Sebelum diprotes warga, pengajian jamaah Salafi menempati masjid ini setiap malam Minggu (Foto: Jayeng)
PanturaNews (Tegal) - Majelis pengajian Salafi di kediaman Syamsuri (76) Jalan Wates Nomor 32, RT 2 RW 1 Kelurahan Debong Kidul, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal, Jawa Tengah, dipaksa bubar oleh warga setempat, Sabtu 21 Juni 2014 pukul 21:30 WIB. Tidak ada tindak anarkis dalam peristiwa pembubaran paksa itu, sekitar 12 orang anggota jamaah Salafi itu akhirnya menuruti kehendak warga.
Warga setempat, Rambat, mengatakan pada dasarnya warga yang mayoritas muslim golongan Nahdliyin itu, merasa terusik dengan keberadaan kelompok Salafi di wilayah mereka. Pasalnya, warga yang menjadi anggota jamaah Salafi, yaitu Syamsuri dengan anaknya, Syafrudin (40), dituding kerap mengajak warga lainnya untuk ikut bergabung dengan doktrin aneh yang bertentangan dengan ajaran muslim setempat.
“Kelompok itu bagi kami aneh saja, karena menganggap kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan warga disini, seperti Isro Mi’roj, Maulud Nabi Muhammad, Manakiban dan lain-lain sebagai tindakan bid’ah. Saya juga pernah diajak masuk ke kelompok Salafi oleh Pak Syamsuri, tapi saya menolak sebab bagi saya, ajaran Salafi itu tidak lazim seperti ajaran Islam pada umumnya,” kata Rambat.
Sementara, Syamsuri saat diwawancari membenarkan, bahwa ajaran Salafi yang disyiarkan melalui majelis pengajian di rumahnya itu, berbeda dengan ajaran islam yang dianut dengan masyarakat setempat.
“Kami di kelompok Salafi tidak mengakui Isro Mi’roj, Maulud Nabi Muhammad, Manakiban, karena hal itu dinilai menyimpang dari ajaran rasulullah. Kami ingin menyampaikan syiar ajaran Islam yang sesuai tuntunan rasulullah,” katanya.
Lebih jauh Syamsuri mengatakan, dirinya tidak pernah melakukan pemaksaan terhadap warga agar masuk menjadi anggota kelompok Salafi. Kegiatan pengajian Salafi yang digelar rutin sebulan sekali, juga tidak pernah menyakiti atau mencederai kelompok manapun.
“Kami kan juga punya hak yang sama dengan kelompok lain yang berbeda dengan ajaran Salafi. Kami tidak membuat onar maupun pelecehan agama. Kami muslim, menyembah Allah dan mengakui Muhammad sebagai rasul terakhir. Kami hanya tidak sependapat dengan kegiatan-kegiatan berkedok agama yang menyimpang dari ajaran rasul Muhammad,” kata Syamsuri.
Hal senada disampaikan anak lelakinya, Syafrudin (40) yang mengatakan, pengajian Salafi yang dijalankannya hampir setahun itu, tidak menebarkan kebencian kepada siapapun.
“Sebagai sesama muslim, kami sifatnya hanya mengingatkan bahwa kegiatan-kegiatan Maulud Nabi Muhammad, Isro Mi’roj dan manakiban yang kerap dilakukan oleh warga itu tidak benar, karena hal itu tidak diajarkan oleh Rasulullah Muhammad. Kitab yang kami ajarkan juga kitab Riyadusholihin,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Babinsa TNI dari Koramil Tegal Selatan, Sertu Darsim yang didampingi oleh anggota Polsek Tegal Selatan, Bripda Jumat, mengatakan pada prinsipnya warga dipersilakan berkegiatan apa saja, namun harus tetap dapat menjamin iklim kondusif.
“Sebentar lagi ada Pilpres, kami tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang berakibat susana tidak kondusif. Kami mohon pengertian untuk menghentikan sementara majelis pengajian Salafi, karena dapat memicu kemarahan warga mayoritas yang berbeda pandangan dan ajaran tertentu di dalam agama Islam,” tegasnya.