Minggu, 13/03/2016, 05:45:42
Ikhlas
Oleh: Masliyani
--None--

Alasan mengapa saya mengambil tema “ikhlas”, karena saya penasaran tentang arti ikhlas yang sebenarnya, tempat ikhlas, bagaimana syarat ikhlas dan bagaimana jika dilihat dari segi agama, hadist dan hal-hal lain yang bersangkutan dengan ikhlas.

Dalam suatu kejadian, seperti biasa setiap hari Jum’at atau Sabtu, saya selalu mempunyai agenda untuk pulang ke rumah bertemu orang tua dan keluarga. Menggunakan bus yang tentunya sesuai dengan jurusan yang saya tuju. Dalam perjalanan yang cukup memakan waktu 11/2 jam, saya hanya diam termenung melihat pemandangan dari jendela bus. Banyak hal yang bisa dilihat dan diambil sebagai sebuah pelajaran berharga.

Saat itu, ada seorang ibu-ibu menggendong anaknya yang masih kecil dan 1 anaknya lagi yang berseragam TK, sambil membawa banyak belanjaan yang terlihat begitu sangat repot. Anak yang berseragam TK itu membawa sebuah raket biasa, bukan raket asli yang biasa dipakai atlet badminton. Ibu tersebut duduk tepat disamping saya, dan menyuruh anaknya yang berseragam TK itu untuk segera duduk.

Tapi anak tersebut tidak mau dan hanya berdiri sambil memegangi raketnya. Dengan nada yang keras, ibu tersebut berkata: “Cepetan duduk, ibu bilang duduk ya duduk, bandel amat gak nurut, udah dibeliin raket gak nurut, anak siapa sih, meniru siapa sih (sambil menyeret baju anaknya)”

Anak tersebut menangis dan mulai duduk di samping saya. Ibu tersebut terus mengulangi kata- kata itu sebanyak 3x dengan nada keras, padahal kondisi bus saat itu hening walaupun banyak penumpang, sehingga mungkin penumpang lain banyak yang mendengar termasuk saya yang duduk tepat disampingnya.

Saya mendengar ada penumpang lain berkata: “Sabar bu, masih kecil, belum ngerti, banyak di maklumin”. Kemudian ibu tersebut menjawab dengan nada masih sedikit keras: “Iya, cuma disuruh duduk aja bandel, anak siapa sih, tiru siapa sih”.

Terlepas dari kisah tersebut, saya sampai di rumah dan sedikit termenung dengan kejadian itu. Banyak hal yang ada di pikiran saya. Ya Allah, saya begitu merasa sangat kasihan kepada anak kecil itu. Saya mulai berfikir kenapa ibu tersebut begitu sangat marah, dan kenapa terlihat tidak ikhlas hanya sekedar membelikan raket biasa. Dan saya juga berfikir apakah ikhlas itu? Apakah untuk merasa ikhlas sangatlah susah? Apakah ikhlas itu hanya berhubungan dengan memberi dan menerima? Dan pikiran itu terhenti setelah saya merasa lelah berfikir, tanpa jawaban dan tidak ada yang menjawab.

Disini saya hanya ber-opini sesuai yang ada di pikiran saya dan harap maklum saya masih awam ilmu dan berfikir sangat dangkal. Menurut saya, untuk merasa ikhlas yang sebenarnya dan benar-benar ikhlas memang susah. Karena ilmu saya masih dangkal belum sampai di level update. Ikhlas untuk tidak mengeluh, tidak mengharapkan imbalan, tidak marah, tidak dendam bahkan ikhlas untuk tidak mengharapkan pujian.

Bukan berarti saya setuju dengan kisah ibu yang memarahi anaknya, tapi justru saya tidak setuju dengan sikap ibu tersebut. Seberapapun sulitnya untuk ikhlas, itu harus di coba untuk memulai ikhlas. Memulai dari hati. Hati yang terus dibina. Agar kita terjauh dari banyak penyakit hati. Karena kita tidak tahu sampai seberapa jauh atau dalamnya perasaan ikhlas itu.

Apalagi jaman sekarang banyak sekali orang yang gila akan pujian. Setelah memikirkan banyak hal tersebut, saya juga mulai meragukan tentang keikhlasan saya sendiri. Saya berfikir apakah yang saya lakukan selama ini hanya menghasilkan keringat dan pujian sesaat. Hanya sedikit orang yang bisa menjadikan pujian sebagai ujian dan cemoohan sebagai bahan pelajaran dan perbaikan diri, namun sayangnya saya belum sampai pada tahap itu.

Dalam hal lain, bahkan untuk kegiatan suci seperti umroh pun, banyak yang melakukan hanya untuk sekedar trend dan ingin dipuji. Begitu pula, banyak orang yang mengasihi para pengemis tapi tidak sedikit orang yang merasa terganggu dan menggerutu di hati dengan kehadiran para pengemis. Lalu, dimanakah ikhlas itu? Semoga kita bisa menjadi orang-orang yang ikhlas yang terjauhkan dari sifat riya.

Mohon dimaklumi isi dari opini yang saya buat. Harap bimbingannya agar saya mendapat sedikit pencerahan. Mohon maaf tidak bermaksud untuk menyindir atau menyinggung apapun. Ini adalah pure (asli) pengalaman saya sendiri dan pendapat saya. Jika banyak salah, dipersilahkan membenarkan. Ini adalah bentuk dari sebuah dedikasi untuk tugas agama.

(Masliyani adalah mahasiswa Politekhnik Harapan Bersama Kota Tegal, Semester 6 Ekstensi, Prodi Elektronika-TKJ, NIM: 1301E053)

Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita