Hasan Supriyadi, saat menyampaiakan keluhan terkait kwalitas gabah yang rendah, dalam dialog dan tatap muka dengan Kepala Bulog Sub Divre Pekalongan dan perwakilan Bulog Jawa Tengah di halaman gudang Bulog, Munjung Agung, Kramat, Kabupaten Tegal, Selasa 23 Maret 2010. (FT: Riyanto Jayeng)
PanturaNews (Slawi) - Dua perwakilan petani yang juga rekanan Bulog dari Pemalang dan Kabupaten Tegal, Jawa Tengah mengeluhkan sikap Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang dinilai kurang memberikan pembinaan terhadap petani di wilayahnya. Akibatnya, kwalitas gabah yang dihasilkan setelah digiling menjadi rendah.
Demikian dikatakan salah seorang rekanan bulog dari Kabupaten Pemalang, Sugiyanto, dalam dialog dan tatap muka dengan Kepala Bulog Sub Divre Pekalongan dan perwakilan Bulog Jawa Tengah di halaman gudang Bulog, Munjung Agung, Kramat, Kabupaten Tegal, Selasa 23 Maret 2010.
Menurut Sugiyanto, akibat kurangnya pembinaan, rata-rata petani kurang memahami dalam pola penanaman dan pemupukan yang berakibat fatal pada kwalitas gabah pasca giling menjadi rendah.
“Saat belum dipanen, gabah nampak bagus, keluarnya juga bagus dengan angka panen standar yakni 1 hektar menghasilkan 7 ton. Namun usai gabah itu digiling, menghasilkan boken (beras patahan) hingga 35 sampai 40 persen tiap satu kwintalnya. Hal ini karena pengaruh pemupukan dan tindakan terhadap tanaman yang terlalu over,” tutur Sugiyanto.
Sugiyanto menambahkan, akibat rendahnya kwalitas gabah tersebut menyebabkan harga gabah menurun drastis dibawah HPP. Sementara harga HPP Rp 2.600 per Kg, sedangkan harga gabah di Kabupaten Pemalang hanya Rp 2.300 per Kg. Berbeda dengan harga gabah di wilayah Indramayu, Jawa Barat mencapai Rp 2.700 per Kg.
Hal senada disampaikan perwakilan petani dari Kabupaten Tegal, Hasan Supriyadi. Dia mengaku mengalami peramasalahn tidak jauh berbeda dengan petani di Kabupaten Pemalang. Menurutnya, dari total hasil panen padi di Kabupaten Tegal, menghasilkan 70 persen menir dan 30 persen beras.
“Selain karena kurang pahamnya petani dalam perlakuan terhadap tanaman, merosotnya kwalitas gabah juga disebabkan cuaca yang kurang kondusif. Akhir-akhir ini cuaca yang sedang mengalami badai matahari, menyebabkan tanaman menjadi rusak. Banyak hal yang harus dibenahi oleh pemerintah terkait sistim penanaman tanaman pangan di cuaca seperti ini,” ujar Hasan.
Hasan menambahakan, kesimpulannya, baik di kabupaten Pemalang maupun kabupaten Tegal, petani membutuhkan peran serta pemerintah lebih intensif dalam menangani proses penanamana, khususnya bidang tanaman pangan.
“Jika kondisi terus seperti ini dengan sistim pola tanam dan pemupukan tetap seperti saat ini maka mustahil produksi beras dapat memenuhi target nasional yakni sebesar 3,2 juta ton per tahun dengan kwalitas gabah yang bagus,” katanya.