Ki Enthus Susmono dan Yessy Gusman.
PanturaNews (Tegal) - Perhelatan di pelataran TBM (Taman Baca Masyarakat) dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Sakila Kerti, Jalan Kaligung Gang 3 RT 3 RW 4 Kelurahan Panggung, Kota Tegal, cukup unik. Di acara tersebut dipertemukan dalang edan Ki Enthus Susmono dengan artis, Yessy Gusman. Acara bertajuk “Tembang Anak Kampung” itu sengaja digelar untuk menandai adanya TBA dan PAUD yang dikelola oleh Dra.
Sismiyati Yusqon, Rabu 28 April 2010 lalu.
Sebelum acara puncak pementasan wayang golek Lupit – Slenteng oleh Ki Enthus, Yessy Gusman tampil membawakan puisi berjudul “Ngancani Bocah-bocah” karya Dwi Ery Santoso.
Neleng bocah-bocah saya tambah/ pada dolanan saparan-paran, langka sing njagani yagyagan sakarepe dewek/ bocah ora mung disandangi/ora mung disarapi/ tapiken awit cilik paling ora/wis dolanan sing apik…..
Itulah penggalan puisi berbahasa tegalan yang dibawakan Yessy Gusman. Dia dengan mengenakan kebayak warna merah dan kerudung putih, mengumandangkan bait-bait puisi tersebut dengan sangat lancar. Meski ia mengaku baru pertama kali membacakan puisi berbahasa lokal, namun karena ibunya yang berasal-usul dari Prwokerto, menjadikan pembacaan puisi tegalan pada malam itu tak begitu merepotkan. Ia bahkan merasa senang karena dapat mengingatkan pada daerah leluhurnya.
Saat membawakan puisi tersebut, Yessy yang memiliki nama lengkap Yasmine Yuliantina Yessy Gusman SH MBA itu, pengunjung diam terpaku seoalah-olah menyerap apa yang dia bawakan. Lebih lagi karena suara bening dan cukup jelas membuat para pengunjung yang terdiri dari anak-anak dan ibu seperti tak yakin, kalau Yessy mampu mengucapkan bahasa tegalan dengan baik.
Pada kesempatan itu pula, Aktivis Dunia Pendidikan dan Sosial dan Sekretaris BAN PNF itu pun, membacakan satu buah puisi dengan tanpa menggunakan teks. Ia membawakan puisi karyanya bertajuk “Baca”. Dalam karyanya itu, Yessy menegaskan bahwa dengan membaca akan terbukalah segala pengetahuan yang ada di alam semsta ini yang diizinkan oleh Sang Pencipta untuk kita ketahui.
“Namun, membaca bukanlah sebuah kegiatan yang harus dipaksakan karena kalau kita sudah merasakan nikmat dan faedahnya, membaca akan menjadi suatu kebutuhan,” tegasnya seperti yang diatulis dalam bukunya berjudul “Menyemai Kasih Suatu Perjalan Yessy Gusman”.
Pada acara puncak, suasana pun dientak guyonan Ki Enthus Susmono melalui penampilannya yang kocak dengan memainkan Wayang Golek Lupit – Slenteng. Lakon itu dibawakan Ki Enthus dengan bayolan-banyolan yang segar. Tak hanya penonton yang digempur banyolan Ki Enthus tapi Yessy pun menjadi bahan yang menarik bagi Ki Enthus. Dia malam itu betul-betul telah menghibur bahkan tak hanya itu, Yessy pun didaulat untuk ditanya Ki Enthus tentang pergulatannya pada kepedulian aktivitasnya sebagai penggerak TBA dan PAUD.
“Saya merasa terpanggil karena dunia pendidikan saat ini tidak hanya tanggungjawab pemerintah tapi masyarakat pun perlu peduli pada kecerdasan bangsa,” katanya.
Menurut dia, yang namanya TBA itu tidak harus menunggu orang itu berkedudukan dengan materi yang berlimpah, namun jika di dasar hati kita ada niat yang mulia, TBA sudah semestinya didirikan meski hanya sepetak ruangan untuk TBA.
Malam itu, selain diisi oleh Yessy Gusman, Ki Enthus Susmono, tampil pagelaran tari-tarian anak-anak, dan juga pembacaan puisi oleh Dwi Ery Santoso dan Ibu Istiningsi, janda almahurm Piek Ardijanto Soeprijadi. Hadir para seniman Lanang Setiawan, Nurhidayat Poso, M. Enthieh Mudakir, Joshua Igo, tokoh masyarakat dan para pejabat.
Menurut Ketua Himpunan Penyelenggra Pelatihan Kursus Indonesia (Hippki) Kota Tegal, Drs. Yusqon MPd, acara tersebut merupakan nilai tambah bagi masyarakat setempat. “Taman Baca Masyarakat seperti ini sangat banyak manfaatnya dan oleh karenanya, perlu dikembangkan di pelosok-pelosok Tegal,” katanya.