Wantimpres KH. Hasyim Muzadi (paling kiri), saat berbicara pada acara Konferensi Internasional Media Islam (ICIM) (Foto: Zaenal Muttaqin)
PanturaNews (Jakarta) - Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), KH. Hasyim Muzadi mengatakan, menghadapi pemberitaan yang tidak benar tentang Islam oleh media-media sekuler, ummat Islam harus ada konsolidasi dan kordinasi.
"Kita melihat adanya tantangan berat yang harus dihadapi umat Islam, yakni media, bukan perang. Media mampu mengubah persepsi masyarakat dari positif ke negative, begitu juga sebaliknya,” ujarnya saat mengisi acara Konferensi Internasional Media Islam (International Conference of Islamic Media – ICIM) di Auditorium Adhyana, Wisma ANTARA, Jakarta, Rabu 25 Mei 2016.
Menurutnya, Islam yang baik dan benar ini telah diubah oleh media sekuler dengan dipersepsikan menjadi buruk. Media sekuler telah memutarbalikkan yang benar menjadi salah atau sebaliknya.
Sebagai contoh, kasus Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) yang sebenarnya sebagai kemerosotan moral, tapi oleh media digambarkan kebebasan dan hak asasi.
“Media terus-menerus memberikan informasi bahwa LGBT adalah hak asasi manusia. Ketika berita yang nyeleneh ini terus diberitakan, maka persepsi masyarakat terkait LGBT akan berubah dari hal yang negatif ke positif,” kata Muzadi yang juga manata Ketua PBNU ini.
Dikatakan, berbicara media, umat Islam sudah kalah. Ketika ada hal-hal yang positif tentang Islam, media Islam sedikit yang memberitakannya. Kemudian menjadi kesempatan bagi media-media sekuler untuk menyesatkan pemberitaan.
"Sebenarnya Islam tidak akan kalah, dan tidak mungkin kalah, tapi ummat Islam yang mungkin bisa kalah. Tetapi itu juga tergantung bagaimana umat Islam dalam mengamalkan Islam itu sendiri,” trerang Muzadi.
Muzadi menambahkan di akhir penyampaiannya mengungkapkan, bahwa kekerasan yang diterima umat Islam saat ini adalah karena tidak adanya media umat Islam yang kuat.
“Umat Islam stagnan tetap pada majalah yang tidak terlalu memberikan dampak signifikan bagi perkembangan Islam,” tandasnya.
Perlu diketahui, Konferensi ICIM digagas oleh Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency), bekerja sama dengan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, Harian Republika, dan Radio Silaturahim untuk menyeimbangkan berita-berita Barat yang selama ini mendiskreditkan Islam.
Konferensi ICIM juga mengajak media-media Islam untuk lebih peduli terhadap isu-isu yang berkembang di Al-Quds, karena saat ini opini yang berkembang di masyarakat Islam lebih banyak tertuju ke kawasan Makkah dan Madinah. Padahal, Masjid Al-Aqsha juga merupakan tempat sakral bagi masyarakat Muslim.
Peserta ICIM terdiri dari unsur pimpinan redaksi kantor berita di negara-negara Islam, Duta Besar negara-negara Islam di Jakarta, pakar, dan praktisi media massa, organisasi-organisasi wartawan Muslim, pimpinan perguruan tinggi Islam, LSM dan Ormas yang konsen dalam pembelaan Palestina dan kaum Muslimin, serta dosen, mahasiswa dan tokoh masyarakat.