulan bebas itu bukan merupakan factor merosotnya tingkat kecerdasan siswa? Satu demi satu rasa tanggungjawab siswa terhadap pendidikan yang menjadi dunianya mulai melemah. Hal itu diperparah dengan kurang pedulinya masyarakat terhadap pendidikan,” tutur Darni.

Lebih jauh disampaikan, apabila disederhanakan, yang paling bertanggungjawab terhadap tingkat kepandaian dan kecerdasan siswa sekolah adalah guru, lingkungan sekolah dan orangtua siswa. Dikatakan, program terapan pelajaran yang diajarkan kepada siswa harus benar-benar merupakan materi esensial yang bakal dijadikan materi ujian.

“Beratus materi yang dikeluarkan oleh sekolah melalui Lembar Kerja Siswa (LKS), pelajaran tambahan yang diberikan guna mengejar ketertinggalan materi dan beberapa upaya lain tentunya harus benar-benar sebanding dengan materi yang bakal diujikan dalam ujian,” ungkap Darni.

Disis lain, Darni juga mengkritisi aktifitas siswa yang terkadang abai terhadap tanggungjawabnya sebagai pelajar. Sejumlah tempat hiburan berupa Games On Line hampir semua dipenuhi pengunjung yang mayoritas siswa sekolah. Menurutnya, para siswa sekolah itu begitu enjoy menikmati dunia hiburan meskipun dilakukan pada saat jam belajar.

“Kalau siswa bias enjoy di depan permainan, kenapa dia tidak bias enjoy di depan guru yang memberi materi pelajaran ? apakah ada yang salah dalam sistim pengajaran kita ? atau memang dasar siswanya yang mempunyai karakter demikian? Kita perlu cari tahu penyebabnya bersama,” tandas Darni.

Ditambahkan, untuk lebih menguatkan karakter pendidikan dibutuhkan rencana program yang lebih bisa mengakomodir kemauan siswa. Menurut Darni, selama ini program-program perbaikan dunia pendidikan terkesan menerapkan sistim paksa kepada siswa. Sehingga yang terjadi bukan kemauan yang timbul tapi keterpaksaan yang muncul.


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita