Ratusan warga Desa Kaligiri datangi Balai Desa menolak penggantian pipa jaringan air bersih PDAM (Foto: Zaenal Muttaqin)
PanturaNews (Brebes) - Warga Desa Kaligiri, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menolak adanya penggantian pipa jaringan air bersih PDAM dari sumber mata air Tuk Kaligiri. Warga kawatir penggatian pipa jaringan yang ukurannya lebih besar itu akan menambah debit dan mengurangi ketersediaan air untuk irigasi pertanian.
Aksi penolakan dilakukan oleh ratusan warga itu dengan menggeruduk Kantor Balai Desa Kaligiri untuk meminta penjelasan dari Kepala Desa dan pihak PDAM Brebes, Kamis 21 Juli 2016.
"Kami menolak dilakukan penggantian pipa yang diameternya lebih besar dari sebelumnya, karena akan mengakibatkan warga kesuitan air untuk irigasi," kata Wahyulloh, salah satu warga peserta aksi.
Warga lainnya, Darno juga mengatakan penggantian pipa jaringan dengan ukuran yang lebih besar akan menambah debit air yang digunakan oleh PDAM. Sebelumnya sesuai kesepakatan PDAM hanya dapat memanfaatkan air bersih dari Tuk Kaligiri hanya sebesar 30 liter per detik.
"Kalau pipanya diganti lebih besar berarti akan ada penambahan debit, itu dapat ijin dari mana," kata tokoh masyarakat Desa Kaligiri ini.
Selain itu, warga juga merasa kecewa, pekerjaan pemasangan pipa tidak sosialisasi, padahal banyak yang melewati lahan atau pekarangan milik warga. PDAM juga dianggap seenaknya membuat bak penampung di tanah milik Desa Kaligiri tanpa ada kejelasan ganti ruginya.
"Memasang pipa asal gali di tanah warga tanpa ijin, juga bak penampung dibuat di tanah milik desa," ujar Darno.
Kepala Bagian (Kabag) Teknik PDAM Brebes, Muflihin ST yang datang menemui warga menyampaikan, pihaknya tidak akan melakukan penambahan debit air. Pekerjaan penggantian pipa jaringan air bersih bertujuan untuk meningkatkan pelayanan pada pelanggan PDAM Unit IKK SIrampog dan Unit IKK Tonjong yang selama ini mendapat pasokan air bersih dari Tuk Kaligiri.
"Pekerjaan penggantian pipa untuk meningkatkan pelayanan pada pelanggan PDAM dan tidak akan menambah debit," kata Muflihin yang didampingi Kepala PDAM Unit IKK Kecamatan Sirampog, Isa.
Warga juga dapat melakukan pengecekan debit air yang diambil oleh PDAM, jika kawatir ada penambahan debit. Penggantian pipa dari diameter 200 mm menjadi 300 mm dimaksudkan agar pasokan air ke pelanggan di bagian bawah dapat maksimal dan lancar.
Meski begitu, warga tetap menolak adanya penggantian pipa dengan ukuran yang lebih besar dan meminta pekerjaan penggantian pipa dihentikan sampai ada kesepakatan. Warga juga meminta jika dilakukan penggantian pipa tidak pada bagian atas yang ada di bagian sumber air.
Peserta aksi juga datang dari Desa Mendala, terutama dari Dukuh Padanama. Warga yang jumlahnya puluhan itu merasa kecewa dengan tagihan rekening PDAM yang naik drastis. Sebelumnya warga membayar tagihan tiap bulan antara Rp 5 ribu sampaiRp 10 ribu. Belakangan ini, setelah adanya pesangan water meter warga harus mebayar Rp 200 ribu per bulan dan bahkan lebih.
"Sekarang tagihan rekening PDAM sampai ada yang Rp 800 ribu bahkan sampai jutaan untuk tiga bulan," kata Musdikin warga Dukuh Padanama Desa Mendala.
Aksi warga sempat memanas, karena meminta tuntutannya dipenuhi, sehingga Keopala Desa Kaligiri, Rosyidin berkali-kali meinta warganya untuk tetap tenang dan tertib menyampaikan aksinya. Kapolsek Sirampog, AKP Widiaspo dan anggotanya ikut terlibat menenangkan warga, juga Sekcam Sirampog, Eddy Mulyani yang membantu memberikan penjelasan pada warga.
Setelah sekitar 1,5 jam warga menyampaikan aksinya, bersama-sama dengan pihak PDAM dan juga aparat Polsek Sirampog, melihat langsung kondisi di sumber mata air Tuk Kaligiri dan kemudian membubarkan diri dengan tertib.