Kordinator Tim Buton, H Rizal Rafli menunjukkan sebagian fosil-fosil yang disimpannya (Foto: Zaenal Muttaqin)
PanturaNews (Brebes) - Penemuan ribuan potong fosil binatang purba di wilayah Kecamatan Bumiayu dan Kecamatan tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menjadi perhatian dari para ahli kepurbakalaan.
Para ahli tersebut telah datang untuk melihatnya dan menyatakan kekagumannya, pada fosil-fosil berumur jutaan tahun yang dikumpulkan oleh tim pelestari fosil situs Bumiayu - Tonjong (Buton).
"Para ahli sudah beberapa kali datang dan melihat sendiri fosil-fosil yang telah kami temukan," ujar koordinator Tim Buton, H Rizal Rafli kepada PanturaNews.Com, Jumat 20 Mei 2016.
Menurut Rizal, baru saja Wahyu Widiyanto peneliti dari tim arkeologi situs Sangiran Sragen juga datang ke rumahnya untuk melihat fosil-fosli Buton. Setelah melihat fosil-fosil yang disimpannya, peneliti merasa kagum dan sangat terkesan setelah melihat bendan itu.
"Pak Wahyu merasa kagum dengan fosil-fosil Buton dan akan melaporkan ke pimpinannya tentang fosil ini serta rencananya akan datang lagi," kata H Rizal.
Dikatakan, peneliti dari Sangiran itu menilai fosil-fosil Buton lebih jelas, barangnya lebih banyak dan sangat mudah diidentifikasi. Kelebihan itu menjadi kelebihan tersendiri bagi situs Buton sehinga sangat mendesak untuk dikembangkan menjadi semacam museum.
"Pak Wahyu mendorong kami untuk mengembangkannya karena ini merupakan warisan yang tak ternilai harganya," tutur Rizal.
Diungkapkan, sebagai koordinator tim Buton dirinya sangat bangga apoa yang dilakukannya selama ini mendapatkan apresiasi dari para ahli. Kalangan perguruan tinggi juga telah memberikan perhatian, diantaranya fosilnya telah dipresentasikan di Universitas Pembangunan Nasionbal (UPN) Yogyakarta.
"Dalam waktu dekat ini dari Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung juga sudah ngabari akan datang," ungkap Rizal.
Sebelumnya, peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Drs Gunadi MHum menyatakan, fosil-fosil binatang situs Buton merupakan benda-benda bersejarah yang sangat tinggi nilainya dan perlu dijaga situsnya agar tidak rusak atau hilang.
"Fosil itu usianya jutaan tahun dan perlu dijaga dan dijadikan sebagai daerah cagar budaya," ujarnya saat berkunjung ke tempat penyimpanan ribuan potong fosil itu beberapa hari lalu.
Sebagai peneliti dari Balai Arkelogi, Gunadi sangat berterimakasih kepada warga Tim Buton yang telah sukarela melakukan pencarian dan pengamanan fosil-fosil tersebut. Kepedulian warga itu mesti diapresiasi dan ada tindak lanjut dari pemerintah setempat melalui dinas terkait.
"Bagi Kabupaten Brebes, adanya penemuan fosil itu sangat berarti karena bernilai nasional bahkan internasional," kataGunadi.
Pelestarian terhadap situs-situs atau tempat-tempat penemuan fosil itu mendesak untuk dilakukan karena akan berarti bagi ilmu pengetahun. Bahkan nantinya dapat menjadi tempat tujuan para peneliti baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
"Pemerintah kabupaten kemungkinan belum yakin dengan adanya fosil-fosil tersebut, sehingga perlu ada pihak yang dapat meyakinkannya," terang Gunadi.
Masih menurut Gunadi, niat baik warga yang telah berupaya menyelamatkan fosil-fosil itu perlu didukung melalui manajerial dari pemerintah kabupaten. Dukungan fasilitas sangat dibutuhkan sehingga mengingat agar benda-benda itu tetap aman dan terjaga.
"Selama ini fosil-fosil itu hanya diletakkan di tempat seadanya, sehingga perlu didukung dengan fasilitas yang memadai, karena sudah mulai banyak yang tertarik," tandas Gunadi.
Pihak Balai Arkeologi Yogyakarta juga telah melakukan survei terhadap temuan ribuan potongan fosil hewan purba situs Buton tersebut. Survei terhadap temuan fosil hewan purba yang berumur jutaan tahun itu, makin memastikan keasliannya
"Kami melakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum meneliti. Kami ingin secepatnya untuk memastikan kondisinya seperti apa dahulu," kata Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta, Siswanto MA beberpa waktu lalu.
Temuan beberapa fosil di sekitar aliran sungai yang ada di Kecamatan Bumiayu dan Kecamatan Tonjong sudah dipastikan fosil dari hewan-hewan zaman dahulu dan telah berusia antarara 900 ribu tahun sampai 1,1 juta tahun. Fosil itu di antaranya fosil gajah, rusa, kura-kura darat dan jenis bovid atau beberapa spesies purba.
"Fosil-fosil ini tergolong plestosen tengah atau diperkirakan berumur lebih dari 900 ribu tahun lebih," ujar Siswanto.
Adanya temuan fosil-fosil itu menunjukkan di Bumiayu dan sekitarnya telah menjadi tempat kehidupan makhluk purba. Kondisi itu semakin jelas ketika adanya sumber-sumber kehidupan atau ketersediaan makanan dan kemungkinan juga adanya kehidupan di zaman purba.
"Saatnya nanti akan terbukti, tinggal waktunya saja kapan ada temuan lagi yang akan membuktikan adanya kehidupan purba di Bumiayu ini," ungkap Siswanto Siwanto yang melakukan survei bersama peneliti, Sofwan Noerwidi..
Adanya temuan-temuan fosil itu perlu dilakukan upaya untuk menjadikan sebagai monumental di Bumiayu. Balai arkeologi Yogyakarta juga akan melakukan langkah lebih lanjut, karenanya diharapkan jika ada temuan lebih lanjut segera dilaporkan dan lokasi penemuan tetap dijaga.
Sebenarnya keberadaan situs Buton dan penemuan fosil-fosil itu telah diketahui serta tercatat di beberapa literatur geologi. Pada tahun 1920-an juga telah ditemukan berbagai fosil vertebrata, antara lain berupa kura-kura raksasa dan gajah purba atau Stegedon yang ditemukan di endapan aliran sungai. Fosil-fasil temuan itu kini tersimpan di Museum Geologi Bandung.
Meski begitu hingga kini pemerintah kabupaten Brebes atau intansi terkait yang membidangi kepurbakalaan juga telah mengetahuinya, belum menunjukkan perhatiannya.
"Kami sduah beberapa kali menyampaikan, dan katanya mau diliat tetapi sampai saat ini belum pernah datang melihat," kata H Rizal Rafli.