Kamis, 30/10/2014, 04:13:56
Belajar Ikhlas Dari Para Donor Darah Sukarela
-Laporan SL Gaharu

Ilustrasi

PanturaNews (Semarang) - “Kulo belajar saking pendonor. Getih sing ra ono pabrike wae ikhlas. Ikhlas iku penting.” Sepenggal kalimat diatas yang dalam bahasa Indonesia berarti “Saya belajar dari para pendonor. Darah yang tidak ada pabriknya saja bisa diberikan dengan ikhlas, karena ikhlas itu penting”.

Demikian ungkapan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dalam bahasa Jawa saat memberikan sambutan dalam penyerahan penghargaan dan temu Donor Darah Sukarela (DDS) di Gradhika Bakti Praja, komplek Gubernuran Semarang, Kamis 30 Oktober 2014.

Ganjar Pranowo mengapresiasi acara yang diselenggarakan secara rutin oleh PMI Provinsi Jawa Tengah, dengan menghadirkan sebanyak 782 orang dari kabupaten-kota Se Jawa Tengah untuk diberikan penghargaan DDS. Ia mengatakan hal ini sangat luar biasa sebab darah itu pabriknya hanya ada di setiap tubuh manusia.

"Setetes darah itu sangat bermanfaat bagi yang membutuhkan, jadi catatan pendonor tidak hanya di PMI tapi juga di surga," tuturnya seraya di amini seluruh yang hadir.

Yang unik, selama berpidato, Ganjar menggunakan bahasa Jawa lisan sehari-hari. Sesuai dengan Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah Nomor 430/9525 tertanggal 7 Oktober 2014 tentang Penggunaan Bahasa Jawa untuk komunikasi lisan di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah.

“Hal ini agar bisa memberikan contoh untuk para PNS ataupun tamu yang hadir dalam menerapkan Kamis berbahasa Jawa. Penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa lisan setiap Kamis memang sudah menjadi aturan,” jelasnya sekaligus sosialisasi.

Penerima penghargaan DDS ke 50 kali sejumlah 581 orang dan ke 75 kali sejumlah 201 orang. Donor darah sukarela merupakan relawan yang dengan tulus dan ikhlas menyumbangkan darah demi jiwa orang lain, tanpa melihat suku, agama, ras, etnis dan perbedaan lain.

Ketua PMI Jawa Tengah, Sasongko Tedjo mengatakan bahwa PMI mengemban tugas dari pemerintah untuk menyelenggarakan program Upaya Kesehatan Tranfusi Darah sejak 1950. “Penghargaan sebagai pahlawan kemanusiaan sudah sepantasnya diberikan kepada para DDS yang telah menyumbangkan darahnya dengann tanpa pamrih,” ujar Sasongko.

Donor darah merupakan suatu investasi kehidupan, karena setetes darah bisa menyelamatkan jiwa manusia. Data di PMI Jateng, hingga triwulan III tahun 2014 ini sebanyak 233.888 kantong darah. Jumlah DDS tahun ini mencapai 98% (228.982 kantong darah), sedangkan donor darah pengganti hanya 2% (4.906 kantong darah).

Dari sisi kelompok umur terbanyak dari usia 17-30 tahun sejumlah 44%. Dari sisi gender, pria sejumlah 74% dan wanita 26%. Dari sisi pekerjaan, PNS/Swasta sejumlah 34%, sedangkan mahasiswa/pelajar sejumlah 31%. “Donor darah harus dijadikan gaya hidup,” pesannya.

Selain itu, sebanyak 100 orang pendonor darah 100 kali akan menerima penyematan Satya Lencana Kebaktian Sosial oleh Presiden RI. “Sebanyak 100 orang DDS yang sudah 100 kali menyumbangkan darah akan diberangkatkan ke Jakarta untuk bertemu Presiden Republik Indonesia, yang rencana pada bulan Desember mendatang,” ungkap Sasongko.

Bersamaan acara pemberian penghargaan untuk DDS, diserahkan pula penghargaan untuk PMR (Palang Merah Remaja) Teladan tingkat Jawa Tengah tahun 2014 berupa piala, piagam dan uang pembinaan.

Tiga peringkat atas tingkat PMR Madya yaitu PMR Unit SMPN 40 Semarang, PMR Unit SMPN 1 Tawangmangu-Karanganyar dan PMR Unit SMPN 2 Demak. Sedangkan untuk tiga peringkat atas tingkat PMR Wira yaitu PMR Unit SMAN 1 Mojogedang-Karanganyar, PMR Unit SMAN 1 Gombong-Kebumen dan PMR Unit SMKN 1 Slawi-Kabupaten Tegal. (M. Nashir Jamaludin - PMI Provinsi Jawa Tengah)


 
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita