Senin, 16/03/2020, 11:10:00
Fikri: Selain Skills, Ide Kreativitas Jadi Barang yang Sangat Mahal
LAPORAN SL. GAHARU

Abdul Fikri Faqih (kiri) dalam sesi podcast yang diselenggarakan Humas Kabupaten Tegal di Trasa Coworking Space. (Foto: Dokumen/Ali Irfan)

PanturaNews (Tegal) - Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, punya begitu banyak potensi, termasuk dari ide dan gagasan. Banyak benih kreativitas lahir di Tegal. Di era internet saat ini, selain skills, ide kreativitas menjadi barang yang sangat mahal.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Komisi X DPR RI, DR. H. Abdul Fikri Faqih, MM dalam sesi podcast yang diselenggarakan Humas Kabupaten Tegal, Jawa Tengah di Trasa Coworking Space, kemarin.

Fikri Faqih mencontohkan, di Balapulang ada anak muda kreatif yang bisa memindahkan foto dalam desain kayu. Di Karanganyar juga ada pengrajin kacamata kayu.

"Itu baru dari satu sisi subsektor ekonomi kreatif. Di era internet saat ini, selain skills, ide kreativitas menjadi barang yang sangat mahal. Sudah saatnya Kabupaten Tegal bangkit dengan melibatkan anak muda," ungkapnya.

Fikri menjelaskan, di dunia olahraga banyak anak muda Tegal berprestasi sebut saja Banyu Tri Mulyo (atlet tenis meja), Irkham Zahrul Mila (atlet sepakbola). "Dalam dunia seni dan perfilman, Tegal pun dipandang sangat potensial. Banyak sineas lahir di Tegal," kata Fikri.

Acara yang dipandu Joko Prabowo itu, lebih banyak menyoroti peran generasi muda. Ia menyebutkan demografi penduduk Kabupaten Tegal 50,6 persennya, adalah anak muda yang usianya dibawah 30 tahun. Mampukah anak muda membaca peluang itu.

“Saya yakin bisa. Anak muda perlu didorong rasa percaya dirinya."Tidak perlu minder. Sudah saatnya semua potensi kecerdasan dibangun, kreativitas terus diasah," jelas Fikri.

Fikri justru mempertanyakan kenapa acara Internasional Tea Festival tempatnya justru di Bandung, bukan di Tegal. Padahal, menurut Fikri, secara potensi Tegal dikenal sebagai kota penghasil teh, pabrik teh juga banyak berdiri di Tegal.

"Saya kira ini masalah kreativitas dan kejelian menangkap peluang," ujarnya.

Di sektor pendidikan, para penyelenggara pendidikan terutama vokasi seperti SMK maupun politeknik seharusnya bisa bersinergi dengan dunia industri atau dunia usaha. "Di Jerman jumlah pengangguran dari pendidikan vokasi adalah 0%, karena yang membuka pendidikan vokasi adalah perusahaan. Jika ingin belajar dari sana, pastikan jurusan atau prodi yang dibuka memang benar-benar dibutuhkan di dunia kerja.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita